Cerita Sex di kampus Kepergok Mesum

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Sex Persembahan sukaporno. saat ini Team Cerita sex ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Sex di kampus Kepergok Mesum. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Sex di kampus Kepergok Mesum

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Sex di kampus Kepergok Mesum

Kira kira awan sudah petang aku masuk ke kampus, terlihat hanya ada beberapa motor yang parkir di tempat aku parkir, langsung aku memakirkan motorku dan berjalan ke arah sana, saat aku berjalan ku telusuri beberapa lorong yang mana sudah redup suasananya memang agak menakutkan karena rumornya ada hantu yang menunggu di gedung tersebut.

Lantai satu aku lalui dengan hati berdetak dan lantai 2 juga sampai ke lantai 3 aku sampai ke madding dan melihat hasil nilaiku, hanya aku sendiri di ruangan ini saat aku menamati nilaiku aku mendengar suara yang berjalan menuju ke arahku , seketika bulukuduku merinding membayangkan apa hantu itu yang menakut nakutiku, aku merasa takut sekali tapi tak menggubris dan tak merasa mengganggu dia, semakin dekat suara kaki itu berjalan dan saat aku menoleh kebelakang rupanya gadis yang cantik.

Aku pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas denganku dalam salah satu mata kuliah, namanya Jeny, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang dan mulus, buah dadanya pun membusung indah, kuperkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan rambut panjang kemerahan yang dikuncir ke belakang dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus.

“Hai.. sore, mau lihat nilai ya?” tanyaku berbasa-basi.

”Iya, kamu juga ya?” jawabnya dengan tersenyum manis.

Akulalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.

”Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? aku mau catat jadwal nih,” tanyanya.

”Ooo, boleh, boleh aku juga udah selesai kok,” aku lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoinku.

”Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?” tanyaku.

”Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?”

”Sama nih, aku juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalanlah.”

Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotorku terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang.

Aku mulai merasakan senjataku menggeliat dan mengeras. Kupandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajahku makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambutku sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tanganku pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping.

Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairahku untuk berbuat lebih jauh, tanganku kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemejaku satu persatu. Tiba-tiba aku sadar sedang di tempat yang salah, segera kulepas ciumanku.

“Jangan di sini, aku tau tempat aman, ayo ikut aku!”Kuajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci.

Kubuka pintu dan kutekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.

Segera setelah tombol kunci kutekan, kudekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah kulepas tank top dan branya, kulihat tubuh putih mulus dengan toket kencang dan putingnya yang kemerahan.

Saat itu aku dan dia sudah topless tinggal memakai celana panjang saja. Kuarahkan mulutku ke dada kanannya sementara tanganku melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Kurasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan.

Puting yang sudah menegang itu kusapu dengan permukaan kasar lidahku hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis kurenggangkan bibir kemaluannya dan jari tengahku kumainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambutku.

Akhirnya dengan perlahan-lahan kuturunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Kubuka resleting celanaku lalu kuturunkan CD-ku sehingga menyembullah senjata yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing senjataku memasuki liang memeknya, setelah masuk sebagian kusentakkan badanku ke depan sehingga dia menjerit kecil.

Aku mulai menggerakkan badanku maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tanganku sibuk meremas-remas toket montoknya, dan lidahku menjilati leher dan telinganya. Aku terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badanku, hingga akhirnya aku merasakan tangannya yang melingkari leherku makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang.

Saat itu gerakanku makin kupercepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu kurasakan pula cairan hangat menyelubungi senjataku dan spermaku mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.

Tiba-tiba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Harno, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah.

Kami kaget karena kehadirannya, aku segera menaikkan celanaku yang sudah merosot, Jeny berlindung di belakang badanku untuk menutupi tubuh telanjangnya.

“Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasik ria!” katanya sambil berkacak pinggang.

”Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini,” kataku terbata-bata.

”Hmm.. baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal..”

”Asal apa Pak?”tanyaku.Orangtua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.

”asal saya boleh ikut merasakan si Mak ini, he.. he.. he..!” katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.”Jangan, Pak, jangan!”

Dengan wajah pucat Jeny berjalan mundur sambil menutupi dada dan kemaluannya untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Harno untuk mendekap tubuh Jeny. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Jeny dan mengangkatnya ke atas.

“Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau.. eemmhh..!” belum sempat Jeny melanjutkan perkataannya, Pak Harno sudah melumat bibirnya dengan ganas.

Sekarang Jeny sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Harno sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke toket kanan Jeny lalu meremas-remasnya dengan gemas.

Entah mengapa daritadi aku hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontas nampaknya Jeny yang berparas cantik itu sedang digerayangi oleh Pak Harno yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata,

“Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula.”

Ciuman Pak Harno pada bibir Jeny kini mulai merambat turun ke lehernya, dijilatinya leher jenjang Jeny kemudian dia mulai menciumi toket Jeny sambil tangannya mengobok-obok liang memek Jeny. Diperlakukan seperti itu Jeny sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah,

“Pak.. aakhh.. jangan.. eemmhh.. sudah Pak!” Setelah puas “menyusu” Pak Harno mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Jeny dengan jilatan dan ciumannya.

Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Harno mengaitkan kaki kanan Jeny di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium kemaluan yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya.

Sementara Pak Harno mengerjai bagian bawah, aku melumat bibirnya dan meremas buah dadanya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu kupencet dan kupuntir.

Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada toket kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Harno. Tak lama kemudian kurasakan dia mencengkram lenganku dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam.

Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Harno dan kulihat Pak Harno juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari liang senggamanya sehingga membuat tubuh Jeny menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciumanku.

Sekarang aku membuat posisi Jeny menungging di matras yang kugelar di lantai. Kesetubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan toketnya. Pak Harno melepaskan pakaiannya hingga bugil, kemudian dia berlutut di depan wajah Jeny.

Tanpa diperintah Jeny segera meraih kontol yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Harno mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Jeny, dia menjejali kontol itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Jeny.

Jeny pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Harno mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Jeny yang ingin mengeluarkan kontolnya dari mulutnya, sementara aku makin mempercepat goyanganku dari belakang.

Tubuh Jeny mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokanku dan juga karena Pak Harno yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Jeny, sangat banyak sperma Pak Harno yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Jeny tersumbat oleh kontol Pak Harno yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar,

“Emmpphh.. mm.. hmmpphh..” tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.

Kemudian Pak Harno melepas kontolnya dari mulut Jeny, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Jeny memasukkan kontol yang berdiri kokoh itu ke dalam memeknya.

Sesuai perintah Pak Harno, dia menduduki dan memasukkan kontol Pak Harno, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena kontol Pak Harno yang besar tidak mudah memasuki liang memeknya yang masih sempit, Pak Harno meremas-remas susu Jeny yang sedang bergoyang di atas kontolnya itu.

Aku lalu memintanya untuk membersihkan barangku yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika kontolku sedang dijilati dan dikulum olehnya, kutarik ikat rambutnya hingga rambutnya tergerai bebas.

“Wah cantik banget si Mbak ini, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini,” kata Pak Harno memuji Jeny. “Dasar muka nanas, kalo dia pacar aku udah aku hajar lo dari tadi!” gerutuku dalam hati.

Setelah kontolku dibersihkan Jeny, kuatur posisinya tengkurap di atas Pak Harno, dan kumasukkan kontolku ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika aku berhasil menancapkan kontolku di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara kontol Pak Harno di memeknya dan kontolku di anusnya.

Aku menghujam-hujamkan kontolku dengan ganas sambil meremas-remas toket dan pantatnya juga sesekali kujilati lehernya. Sementara Pak Harno juga aktif memainkan toket yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu.

Tak lama kemudian Jeny menjerit keras, “Akkhh..!” tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Harno dengan kuluman di bibirnya. Aku dan Pak Harno melepas kontol kami dan berdiri di depan Jeny secara bergantian dia mengulum dan mengocok kontol kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya.

Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Jeny, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali.

Kami membuat kesepakatan dengan Pak Harno untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Harno pun menyetujuinya dengan syarat Jeny mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga.

Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukakan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.

bandar sakong   bandar kiu kiu