Cerita Porno Pelarian Demi Sebuah Kepuasan

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Pelarian Demi Sebuah Kepuasan. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno Pelarian Demi Sebuah Kepuasan

Hyper Sex adalah sebutan yang cocok buwatku, karena aku selalu meminta lebih dengan pacar-pacarku dulu. setiap kali aku berhubungan Sex degan pacarku, aku gak mau jika hanya bermain sekali, minmal aku minta maen sampai 5-6 kali baru aku bisa merasakan kepuasan yang sangat nyata. Kalau pacarku tidak kuat mengatasi birahi Sex ku yang tinggi, aku mencari lagi cowok yang dapat membuatku mencapai kepuasan. Sampai akhirnya pacar-pacarku tidak ada yang bisa memuaskan nafsu Sex ku akhirnya aku mensiasati dengan menikah dengan dua laki-laki agar nafsu Sex ku yang liar bisa terpuaskan.

Mas Ridwan adalah suamiku yang pertama, orangnya sangat penyabar sekali jadi dia tidak mempermasalahkan aku memiliki suami lagi karena dia juga tau kalau aku hyper Sex. Dan bahkan mas Ridwan juga pernah melihatku disetubuhi oleh mas eros suamiku yang kedua didepan matanya. Namun mas Ridwan diam saja, karena dia tak mampu memuaskan aku. Begitu halnya dengan mas eros, suamiku yang kedua, sifatnya sama persis dengan mas Ridwan, hampir gak ada bedanya.

Dari segi hubungan Sex mereka berdua sama saja, jadi aku baru bisa merasa puas jika aku disetubuhi oleh kedua suamiku bergantian. Namun hal itu jarang pernah terjadi karena kesibukan kedua suamiku yang sering keluar kota secara bergantian. Jadi gak pernah dua suamiku dirumah secara bersamaan.

Suatu hari aku diajak oleh mas Ridwan ke tempat kerjanya karena ada acara kantor. Aku yang tak pernah ikut mas Ridwan kemana-mana pun sekejap merasa canggung, namun mas Ridwan menyaknkanku dengan memuji kecantikanku malam itu dan membuatku PEDE dan akhirnya aku mau diajak ke tempat mas Ridwan bekerja. Sesampainya disana, suasananya sangat ramai sekali, mas Ridwan yang bertemu dengan teman-temannya pun meninggalkanku.

Aku yang merasa bingung mau ngapain lalu menolah-noleh dan akhirnya aku melihat bu Retno dan aku langsung nyamperin bu Retno di tempatnya berdiri. Bu Retno ini adalah istri dari jhoni teman kantor mas Ridwan. Dan “Eeeehh…Bu Retno, sendirian ya??” tanyaku membuka percakapan. “Eeehh..mbak Rien, enggak kok, sama papahnya, tuuh disana” jawabnya. “Waah sama donk bu, aku juga ditinggal sama papahnya disana” jawabku sambil menunjuk arah mas Ridwan.

“Mbak Rien tambah seksi ajah yaaah” ucap bu Retno.

“Aaaahhh enggak buk, biasa aja kok buk, dari dulu badanku segini-segini aja kok, gak pernah berubah” jawabku.

“Aaaahhh tapi mbak Rien seksi banget kok, aku iri liat penampilan mbak Rien” kata bu Retno.

“Bu Retno bisa aja” jawabku.

“Apa siih rahasianya biar bisa awet seksi gitu mbak??” tanya bu Retno.

“Minum Air liur burung” bisikku sambil mendekat ke telinganya.

“ Burung apa Mbak” kejarnya penasaran.

“Burung.. Burungnya Mas Ridwan” bisikku kubuat serius.

“AH! Mbak guyon!” jawab bu Retno.

“Betul jeng, ini betul lho jeng” jawabku.

“Itukan biasa Mbak” kata bu Retno.

“Biasa gimana, kalau sekedar ML terus selesai ya biasa jeng tapi ada caranya ” jelasku.

“Jeng Retno ML dengan Dik Jhony berapa kali seminggu?” lanjutku.

“Paling sekali ya kadang dua kali Mbak ” jawabnya.

“Kalau ML apa saja yang jeng Retno lakukan ?” tanyaku lagi.

“Ya biasa Mbak bercumbu terus gitulah..! Terus selesai ya sudah begitu aja ” jawabnya.

“ Lho ya sudah gimana to jeng, mestinya kan ada pemanasan, permainan terus pendinginan dan apakah jeng Retno selalu dapat mencapai puncak ?”

“Itulah Mbak masalahnya, saya sering ditinggal menggantung ” jawabnya sambil menerawang.

“ Terus” tanyaku.

“Ya kalau sudah begitu paling saya yang uring-uringan dan biasanya cuma bisa melampiaskan ke pekerjaan rumah Mbak ” terusnya.

“Nah itulah jeng bedanya, Mbak dengan Mas Ridwan selalu mencapai puncak bahkan berkali-kali lho ” jawabku. Kulihat wajahnya nampak takjub dan kelihatan rasa ingin taunya yang terpancar dari matanya.

“Jeng ML itu kalau dilakukan dengan benar dan senang hati bisa membuat kita awet muda, karena kerja hormon-hormon dalam tubuh kita jadi optimal ” lanjutku menjelaskan bak seaorang dokter.

“Oooh itu to Mbak rahasianya.. !” celetuknya.

“Makanya saya bilang, meskipun Mbak kasih tau kan jeng Retno belum tentu bisa.. Bahkan..” jelasku sengaja memancing reaksinya.

“Bahkan apa Mbak.?” Tanyanya nggak sabar.

“Bahkan kalau jeng Retno Mbak suruh belajar sama Mas Ridwan juga belum tentu mau” lanjutku sambil berbisik.

“Ahh Mbak” jawabnya sambil mencubit lenganku.

Cerita kami berakhir dengan berakhirnya acara arisan, sebelum pergi Retno sempat berbisik sewaktu-waktu mau konsultasi kujawab ya kapan saja. Bahkan kubisiki nanti belajar langsung aja ama Mas Ridwan. Seminggu setelah itu ketika itu jam 7 malam, Eros baru datang dari Jakarta sedang aku lagi ada tamu jepang jadi aku bermaksud memberi blowjob Eros sedang Mas Ridwan masih malas-malasan didekat kami berdua, tiba-tiba telepon berdering, karena aku dan Eros sudah hampir telanjang maka Mas Ridwan yang mengangkat telepon.

“Halo selamat malam” salam Mas Ridwan, aku nggak tahu apa jawaban disebelah sana.

“Ya benar, mau bicara dengan Mbak Rien..? Sebentar ya, dari siapa? Retno! Oh jeng Retno, Retno Jhony ?” tanya Mas Ridwan.

Mendengar itu aku bangkit, Eros terpaksa melepaskan dekapannya padaku. Sebenarnya skenario ini aku yang buat, karena aku ingin Retno dapat main kerumah sehingga kuminta Mas Ridwan menugaskan Jhony keluar kota untuk supervisi selama 3 hari.

“Halo jeng Retno kok tumben nelpon malam-malam ” sapaku memulai percakapan. Kami ngomong panjang lebar sampai akhirnya menyinggung pembicaraan kami di arisan dulu. Kuulangi tawaranku untuk belajar pemanasan dengan Mas Ridwan, atau melihat saja kami yang mempraktekkannya berdua.

Retno penasaran masa aku dan Mas Ridwan mau bercinta dilihat orang lain, kujawab bahwa aku hanya bisa kalau orangnya itu Retno, lain tidak lagian cuma sebatas cara- cara pemanasan. Retno rupanya mulai panas akhirnya kuulangi lagi tawaranku dan jawabannya.

“Iya Mbak BT nih anak-anak sudah pada tidur, Mas Jhony dinas luar ” jawabnya.

“Ya sudah to main aja ke rumah, kami semua sedang nggak ada kegiatan kok lagian masih sore ” jawabku.

“Tapi Mbak,” “Apa?” “Aku malu sama Mas Ridwan, ..” jawabnya.

“ Nggak papa kami cuma berdua kok, jangan kuatir nanti pulangnya kami antar” jawabku.

“ Baiklah Mbak tapi janji lho.. nggak usah dipraktekin sama aku.. ” pintanya mengakhiri pembicaraan.

Setelah itu kami tutup pembicaraan, rumah Retno kira-kira 15 menit dengan naik kendaraan. Kuminta Eros bersabar dan sembunyi di kamar sementara aku dan Mas Ridwan yang akan menerima Retno. Rencana ini pernah kuutarakan sebelumnya sama suami-suamiku.

Kira-kira 25 menit kami menunggu ada orang memencet bel pintu pagar, Mas Ridwan yang saat itu cuma pakai piyama tanpa dalaman yang membukakan pintu.

“Malam Mbak,” sapa Retno begitu masuk pintu rumah diiringi Mas Ridwan. Retno pakai baju agak ketat sehingga dadanya yang membusung kelihatan samar tapi saya yakin laki-laki manapun akan penasaran ingin tahu isinya, apalagi dengan kancing depan dan belahan dada yang agak kebawah sedang bawahan ia pakai celana jean tampak seksi sekali bokongnya.

“Malam, wah.. Jeng Retno nggak nyangka lho kalau bisa main kerumah nggak kesasarkan ?” tanyaku. Setelah menyilahkan Retno duduk kami ngobrol ngalor-ngidul sampai juga akhirnya menyinggung masalah ranjang, Mas Ridwan dapat melihat air muka Retno yang jengah tahu kalau ia juga mulai terpancing birahinya. Karena omongan kami yang merangsang saraf telinga Retno dan kami tetap tidak mengatakannya secara vulgar, tanpa terasa jam menunjukkan angka 9 malam, Retno gelisah.

“Mbak sudah malam nih Retno mau mohon pamit ” pintanya tapi matanya nampak sayu.

“Jangan dulu katanya pingin belajar rahasianya Mbak ” jawabku sambil memandang Mas Ridwan penuh arti.

“Ah Mbak.. Malu ah sama Mas Ridwan ”. Aku mendekati Mas Ridwan dan kucium dia dibibirnya denga mesra dan lembut.

“Nggak papa kan Mas?” pintaku Mas Ridwan menganggangguk sambil memelukku, kami berciuman, dan saling raba di depan Retno, sementara Retno kulihat merah padam mukanya melihat adegan kami, meskipun demikian aku melakukannya dengan halus dan hati-hati sekali.

“Beginilah kami melakukannya jeng, ” kataku menjelaskan seperti dosen aja.

“Ah.. Mbak, Retno jadi bingung nih.., Retno pulang aja ya Mbak ” pintanya tapi nggak beranjak.

“Ayolah.. nggak papa” kami berpelukan mendekati Retno yang mulai kayak cacing kepanasan. Mas Ridwan tahu keadaan segera mendekat sehingga duduk berdampingan di sofa panjang yang diduduki Retno, terus dipegangnya kedua tangan Retno, Retno menunduk malu-malu.

“Mbak.. Tapi cuma sebatas cara pemanasan aja lho Mbak ” pintanya sambil memandangku.

“Ya, Mas cuma akan memperlihatkan cara pemanasan saja sama jeng Retno ” jawab Mas Ridwan sabar.

Perlahan disentuhnya dagu Retno dipandangnya matanya dalam-dalam penuh perasaan, mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Ridwan Retno memejamkan mata, perlahan Mas Ridwan mencium bibirnya tanpa melumatnya.

Ahh! Retno mendesah, diulanginya ciuaman itu oleh Mas Ridwan dengan menempelkan bibirnya agak lama, Retno mulai bereaksi dengan mengulum bibir Mas Ridwan dan Mas Ridwan mulai meningkatkan aksinya, tangannya berpindah ke bawah ketiak Retno dan menarik badan Retno kepelukannya.

Semua ini dilakukan di sofa ruang tamu, sambil duduk bedempetan. Mas Ridwan mulai meraba dada Retno yang membusung, dan Retno mulai mendesah-desah mereka masih berciuman saling lumat dan saling hisap. Setelah hampir sepuluh menit mereka saling raba Mas Ridwan meningkatkan aksinya dari meraba bagian luar terus melepas kancing atas baju Retno jari-jari tangannya mulai menyisir pinggiran BHnya menuju ketengah.

Retno melenguh seperti sapi disembelih begitu tangan Mas Ridwan mancapai putingnya dan menjepinya dengan dua jari. Sementara itu mulut Mas Ridwan mulai merambat ke bawah ke arah belahan dadanya yang sekal. Tanpa disadari Retno tangan kanan Mas Ridwan telah menyelinap ke punggung Retno dan melepaskan kait BH Retno maka tampaklah buah dada Retno yang kencang dan menantang, tanpa membuang kesempatan langsung Mas Ridwan melumat putingnya.

Retno mulai tak dapat mengendalikan diri, dia lupa dengan janjinya sendiri, tangannya secara reflek menggerayang bagian depan Mas Ridwan dan mulai melakukan pijatan-pijatan halus mulai dada, pusar dan terus ke bawah pusar. Tanpa menolak Mas Ridwan malah memberi kesempatan pada Retno menyorongkan badannya, sambil mulutnya tetap bergelayut di puting Retno, tapi tanggannya sudah mulai menarik resleting celana jeannya.

Retno tak henti-henti mendesah, perlahan aku ke saklar lampu kukecilkan sehingga suasana tampak redup dan makin romantis. Retno sudah meluruskan kakinya di sofa sambil kepalanya bersandar di tanganan sofa, sementara tinggal mengenakan CD warna merah, Mas Ridwan belum melepaskan piayamanya dengan posisi diatas Retno tapi batangnya sudah nampak mengacung karena diurut-urut Retno.

Perlahan Mas Ridwan menggigit pinggiran CD Retno dan menariknya kebawah sehingga bugil Retno masih tenang mungkin karena melihat Mas Ridwan tidak melepaskan piyamanya. Mas Ridwan mulai mejilati perut Retno turun ke arah pusar terus menciuminya dan meleletkan lidahnya kebawah mencium rambut kemaluan Retno, diperlakukan begitu Retno meracau tak karuan.

“Aduh Mas.. Mbak Retno nggak tahan.. oh Mas Ridwan ” Aku memberi kode pada Eros, saat itu Mas Ridwan telah membenamkan mukanya di selangkangan Retno, menjilati klitoris Retno, Retno dengan posisi membuka kedua pahanya pinggulnya terganjal pegangan kursi sehingga sekarang kepalanya berada dibawah.

Dengan posisi ini maka nampaklah gundukan bukit venus yang indah dan merekah merah sehingga memudahkan untuk penetrasi. Perlahan Mas Ridwan mundur dan Eros yang telah telanjang bulat maju dengan palkon siap serbu, Retno masih tenggelam dalam kenikmatan yang didapatnya hampir satu jam dicumbu Mas Ridwan, tidak menyangka bahwa ada pergantian posisi dibawah.

Eros langsung mengenggam palkonnya dan mengarahkan ke lubang surga Retno, dengan presisi Eros menghentak dan bles..! “Ahh Mas aku nggak mau.. nggak mau ” sambil meronta tapi secepat kilat aku membelai dan mengulum putingnya, sedang Eros langsung mengunci kaki Retno maka Retno hanya bisa mendesis dan mau berontak tapi karena serangan rasa nikmat yang luar biasa ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ahh Mbak.. Mas.. Kalian curang aduhh.. Oh.. Kenapa ini ohh.. Ohh.. Mbak aku nggak tahan.. Nggak ta.. Hhaan.. ”jerit Retno sambil mengejang nafasnya memburu seluruh otot-otot badanya meregang pertanda orgasme sampai. Eros mengimbangi dengan kocokan-kocokan perlahan dan teratur bahkan dibiarkannya Retno menikmati orgasmenya yang pertama yang hampir membuatnya tak sadarkan diri.

Setelah nafas Retno aga teratur perlahan Eros mulai memompa karena itu perlahan Retno mulai membuka matanya dan.. Mbak kok bukan Mas Ridwan.. !” teriaknya panik sambil mau berontak tapi kuncian Eros dan kocokan-kocokan palkon Eros di memeknya membuat dia tak berdaya.

“Gimana Mbak? Aku nggak mau Mbak, aku mau sama Mas Ridwan saja, ” teriaknya lagi.

“Tenang jeng, tenang..!” kucoba menenangkannya, sambil kukedipi Mas Ridwan untuk siap-siap menggantikan posisiku. Mas Ridwan mendekat dan mulai melumat puting Retno yang sebelah kiri sementara tangan kirinya meremas- remas puting yang sebelah kanan. Mendapat serangan bertubi-tubi dari bawah dan atas Retno menjadi naik birahi lagi..

“Ahh.. Mbak, Mas gimana ini kok begini to, ahh nikmat Mbak.. Retno nggak tahan Mas, ayo terus Mas.. Yang keras.. ” ceracaunya Retno mengejang lagi menapaki orgasmenya yang kedua.

Erospun tampak mulai berkerenyit dahinya dan makin keras kocokannya, pertanda mau mencapai orgasme maka cepat-cepat aku tarik sementara Mas Ridwan langsung menggantikan posisi Eros mengocok memek Retno dengan palkonnya tanpa memberi kesempatan pada Retno untuk mengatur nafas. Kucium dan kukulum kepala penis Eros di depan Retno sambil mengocok- ngocok batangnya.. Dan.. Creett.. Crett.. Cret.. Kuminum sperma Eros yang tumpah dimulutku. Retno melihat semua itu sambil mendelik menahan nikmat karena kocokan Mas Ridwan.

Setelah hampir setengah jam mereka saling genjot akhirnya mulai ada tanda- tanda Mas Ridwan dan Retno akan mencapai puncaknya dan..

“Aaahh Mas aku nggak kuat.. Aku.. ” begitu teriak Retno menapaki orgasmenya yang ketiga. Mas Ridwan memberi kesempatan untuk mengambil nafas sambil sesekali masih mengocok memek Retno pelan-pelan.

“Sini Mas.. Sini Mas..” pinta Retno pada Mas Ridwan sambil tangannya menggapai-gapai. Mas Ridwan mengakhiri kocokannya dan mencabut penisnya dan menyorongkannya ke mulut Retno, sambil tetap tiduran terlentang di sofa dikulumnya penis Mas Ridwan yang sudah bengkak dan berenyut-denyut.

Akhirnya.. Crett.. Crett.. Crett Muncratlah sperma Mas Ridwan di mulut Retno, Retno menelannya sambil membeliakkan mata, mungkin belum biasa tapi kemudian dijilatinya sisa-sisa sperma diujung penis Mas Ridwan. Setelah itu mereka bertiga istirahat mengatur nafas, sambil menikmati sisa-sisa orgasme yang mereka alami. Retno mengerling padaku. Waktu itu sudah jam 11 malam.

“Mbak Rien nakall..!” rengeknya manja, sambil memukul bahuku.

“ Lho kan jeng Retno sendiri yang keterusan.. ” jawabku.

“Ahh Mbak ni lho, Retno jadi malu ama Mas Ridwan.. Eh.. Mas yang satu siapa Mbak?” tanyanya sambil mengerling ke Eros.

“Adiknya Mas Ridwan! Eros” jawabku.

“Jeng Retno mau pulang..?” tanyaku lagi.

“Ya deh Mbak, sudah malam nih nanti anak-anak mencari” jawabnya.

Aku dan Eros mengantar Retno pulang sedang Mas Ridwan tunggu rumah, di jalan Retno berterimakasih sama Eros, katanya baru kali ini dia mengalami multiorgasme yang selama ini hanya angan-angan saja. Retno bahkan berani mencium Eros di depanku saat ia turun dari mobil.

Setelah mengantar Retno pulang aku mendapat ciuman istimewa dari Mas Ridwan dan Eros katanya mereka tak pernah membayangkan wanita lain selama ini karena sebenarnya selama ini mereka sudah merasa cukup dengan pelayananku.

Tapi hadirnya Retno membuat mereka tambah bahagia. Dan selama tiga hari mereka berdua selalu dapat memuaskan Retno bahkan saat hari terakhir Retno minta nginap dirumah dan mereka main sampai empat kali. Sebagai isteri aku tetap gelisah melihat keperkasaan mereka berdua, namun hadirnya Retno dapat sedikit mengobati kegelisahanku.

Sampai saat ini sudah hampir satu tahun aku Retno, Eros dan Mas Ridwan melakukan ini. Retno tambah rajin memelihara dirinya dan ia makin berbinar ia sangat menyenangi Mas Ridwan walau demikian kami semua bahagia dan senang di setiap waktu.

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu