Cerita Porno Ngesex Mama Tiri Yang Terus Berulang

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Ngesex Mama Tiri Yang Terus Berulang. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Ngesex Mama Tiri Yang Terus Berulang

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno Ngesex Mama Tiri Yang Terus Berulang

Ketegangan meliputi seluruh keluarga besar Papa saat ia memutuskan utk menikah lagi. Mama dan ketiga orang kakakku menentang keputusan Papa. Masalahnya, perempuan yg mau dinikahi Papa, sebut saja namanya Friska, seusia dgn kakak perempuanku yg kuliah semester dua.

Aku yg waktu itu baru lulus dari bangku sekolah SMP belum begitu paham dgn urusan orang tua. Apalagi aku jarang bertemu Papa karena ia kerja di luar kota. Tp Papa tetap pd keputusannya. Ia menikah lagi tanpa dihadiri oleh anak-anaknya. Ia dan istri barunya tinggal di kota J di mana ia selama ini bekerja, sedangkan kami anak-anaknya tinggal bersama Mama

Meski tinggal berjauhan, Papa tetap rajin mengunjungi kami seperti biasanya. Hanya saja ia tak pernah mengajak istrinya karena mungkin khawatir akan menimbulkan konflik. Begitu juga soal biaya hidup, Papa tdk pernah terlambat mentransfer ke rekening Mama.

Waktu lulus dari bangku SMA, karena tdk diterima di perguruan tinggi negeri, Papa menawariku utk kuliah di Jakarta karena ia punya kenalan rektor di salah satu perguruan tinggi swasta di sana. awalnya aku ragu. Apalagi Mama dan ketiga kakakku tdk setuju. Mereka ingin aku berjauhan dgn Mama. Tp ketika kemudian ada kabar kalau Papa masuk rumah sakit, aku akhirnya menerima tawaran Papa.

Aku dan kakak perempuanku, sebut saja namanya Mbak Ana, berangkat ke Jakarta utk menengok Papa. Aku trenyuh saat melihat Papa terbujur lemah di tempat tidur. Saat itulah utk pertama kalinya aku bertemu Friska. Mbak Ana tdk saling bertegur sapa dgn Friska. Kelihatan sekali kalau ia sangat tdk suka pd istri baru Papa itu. Aku pun sebetulnya juga menyimpan rasa marah karena Friska telah merebut Papa dari Mama, tp karena merasa jengah dgn suasana yg begitu kaku, sedikit-sedikit aku mau juga diajak bicara oleh Friska.

Karena kasihan pd Papa itulah kemudian aku memutuskan utk kuliah di Jakarta. Mbak Ana marah saat kukatakan itu pdnya, tp aku bersikukuh pd pendirianku. Menurutku, paling tdk ada satu anak Papa yg menemaninya di Jakarta, karena tak ada satupun kerabat di kota metropolitan itu. Akhirnya Mbak Ana pulang sendirian, sedangkan aku menjaga Papa di rumah sakit sampai Papa diperboleh pulang. Setelah beberapa hari tinggal di rumah Papa, aku pulang utk mengambil dokumen-dokumen yg diperlukan utk pendaftaran di perguruan tinggi.

Sampai di rumah aku diomeli oleh kakak-kakakku, sementara Mama hanya bisa menangis. Tp aku kukuh pd pendirianku. Lagipula Friska tak seburuk yg mereka kira. Kakak-kakakku menganggap kalau Friska mau dinikahi Papa hanya karena Papa kaya. Tp selama beberapa hari bersamanya aku punya penilaian sendiri. Justru Friska orang yg bersahaja. Ia pun ramah, tdk galak seperti ibu tiri dlm film.

Bagiku, Mama Friska adalah sosok yg menyenangkan, selain juga cantik. Seharusnya kakak-kakakku bersyukur ada Friska yg merawat Papa di kota J. Mungkin juga Mama salah, kenapa dulu menolak pindah ke kota J. Kakak-kakakku pun akhirnya menyerahkan keputusannya pdku. Hanya saja mereka berpesan agar aku kos saja di dekat kampus. Kalau itu aku setuju karena rumah Papa dgn perguruan tinggi yg akan kumasuki sangat jauh.

Di Jakarta, utk sementara aku tinggal di rumah Papa sampai urusan administrasi pendaftaranku selesai. Friska lah yg mengantarku ke kampus, mulai dari awal sampai tes penerimaan, karena Papa sibuk dgn pekerjaannya. Dan jika ada waktu senggang, ia mengajakku ke tempat-tempat wisata yg ada di Jakarta, atau sekedar makan siang bersama di Pizza Hut atau Mc Donald. Begitu juga ketika aku dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru, Friska yg menemani mencari tempat kos.

Namun hal yg terduga terjadi pdku. Kebersamaan selama beberapa hari dgn Friska menumbuhkan perubahan pd diriku. Selain aku mulai terbiasa memanggilnya Mama Friska, muncul rasa aneh dlm diriku. Aku berusaha sekuat tenaga menepis perasaanku itu, karena merasa tak sepantasnya perasaan itu ada, tp tak pernah bisa. Entah kenapa ada semacam rasa suka saat berduaan dgn ibu tiriku itu. Aku takut mengakui kalau aku jatuh cinta pdnya, tp memang itulah yg terjadi.

Aku merasa kesepian saat mulai tinggal di tempat kos, apalagi saat menjelang tidur. Ingatanku selalu pd Mama Friska yg suka memakai baju ketat tanpa lengan kalau di rumah. Yg paling menggetarkan hatiku adalah ketika kami ngobrol berdua di sofa teras belakang rumah. Satu kakinya ditumpangkan ke kaki lainnya hingga menampakkan pahanya yg mulus. Diam-diam aku ereksi membayangkan Mama Friska. Kerinduanku pdnya terasa sangat menyiksa.

Untungnya rinduku pd Mama Friska terobati, setdknya seminggu sekali, karena setiap Jumat malam ia, kadang bersama Papa kadang sendirian, menjemputku di tempat kos agar hari Sabtu dan Minggu aku bisa tinggal di rumah Papa. Perasaan yg kupendam makin memburuk saat muncul ketdksukaanku pd Papa. Semacam cemburu begitulah. Aku lebih suka jika hanya Mama Friska sendiri yg menjemputku. Aku tak betah tinggal di rumahnya jika ada Papa. Dan rasa cinta pd Mama Friska yg usianya sekitar 4 sampai 5 tahun lebih tua dariku makin tumbuh subur. Gejolak darah mudaku menggebu-gebu setiap kali melihat Mama Friska. Aku mulai berkhayal tentang dia, membayangkan nikmatnya mencumbui bibir indahnya. Sadar atau tdk, aku telah terobsesi pd Mama Friska.

Saking besarnya obsesiku pd Mama Friska hingga timbul hasrat isengku. Diam-diam kupinjam handycam milik Papa yg tersimpan di laci ruang keluarga, lalu kubeli kaset kosong. Saat aku mandi kuletakkan handycam itu di tempat tersembunyi dan kuaktifkan mode perekamannya. Sudah kuperhitungkan waktunya dgn kebiasaan Mama Friska mandi. Kurasakan debaran jantungku ketika melihat Mama Friska masuk kamar mandi. Di ruang keluarga aku menunggu dgn pura-pura nonton TV. Selama menunggu, aku gelisah tak karuan. Tak sabar ingin segera melihat hasilnya.

Begitu Mama Friska selesai mandi dan masuk ke kamarnya, bergegas kuambil handycam itu. Di dlm kamar yg telah kukunci kuputar ulang rekamannya. Aku menahan nafas menyaksikan adegan demi adegan mulai Mama Friska masuk kamar mandi, membuka baju dan dan mulai mandi. Panas dingin rasanya melihat tubuh telanjang Mama Friska yg begitu indah. Kedua mataku tak berkedip menikmati setiap gerak-geriknya. Begitupun ketika ia selesai mandi dan mengenakan BH dan celana dlm sexy berwarna hitam. Rekaman itu kemudian kutransfer ke komputer sehingga aku bisa memelototi lekuk liku tubuh Mama Friska lebih jelas.

Tak puas dgn rekaman kamar mandi, aku pun mengalihkan sasaran ke kamar tidur Mama Friska. Saat ia mandi aku menyelinap ke kamarnya. Kuletakkan handycam di tempat tersembunyi dan kuarahkan ke tempat tidurnya. Tp cara ini kurang efektif. Aku harus menunggu esok hari saat Mama Friska tak di kamar utk mengambil handycam. Kutelepon Papa minta ditransfer sejumlah uang yg kukatakan utk beli buku, pdhal kubelikkan kamera mini yg terhubung ke komputer. Dgn begitu aku bisa mengamati langsung gerak-gerik Mama tiriku di tempat tidur dan sekitarnya.

Aku hanya mengaktifkan kamera mini saat Papa tdk di rumah. Aku tak mau melihat ia dan Mama Friska bercumbu di tempat tidur. Yg kuinginkan hanya Mama Friska dlm keadaan sendirian, hingga suatu ketika ada satu adegan yg membuat nafsuku meronta dan berujung pd onani. Betapa tdk. Saat itu siang hari, usai makan dan ngobrol di ruang keluarga, Mama Friska minta diri mau tidur. Ngantuk, katanya. Papa sedang mengunjungi Mama, sehingga praktis hanya ada aku dan Mama Friska serta pembantu rumah tangganya.

Begitu ia masuk kamar, aku pun ke kamarku dan langsung menghidupkan komputer. Di monitor kusaksikan Mama Friska merebahkan dirinya di ranjang. Mulanya kulihat ia tenang dan kupikir sudah tidur. Tp beberapa menit kemudian ia tampak gelisah. Tidurnya berubah-ubah posisi yg membuat baju tidurnya tersingkap. Beberapa menit kemudian tangannya mengelus-elus “miliknya” yg tertutup celana dlm putih. Aku menahan nafas dgn mata tak berkedip melihat ke layar monitor.

Tak lama setelah itu tangan Mama Friska menyusup ke celana dlmnya disertai goyangan pinggul yg membuat birahiku naik ke otak. Aku jadi tergerak utk melakukan hal yg sama. Kuremas lembut “milikku” sambil mengamati gerak-gerik Mama Friska.

Adegan berikutnya, Mama Friska melepas baju tidurnya. Ternyata ia tdk pakai BH. Tubuhku panas dingin menyaksikan aksinya. Kemudian pelan-pelan Mama Friska melepas celana dlmnya dan mulai memainkan “miliknya” dgn penuh gairah. Sayang suaranya tak terdengar. Andai terdengar pasti makin asyik. Tubuhnya menggelinjang merasakan kenikmatan yg dibuatnya.

Beberapa saat kemudian Mama Friska memiringkan tubuhnya dan membuka laci yg ada di samping tempat tidurnya. Jantungku berdegup kencang manakala melihat benda yg diambilnya. Benda mirip kemaluan laki-laki. Dgn ekspresi penuh perasaan, Mama Friska menggesek-gesekkan benda itu di “miliknya”. Lagi-lagi pinggulnya menggelinjang. Aku sudah menduga adegan selanjutnya. Ya, Mama Friska mulai memasukkan benda itu ke “miliknya”. Mulutnya menganga akibat nikmat yg dirasakannya. Tak mau kalah dgn Mama Friska, aku pun menelanjangi diriku sendiri dan makin asyik memainkan “milikku”.

Mama Friska mengangkat kedua kakinya dgn posisi mengangkang sambil memainkan benda itu di “miliknya”. Matanya terpejam, mungkin sedang membayangkan Papa yg menyetubuhinya. Setelah itu Mama Friska tengkurap. Pantatnya ditunggingkan sementara tangan satunya memegangi “mainannya” yg diberdirikan di ranjang. Begitu sudah pas, ia mulai menggoyang pantatnya naik turun dgn posisi duduk. Sesekali alat itu terlepas dan Mama Friska membetulkannya.

Puas dgn posisi duduk, Mama Friska menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar saat “mainannya” dikocok-kocokkan dlm”miliknya”. Seiring dgn itu, aku pun mengocok “milikku” makin cepat dgn genggaman yg makin erat. Beberapa menit kemudian Mama Friska berguling-guling di ranjang. “Mainannya” dicabut, diganti dgn tangannya yg membekap “miliknya”, sementara kedua kakinya menjepit erat. Nafasnya memburu, terlihat dari perut dan dadanya yg naik turun tak beraturan. Tampaknya Mama Friska sudah mencapai orgasme. Aku mempercepat kocokanku hingga akhirnya cairanku tumpah ke lantai. Aku terengah-engah, sama seperti Mama Friska.

Beberapa saat kemudian Mama Friska memasukkan kembali “mainannya” ke dlm laci, lalu rebah lagi di ranjang. Wajahnya terlihat puas. Ia pasti kelelahan setelah melakukan masturbasi hingga akhirnya tertidur dlm keadaan telanjang bulat. Kubaringkan tubuhku di ranjang setelah kuberesi cairanku yg berceceran di lantai dgn tisu. Nikmat sekali rasanya. Setelah kejadian itu, obsesiku pd Mama Friska makin dlm merasuki batinku.

Aku bukannya tak mau berusaha menjauhkan perasaan yg tak pantas itu dari lubuk hatiku. Menjelang akhir semester pertama aku menjalin hubungan khusus dgn teman sekampus, sebut saja namanya Nina. Aku berharap, berpacaran dgn Nina akan membuat obsesiku pd Mama Friska bisa teralihkan. Tp nyatanya tdk. Meskipun aku berpacaran dgn Nina, tp yg selalu hadir dlm khayalku menjelang tidur tetap saja Mama Friska.

Ketika aku mudik libur semesteran pun bukan Nina yg kurindukan, tp Mama Friska. Aku benar-benar bingung menghadapi kenyataan ini. Sudah berkali-kali kutekankan pd diriku sendiri, bahwa tak mungkin aku bisa mendapatkan cinta Mama Friska, tp sulit sekali. Seperti menghapus noda tinta di baju seragam. Makin digosok, nodanya makin melebar. Bahkan, saking rindunya, diam-diam kutelepon Mama Friska. Basa-basinya adalah menanyakan kabarnya dan kabar Papa. Pdhal itu hanya sebagai modus utk mengobati kerinduanku meski hanya mendengar suaranya.

Suatu hari Mama Friska memintaku menemaninya ke kota B utk menengok orang tuanya. Saat itu Papa sedang ke Singapura utk keperluan bisnis. Dgn bermobil kami berdua meluncur ke sana. Tp kami tdk menginap. Sorenya kami kembali ke kota J. Aku tak menolak ketika Mama Friska menawariku menginap di rumahnya, karena hari sudah malam. Justru itu yg kuharapkan, karena terus terang, selama bermobil dgn Mama Friska nafsuku meletup-letup melihat kemulusan pahanya. Apalagi ketika ia condongkan sandaran jok ke belakang dan kemudian matanya terpejam. Ingin rasanya kususupkan jari-jemariku ke sela-sela roknya yg tersingkap setiap kali ia bergerak menggeser posisi berbaringnya. Tp aku tak cukup punya nyali utk berbuat senekad itu, walaupun keinginanku begitu kuat. Aku tak sabar ingin segera sampai di rumahnya dan berharap ia melakukan masturbasi lagi.

Hingga hampir jam 10 malam mataku tak letih memandangi monitor. Dgn menggunakan mode infrared keadaan kamar Mama Friska tetap bisa terlihat dgn baik. Hanya saja tampaknya harapanku tak terkabul. Mama Friska sepertinya sudah tidur, walaupun ia kadang bergerak, berganti posisi tidur. Aku hampir putus asa menunggunya melakukan “adegan spektakuler” seperti sebelumnya dan berniat utk tidur juga. Saat aku hendak beranjak dari kursi, kulihat Mama Friska bangun.

Sesaat ia duduk di tepi ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Mungkin ia hendak ke kamar kecil. Seketika kantukku sirna. Kutunggu Mama Friska kembali ke kamarnya. Benar saja. Beberapa menit kemudian ia masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Selimutnya dibiarkan teronggok di sampingnya. Jantungku berdebar menunggu ia “beraksi”. Ia tampak gelisah, terlihat dari gerakan tubuhnya. Kadang miring, kemudian kembali telentang. Setelah itu miring lagi sambil memeluk guling. Tak sampai lima menit, ia beranjak lagi dari tempat tidur, membenahi rambutnya, lalu keluar lagi. Aku menunggu dgn sabar di depan monitor.

Jantungku hampir copot saat terdengar bunyi “klek”, gagang pintu kamarku bergerak. Tp karena terkunci, tdk bisa terbuka. Aku yg sedang tegang menunggu Mama Friska kembali ke tempat tidurnya bukan main kagetnya. Kuamati gagang pintu kamarku. Bergerak lagi. Aku diam terpaku di tempat dudukku, menduga-duga. Kalau bukan hantu, pasti Mama Friska yg melakukannya.

“Mau apa dia malam-malam ke kamarku?”, hatiku bertanya-tanya.

Jantungku berdetak makin tak beraturan. Seketika terbersit dlm pikiranku utk membuka pintu dgn satu harapan, ia menginginkan hal yg sama dgnku. Begitu kubuka pintu kamarku, kulihat Mama Friska hendak masuk lagi ke kamarnya. Ia tampak kaget melihatku tiba-tiba muncul.

“Oh, kukira kamu sudah tidur, Lang”, ujarnya. Ia urungkan niatnya masuk ke kamar.
“Belum. Ada apa, Ma?”, jawabku sambil balik bertanya dgn nada agak gagap.
“Mama nggak bisa tidur. Mungkin tadi sempat ketiduran di mobil kali ya”.
“Kalau kamu belum ngantuk, temani Mama nonton TV di kamar yuk”, ajak Mama Friska.

Karuan saja aku gugup. Keringat dingin menetes di dahiku. Buru-buru kututup pintu kamarku, takut kalau Mama Friska tiba-tiba nyelonong ke kamarku dan mendapati kalau aku mengamati kamarnya melalui komputer.

“Kok bengong? Ayo sini. Kita nonton di kamar Mama aja”, tukas Mama Friska sambil melambaikan tangan.

Dgn pikiran berkecamuk, kumasuki kamar Mama Friska. Mama Friska meraih remote dan menyalakan TV, sementara aku berdiri saja di depan pintu. Mama Friska menoleh ke arahku sembari berkata,

“Sini, Lang”. Tangannya sigap membenahi bedcover lalu menepuk-nepuknya sebagai isyarat agar aku naik ke ranjangnya.

Kubuang jauh-jauh kecanggungan yg kurasakan dan kulangkahkan kaki menuju ranjang. Begitu kubaringkan tubuhku, Mama Friska berbaring di sebelahku sambil menyelimuti tubuh kami berdua. Udara di kamarnya memang dingin sekali. Entah karena AC-nya atau efek dari debaran jantungku saja.

Baru sesaat aku rebahan, Mama Friska yg postur tubuhnya mungil seperti Yuni Shara itu mencecarku dgn pertanyaan yg membuatku kelabakan.

“Tumben pakai ngunci pintu segala. Emang lagi ngapain, Lang?”.

Di saat aku mencari jawaban yg tepat, Mama Friska ngomong lagi dan aku jadi salah tingkah.

“Lagi onani ya? Nggak usah malu lah. Mama kan juga pernah muda. Tahu lah kebiasaan cowok seusia kamu”, tandas Mama disertai senyuman penuh arti.

Entah kenapa, ucapan Mama Friska yg terakhir itu membangkitkan keberanianku utk bicara.

“Iya, Ma. Habis lagi kepingin sih”. Sengaja kukatakan itu utk memancing reaksinya. Aku sangat berharap ia bilang “Sini, Mama kocokin”. Jantungku berdebar menunggu jawabannya. Tp ia hanya tertawa renyah.
“Nggak apa-apa. Itu hal biasa kok. Asal jangan keseringan aja”, tukas Mama, masih disertai tertawa kecil. “Nanti jadi cepat keluar lho”, lanjutnya.

Pembicaraan blak-blakan itu membuat kekakuanku mencair. Aku mulai berani mengimbangi obrolan panas Mama Friska.

“Ah, masa sih, Ma?”, aku bertanya asal saja dan tak butuh jawaban ilmiah.
“Kata orang sih. Mama sendiri mana tau? Kamu yg cowok harusnya tau”.
“Emangnya hanya cowok yg onani, Ma? Cewek emang nggak pernah”, cecarku mulai menjurus.
“Iya juga sih. Tp cowok yg paling sering”, kata Mama. Tampaknya ia mulai gerah juga.
“Mama sendiri pernah nggak?”, pancingku.

“Idiih, kamu apaan sih, tanyanya kok aneh-aneh gitu? Ya enggak lah”, tandas Mama.

Sekilas wajahnya bersemu merah. Ia mengalihkan pembicaraan sambil memainkan remote TV. Sambil nonton TV, kami ngobrol tentang banyak hal. Meskipun begitu, debaran jantungku tetap saja menghentak tak karuan. Apalagi saat kakiku bersenggolan dgn kaki Mama Friska. Kurasakan darahku berdesir. Ada semacam rasa nikmat yg menjalari sekujur tubuhku. Ingin rasanya kurengkuh tubuh Mama Friska dlm pelukanku dan menghujaninya dgn ciuman bertubi-tubi. Tp aku takut ia marah dan melaporkannya ke Papa. Aku hanya bisa diam menahan gejolak nafsuku.

Tak terasa, sudah jam 12 malam. Kulihat Mama Friska beberapa kali menguap.

“Mama ngantuk ya?”, tanyaku.
“Iya. Kamu sudah ngantuk belum”, Mama Friska balik bertanya.
“Iya juga sih, Ma. Boleh nggak aku tidur sini?”, tukasku spontan.
“Emang kamu mau tidur sama Mama?”, Mama Friska menoleh ke arahku.

Aku tak ingin kehilangan momen berharga dlm hidupku. Buru-buru kujawab.

“Kalau Mama ngijinin ya mau aja, Ma”.

Mama Friska tersenyum dan berseloroh,

“Boleh aja, tp jangan ngompol ya”. Aku nyengir kuda.

Dlm hati aku girang sekali dapat kesempatan langka seperti itu. Aku beringsut dari ranjang dan bilang pd Mama Friska kalau mau buang air kecil. Begitu aku kembali, cahaya dlm kamar sudah berganti redup. Kusibak selimut dan sekilas terlihat olehku paha mulus Mama Friska akibat baju tidurnya tersibak. Aku menghela nafas dlm-dlm dan kubaringkan tubuhku di sebelah Mama Friska sambil membenahi selimut yg cukup besar utk kami pakai berdua.

Dlm keadaan seperti itu aku tak bisa tidur. Kuamati Mama Friska yg berbaring memunggungiku. Aku tak tahu ia sudah tidur atau belum, tp nafsuku tak henti-hentinya bergejolak, menggodaku utk melampiaskannya. Aku bertahan utk tdk tergoda karena takut resikonya. Tp gumpalan birahiku yg tertahan terus saja meronta-ronta, hingga membuatku mata hatiku gelap. Bodoh rasanya jika tak kumanfaatkan kesempatan emas itu.

Dgn berpura-pura sudah tidur, kugeser tubuhku hingga menempel ke punggung Mama Friska. Aku diam menunggu reaksinya. Karena Mama Friska bergeming, kumiringkan tubuhku hingga sejajar dgn tubuhnya. Rasa nikmat tiba-tiba saja menghentak saat “senjataku” menempel di pantat Mama Friska. Aku diam lagi, menunggu. Karena tak ada reaksi, kulingkarkan satu tanganku ke tubuh Mama Friska seolah dlm keadaan tak sadar dan menganggapnya sebagai guling. Harum rambut Mama Friska merebak ke rongga hidungku.

Sesaat kemudian kudengar Mama Friska menggumam lirih dan darahku berdesir ketika tangannya memeluk tanganku yg melingkar di tubuhnya. Gempuran nafsu birahi yg begitu kuat tak lagi mampu kubendung. Kuciumi rambut Mama Friska, kemudian turun ke lengannya. Gairahku makin menjadi-jadi saat kudengar Mama Friska mendesah. Satu tanganku menjalari pahanya dgn beberapa kali usapan lembut sebelum menyusup ke balik baju tidur dan mulai memainkan jari tengahku di sela-sela bagian bawah tubuhnya. Aku melakukannya dgn selembut mungkin dgn harapan Mama Friska akan terangsang. Harapanku terkabul. Pelan-pelan Mama Friska membuka kedua kakinya. Tak terlalu lebar, tp sudah cukup buatku utk lebih leluasa memainkan jariku.

Mama Friska kembali mendesah lirih. Kusibak lebar-lebar selimut yg menutupi kami berdua karena aku ingin melihat langsung permainan jariku. Aku harus bersabar melakukan itu dan kesabaranku membuahkan hasil. Bukaan kaki Mama Friska makin lebar dgn satu lututnya terlipat sedikit. Pelan-pelan kususupkan jariku ke celana dlm Mama Friska hingga kurasakan bulu-bulu halusnya. Begitu jariku menyentuh “miliknya” yg lembut, langsung kumainkan jariku. Mula-mula kuusap bibir kemaluan Mama Friska. Kemudian pelan-pelan usapanku beralih ke bagian tengah. Kulihat perut Mama Friska mengempis seperti sedang menahan nafas. “Miliknya” kurasakan mulai basah.

Mama Friska yg terlihat pasrah membuatku makin berani. Kulorot celana dlmnya dgn hati-hati sampai lepas. Aku ingin mempraktekkan adegan yg kulihat di film biru. Kutelungkupkan tubuhku di atas kaki Mama Friska dan mulai menjilati organ sensitifnya. Sekali lagi Mama Friska mendesah disertai dgn gerakan mengangkang. Aku tak tahu apakah Mama Friska sadar melakukan itu atau hanya refleks saja. Tp kulihat matanya masih terpejam. Kulanjutkan jilatanku dgn penuh perasaan. Ternyata memang mengasyikkan. Ada sensasi tersendiri melakukan itu. Apalagi saat pinggul Mama Friska bergerak-gerak, seolah merespon kenikmatan yg kuberikan.

“Lang, ngapain kamu?”, ujar Mama Friska tiba-tiba sambil bertumpu di keduanya dan menatapku.

Aku sedikit kaget dan balas menatapnya. Kutunggu reaksinya, marah atau tdk. Tp begitu Mama Friska berbaring lagi, kulanjutkan lagi permainan lidahku dgn lebih agresif. Sesekali pinggul Mama Friska bergerak mengikuti irama permainanku.

“Ooh, sudah, Lang. Nanti keterusan… Ohh”, desis Mama Friska. Tangannya mencengkeram kuat rambutku.

Tak kuhiraukan permintaannya. Makin kuat ia mencengkeramku, makin dahsyat jilatanku hingga lidahku masuk ke “miliknya”. Dgn dorongan yg agak kuat pd kedua paha Mama Friska ke arah yg berlawanan kuisyaratkan agar ia lebih mengangkang lebih lebar lagi. Agaknya Mama Friska makin terangsang dgn aksiku. Ia pasrah saja “miliknya” kuhujani dgn lidah dan bibirku habis-habisan.

Puncaknya, pinggul Mama terangkat disertai goyangan yg makin kencang, seolah mengimbangi tarian lidahku. Desahnya makin tak terkendali. Kedua tangannya mencengkeram erat seprai tempat tidur. Goyangannya melemah saat desah panjang keluar dari mulutnya.

“Sudah, Lang. Mama sudah orgasme … Ohhh …”, desisnya seraya menahan kepalaku agar tak bergerak lagi. Pelan-pelan pinggulnya turun lagi.

Ciumanku pun kemudian beralih ke perut dan berakhir di dadanya. Kusibak belahan dasternya agar bisa kucumbui dua bukitnya yg indah. Mama Friska melingkarkan kedua tangannya di punggungku pertanda ia menikmati cumbuanku. Sambil mencumbui dadanya, tanganku menjelajahi selangkangannya. Tampaknya Mama Friska tergoda utk mengimbangiku. Satu tangannya beralih ke celanaku.

Tak puas dgn meraba bagian luar, tangan Mama Friska pun kemudian menyusup ke dlm celanaku dan mulai menggenggam dan mengusap lembut “milikku” yg sudah berdiri tegak. Saat itulah cumbuanku beralih ke lehernya yg jenjang. Kubungkukkan tubuhku sedikit hingga “milikku” bisa kugesek-gesekkan ke “milik” Mama Friska. Mama Friska mendesah dan mendesis yg segera kubungkam dgn pagutan di bibirnya.

Kami pun berciuman dlm balutan nafsu birahi yg menggelegak. Mama Friska mencengkeram T-shirt yg kukenakan dan menariknya ke atas. Aku pun berhenti sejenak utk melepas T-shirt. Kuminta Mama Friska utk duduk di ranjang, sementara aku berpindah posisi di belakangnya . Kusibak rambut Mama Friska dan kucumbui lehernya, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua bukitnya. Mama Friska menoleh ke arahku hingga kami bisa saling berpagutan lagi.

Beberapa saat kemudian aku rebah di ranjang. Mama Friska melepas dasternya sebelum melucuti celanaku, lalu mengulum”milikku” dgn gerakan lembut. Begitu nikmat hisapannya hingga aku telentang seolah tanpa daya. Sampai sejauh itu aku masih merasa seperti mimpi, telanjang berdua dgn Mama Friska dlm panasnya api birahi. Rasanya sulit dipercaya kalau peristiwa yg selama ini hanya ada dlm khayalku, saat itu benar-benar terjadi. Aku sadar kalau itu salah.Tp dlm keadaan seperti itu, siapa yg bisa berhenti?

Kubiarkan Mama Friska menikmati “milikku” sesuka hatinya. Hangatnya mulut Mama Friska melambungkanku dlm sebuah perasaan yg tak terlukiskan dgn kata-kata. Setelah puas melakukan oral, Mama Friska duduk di atasku. Aku menunggu detik-detik mendebarkan saat “milikku” menembus “miliknya”, tp tak terjadi. “Milik” kami berdua hanya saling bergesekan saat Mama Friska merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil mengggoyang-goyangkan pinggulnya ke depan dan ke belakang. Kami saling berpagutan utk melengkapi sensasi nikmat gesekan itu.

“Milik” Mama Friska terasa telah demikian basah, hingga tak heran akhirnya “senjataku” amblas ke dlm “miliknya”. Mama Friska mendesis dan menelungkupkan wajahnya di leherku. Kupegang erat-erat pantat Mama Friska saat aku mulai menggoyang pinggulku karena Mama Friska tak kunjung bergoyang. Lama-lama ia pun mengimbangi gerakanku. Mula-mula masih dgn telungkup sebelum kemudian bangkit dan mulai bergerak naik-turun dgn ritme lambat. Tanganku leluasa menggeraygi buah dadanya yg bergerak kesana-kemari.

Utk beberapa saat kubiarkan Mama Friska bergoyang di atasku. Setelah itu aku bangkit karena tak tahan utk tdk mencumbui dua bukit ranumnya. Gara-gara itu goyangan Mama Friska melambat. Tak lama setelah itu ia mendorongku agar rebah lagi. Agaknya ia kurang bebas bergerak. Begitu aku rebah, Mama Friska langsung tancap gas. Ritme goyangannya makin kencang sebelum kemudian tubuhnya meregang disertai desahan panjang dari mulutnya yg indah. Ia rebahkan lagi tubuhnya di atasku. Nafasnya memburu, sementara kedua tangannya mencengkeram kuat-kuat bahuku.

“Udah orgasme, Ma?”, tanyaku mesra di telinganya.
“Iya, sayang … Ohh …”, jawab Mama Friska terengah-engah.

Terbersit rasa bangga dlm hatiku. Aku berhasil membuat Mama Friska orgasme. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya beberapa saat. Setelah nafasnya kembali tenang, kuminta ia utk menungging. Tanpa diminta dua kali, Mama Friska beringsut menuruti permintaanku. Begitu ia sudah siap, kutancapkan “milikku” ke dlm “miliknya”. Mama Friska langsung mendesah lirih,

“Oohhh …” saat “milikku” tertanam dlm-dlm di “miliknya”.

Aku pun mulai melakukan gerakan maju-mundur pelan-pelan. Kunikmati betul-betul momen yg selama ini hanya ada dlm imajinasiku. Kuusap lembut pantat Mama Friska, merasakan kelembutannya. Setelah itu tanganku turun ke dadanya, meremas-remasnya dgn penuh perasaan. Kemudian, gerakanku kupercepat. Beberapa kali Mama Friska memekik tertahan saat “milikku” menghunjam dlm ke “miliknya”. Tangannya mencengkeram kuat-kuat seprai tempat tidur.

Gerakanku makin cepat ketika kurasakan “laharku” dlm “kawahku” akan meledak. Aku tak bisa menahan desahanku saat spermaku kutumpahkan ke pantat Mama Friska. Mama Friska merebahkan tubuhnya di ranjang, sementara aku masih bertumpu pd kedua lututku, merasakan detik-detik puncak kenikmatan hingga tetesan spermaku yg terakhir. Setelah itu aku turun dari ranjang utk mengambil tisu.

Mama Friska masih tertelungkup di ranjang, meski tubuhnya sudah kubersihkan dari spermaku. Kubaringkan tubuhku di sampingnya. Mataku menerawang ke langit-langit kamar dgn pikiranku melayg. Aku telah memulai satu babak baru dlm kehidupanku. Kenikmatan seks. Meski terasa sebentar, tp aku yakin efeknya akan sangat panjang. Apalagi aku melakukannya dgn Mama Friska yg notabene Mama tiriku, istri kedua Papa.

Saat tengah melamun, kudengar Mama Friska menghela nafas. Kumiringkan tubuhku dan memeluknya.

“Mama marah ya?”, ujarku memecah kesunyian. Mama Friska tak menjawab. Kupalingkan wajahnya ke arahku. Kulihat kedua matanya basah. Ia menangis. Aku jadi merasa bersalah. Kudekap erat tubuhnya.
“Maafin aku ya, Ma”, ucapku lirih.

Mama Friska tak menjawab. Bahkan kemudian ia melepaskan pelukanku, membenahi selimut dan berbalik memunggungiku. Tentu saja hal itu membuatku salah tingkah. Setelah diam beberapa saat, Mama Friska kupeluk dari belakang sambil menciumi rambutnya. Mama Friska bergeming. Sesekali kudengar isaknya tertahan. Keheningan yg merebak dan Mama Friska yg masih saja membisu membuatku kikuk. Memang aku semakin merasa bersalah, tp mau apa lagi? Semuanya sudah terjadi dan percuma utk disesali.

Karena merasa tak dihiraukan Mama Friska, aku beranjak dari ranjang, kukenakan bajuku. Lalu aku kembali ke kamarku. Saat itulah aku baru ingat kalau komputerku masih menyala. Artinya, yg kulakukan dgn Mama Friska terekam di situ. Kuputar ulang rekaman itu. Kupandangi tak berkedip adegan ranjangku dgn Mama Friska yg berdurasi sekitar 23 menit terhitung sejak aku mulai mengusilinya. Kusimpan file rekaman itu dlm folder yg kusembunyikan dgn file yg lain.

Balas Dgn QuoteMeski mencoba terpejam, tp aku tak bisa tidur. Pikiranku berkecamuk, antara bangga bisa membuat Mama Friska orgasme, dgn rasa bersalah. Mungkin Mama Friska juga merasa bersalah telah melakukan persetubuhan dgnku dan ia menyesalinya. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana saat bertemu Mama Friska esok paginya. Yg jelas, pasti akan canggung.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa kesal pd Mama Friska ketika aku bangun tidur pagi harinya. Jika memang tak ingin itu terjadi, seharusnya ia tak mengajakku masuk ke kamarnya. Bagaimana pun juga, aku laki-laki dewasa dan Mama Friska adalah orang lain yg kebetulan dijadikan istri kedua oleh Papa. Mungkin saja ia malu telah kutiduri, dan menutupi rasa malunya dgn menangis. Kekesalanku kemudian malah melunturkan rasa bersalahku. Aku bertekad utk membuang jauh-jauh kecanggungan pd Mama Friska. Justru sebaliknya, akan kutunjukkan pd Mama Friska kalau aku benar-benar menyukainya. Kekesalanku pd Mama Friska membuat semangatku menyala lagi.

Bergegas aku bangkit dari tempat tidur. Saat sayup-sayup kudengar gemercik air dari kamar mandi, kuraih handukku. Dgn langkah ringan kumasuki kamar Mama Friska yg terbuka lebar. Kuketuk pintu kamar mandi dari dlm kamar tidurnya.

Ma, ikutan mandi dong”, ujarku begitu Mama Friska membuka pintu sedikit dan menampakkan wajahnya. Sebuah handuk ia tutupkan di tubuhnya yg basah. Mama Friska tampak kaget melihat permintaanku yg tiba-tiba itu.

“Boleh ya, Ma? Aku pengen sekali-sekali dimandiin Mama”, rayuku dgn wajah memelas.

Mama Friska menatapku dlm-dlm. Ia seperti sedang berpikir. Mungkin sedang menimbang-nimbang, apakah memperbolehkan atau tdk. Aku mematung tepat di depan pintu kamar mandi menunggu jawabannya.

Hatiku girang bukan kepalang ketika Mama Friska mundur sambil membuka pintu kamar mandi. Tanpa sungkan aku nyelonong masuk, menggantung handuk di hanger, lalu melepas baju dan celanaku. Tak kuhiraukan Mama Friska yg mematung di depan pintu kamar mandi. Kuguyur tubuhku dgn air yg mengucur dari shower. Tanpa beban, kutoleh Mama Friska dan kuajak utk bergabung di bawah pancuran air, tpMama Friska bergeming. Kuhampiri ia, kuambil handuk yg ia pegangi utk menutup sebagian tubuhnya dan kugantung di hanger, lalu kugamit tangannya dan menggandengnya menuju shower.

Saat itu sebetulnya aku sudah terangsang. Aku yakin Mama Friska tahu aku terangsang karena jelas-jelas “senjataku” mulai membesar, tp belum berdiri. Aku berharap ia pun terangsang melihat “milikku”. Tp aku menahan diri agar Mama Friska merasa nyaman dulu. Aku tak ingin terlihat grusa-grusu. Aku menjauh dari shower utk menggosok gigiku, sementara Mama Friska mulai membasuh tubuhnya dgn sabun cair. Usai menggosok gigi, aku kembali ke bawah shower, meminta sabun dari Mama Friska dan menyabuni diriku sendiri.

Setelah itu aku berpindah ke belakang Mama Friska utk menyabuni punggung sampai ke kakinya. Sejauh itu Mama Friska masih diam membisu. Tp aku tak peduli. Aku terus saja menyabuni paha dan betis belakangnya sebelum kemudian beralih ke betis dan paha depan. “Miliknya” yg tepat berada di depan hidungku membuatku tergoda utk memagutnya. Aku bertahan utk tdk melakukannya.

“Gantian, Ma”, ujarku sambil berdiri dan memunggunginya. Mama Friska menuruti permintaanku.

Sambil berlutut, Ia sabuni punggung hingga betisku, persis seperti yg kulakukan pdnya. Kuputar tubuhku hingga Mama Friska bisa beralih menyabuni betis dan paha depanku. Tak hanya itu, Tanpa kuminta, Mama Friska menyabuni juga “senjataku”. Mau tak mau, “senjataku” pelan tp pasti makin mengeras dan berdiri. Agaknya Mama Friska juga menahan diri. Buktinya, setelah itu ia bangkit dan menghidupkan lagi showernya. Berdua kami menguyur tubuh dari busa sabun. Semerbak wanginya membuatku makin bergairah.

Sesaat kemudian Mama Friska berjalan menuju hanger dan mulai membersihkan tubuhnya dgn handuk, sementara aku masih mengguyur tubuhku dgn air shower. Saat Mama Friska mulai memakai baju, aku menyusulnya dan menghanduki tubuhku. Saat itulah kupeluk Mama Friska dari belakang. Ia tampak seperti kaget dan berusaha menyingkir dariku. Kupererat pelukanku sambil mencumbui rambutnya yg basah, sementara satu tanganku bergerilya di dadanya dan satu lagi di pahanya.

Tak lama kemudian kuputar tubuh Mama Friska agar menghadap ke arahku. Mama Friska memandangku dgn tatapan yg tak kumengerti maknanya. Tp aku sudah kepalang nekad. Dgn lembut kupagut bibirnya. Mama Friska diam saja, tak membalas ciumanku. Masa bodoh, pikirku. Kuhujani bibirnya dgn ciuman lembut, kemudian turun ke lehernya. “Senjataku” menempel ketat di perutnya. Sedikit demi sedikit kudorong Mama Friska sampai ke dinding dekat pintu kamar mandi. Dgn begitu aku lebih mudah mencumbui Mama Friska tanpa khawatir ia terdorong lalu jatuh.

Dari leher, cumbuanku beralih ke kedua bukitnya.

“Sudah, Lang … sudah …”, desisnya lirih disertai dorongan di bahuku. Aku tak menggubrisnya. Kumainkan lidahku di kedua putingnya bergantian melalui belahan dasternya.

Setelah puas “menyusu”, pelan-pelan ciumanku beralih, turun ke perutnya, dan berakhir di “miliknya” yg tertutup celana dlm. Satu tanganku menyibak dasternya. Mama Friska merapatkan kedua pahanya, tp aku pantang menyerah. Kujulur-julurkan lidahku di sela-sela pahanya.

“Sudah, Lang …”, sekali lagi Mama Friska mencoba mendorongku ke belakang. Tanganku menggenggam kuat-kuat pinggulnya sambil terus memainkan lidahku. Saat dorongannya melemah, kulepas celana dlm Mama Friska.
“Jangan, Lang”, cetusnya sambil menahan celana dlmnya yg sudah melorot sampai ke paha. Aku tak memaksa.

Kulanjutkan jilatanku di “miliknya” yg sudah tak tertutup celana dlm. Pelan-pelan kuisyaratkan pd Mama Friska utk membuka kedua kakinya. Semula ia bergeming, tp sedikit demi sedikit mulai merenggang. Kesempatan itu tak kusia-siakan. Gempuran lidahku di “miliknya” makin gencar hingga membuatnya tak bisa menahan desah. Genggaman di celana dlmnya pun melemah yg membuatku dgn mudah melepas celana dlmnya sampai ke kakinya.

Mama Friska berhasil kubuat terangsang. Kedua kakinya makin terbuka lebar. Tangannya mencengkeram kepalaku, tp tdk bermaksud mendorongku. Justru seolah memintaku utk tak menghentikan jilatanku. Desahannya terdengar begitu merdu di telingaku. Desah perempuan yg terbakar birahi. Pinggulnya bergoyang seirama dgn permainan lidahku. Tak lama kemudian, kedua kakinya menegang dan agak gemetar. Ia orgasme.

Tak perlu menunggu lama utk babak berikutnya. Mama Friska ganti jongkok di depanku sementara aku bersandar di dinding. Saat ia menghisap “milikku”, kubuka dasternya. Kami telanjang lagi. Kunikmati setiap hisapannya, seakan itu adalah yg terakhir.

Selesai melakukan oral, Mama Friska berdiri dan langsung menciumku. Kuputar tubuhnya ke arah dinding. Sambil berciuman, kuangkat satu kakinya dan kubungkukkan sedikit tubuhku agar aku bisa menghunjamkan “milikku” ke “milik” Mama Friska. Ia memekik lirih, disusul dgn desahan panjang saat “senjataku” mentok di dlm “miliknya”. Kuminta Mama Friska berpegang erat di bahuku. Dgn begitu ia bisa bergelayut di tubuhku dan aku bergoyang maju-mundur.

Setelah beberapa genjotan, aku keluar dari kamar mandi dgn Mama Friska masih menggelayut. Gerakan saat berjalan menuju ranjang ternyata tak kalah nikmat, karena sama juga dgn bergoyang. Sampai di ranjang kurebahkan Mama Friska dan kami lanjutkan pertarungan babak kedua sampai tuntas.

Tak seperti kemarin, Mama Friska terlihat lebih rileks usai percintaan itu. Ia rebahkan tubuhnya di atas tubuhku yg masih terengah-engah, sehingga sperma yg kutumpahkan di perutnya menempel di perutku juga. Tp ia sama sekali tak terlihat risi. Bahkan ia pun tak pelit bicara.

“Lang, sebetulnya apa sih maksudmu?”, tanyanya membuka percakapan. Aku bisa menebak arah pembicaraannya.
“Terus terang aku jatuh cinta sama Mama waktu pertama kita bertemu”, jawabku.

Mama Friska yg semula merebahkan kepalanya di dadaku berpaling menatapku.

“Tp itu ‘kan nggak mungkin, Lang. Gimana pun juga aku Mamamu”, tukas Mama Friska.
“Memang nggak mungkin sih. Tp orang kalau sudah terlanjur jatuh cinta gimana hayo?”, cetusku.

Aku senang dgn percakapan ini, karena merupakan kesempatanku utk mencurahkan perasaanku pd Mama Friska.

“Aku suka cemburu kalo liat Mama mesra sama Papa”, lanjutku. Mama Friska mencubit mesra lenganku.
“Mama pikir kamu cuma nafsu aja”, kata Mama Friska dgn tatapan mata penuh selidik.
“Nafsu itu ‘kan timbulnya dari cinta, Ma. Mana mungkin nafsu kalau nggak ada cinta”, kilahku.
“Kalo cowok sih bisa aja, Lang”, sergah Mama Friska.
“Yg namanya cowok tuh seperti kucing. Asal liat ikan asin langsung deh diembat”, lanjutnya.
“Ya, tp ‘kan nggak semua cowok”, aku tak mau kalah.
“Iya deh, Mama ngalah”, ujar Mama Friska.
“Jadi boleh ya Ma, aku cinta sama Mama?”
“Kok balik nanya? Tadi katanya terlanjur cinta, gimana sih?”, tutur Mama Friska dgn nada manja. Aku nyengir.
Terima kasih ya, Ma. Daripd aku onani terus hayo …”, selorohku. Lagi-lagi Mama Friska mencubitku.
“Oh iya, tadi Papa telepon. Katanya minta dijemput jam 11”, kata Mama.

Spontan wajahku kecut. Mama Friska melihat perubahan air mukaku.

“Kok gitu? Bukannya seneng mau ketemu Papa?!”, ujarnya menanggapi responku. Aku tak menjawab. Kuusap lembut rambut Mama Friska sambil melihat jam dinding. Jam 8 pagi.

“Lagi yuk, Ma”, ajakku spontan. Mama Friska menengadahkan wajahnya dan menatapku dgn tatapan heran.
“Memangnya masih bisa apa?”
“Coba aja”, tantangku.

Kubimbing tangan Mama Friska ke kemaluanku. Ia tanggap maksudku. Ia remas dan kocok “milikku”, sementara ia geser maju tubuhnya hingga kami bisa saling berciuman. Dlm waktu singkat “senjataku” siap tempur lagi. Apalagi ketika Mama Friska mengulumnya beberapa saat. Sekali lagi kami tenggelam dlm lautan birahi yg memabukkan.

Tepat jam 11 aku dan Mama Friska sudah berada di bandara. Sekitar 15 menit kemudian kulihat Papa di antara para penumpang keluar dari gate kedatangan. Memang tampak kalau Mama Friska berusaha menjaga perasaanku. Tp tak urung aku melengos buang muka saat Papa mengecup bibir Mama Friska begitu mereka bertemu. Aku tak bisa menyalahkannya. Ia istri sah Papa. Aku tak berhak cemburu walaupun tubuhku dan tubuh Mama Friska sudah menyatu dlm panasnya bara birahi. Ibarat kata, meski sudah kunikmati tubuh Mama Friska, tp bukan berarti aku memilikinya. Aku sadar betul akan hal itu.

Sekeluar dari bandara kami singgah di restoran utk makan siang. Usai makan, aku minta langsung diantar ke kos, tp Papa keberatan. Katanya ia capek sekali. Kalau harus mengantarku akan butuh waktu lama karena jauh. Ia berjanji malam harinya akan mengantarku.

Setiba di rumah Papa, aku langsung tiduran di kamar. Tp aku tak bisa tidur karena pikiranku melayg membayangkan apa yg dilakukan Papa dan Mama Friska di dlm kamar mereka. Isengku pun kambuh. Kunyalakan komputer. Aku ingin memastikan dugaanku. Ternyata benar. Di layar komputer aku melihat Papa dan Mama Friska berciuman sambil melepas baju masing-masing. Artinya mereka baru mulai. Dgn jantung berdebar kusaksikan adegan percintaan mereka.

Diam-diam aku terangsang melihat mereka bercumbu di ranjang dlm keadaan telanjang bulat. Hanya saja tak berlangsung lama. Dari timer yg tertera di layar monitor, tak sampai 5 menit Papa sudah terkapar di sisi Mama Friska. Saat Papa terbaring kelelahan, Mama Friska beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah itu Mama Friska mengenakan daster dan berbaring di sebelah Papa.

Aku pun kemudian mematikan lagi komputerku dan kembali rebahan di ranjang. Otakku terus berpikir. Mungkin Mama Friska melakukan masturbasi karena merasa tak puas dgn Papa. Mungkin hal itu pula lah yg membuatnya tak menolak saat aku mulai mencumbuinya. Ada sepercik rasa bahagia telah memberi Mama Friska kepuasan batiniah.

Entah berapa lama aku melamun, hingga tak menyadari kalau Mama Friska membuka pintu kamarku. Di tangannya ada sesuatu.

“Ngelamun aja, Lang. Mama kirain sudah tidur kamu”, ujar Mama Friska sambil menutup pintu kamar lalu melangkah menuju ranjangku.

Aku menoleh ke arahnya seraya bertanya,

“Apa itu, Ma?”

Mama Friska tersenyum penuh arti, “Ini oleh-oleh dari Papa buat kamu”. Ia sodorkan benda yg ternyata HP model terbaru saat itu.

Seketika aku bangkit dari berbaringku dan duduk di sebelah Mama Friska. Kubuka kardus pembungkus HP dan kuamati isinya.

“Gimana, Lang? Suka nggak?”, tanya Mama Friska.
“Suka. Mana Papa, Ma? Aku mau bilang terima kasih…”, aku pura-pura tak tahu.
“Lagi tidur, sayang. Entar sore aja ngomongnya ya”, kata Mama Friska sambil mencolek hidungku yg kembang kempis karena dipanggil “sayang”.

Wajahnya begitu dekat dgnku, hingga aku terdorong utk memagut bibirnya. Mama Friska menyambut pagutanku dan kami berciuman. Sebentar kemudian Mama Friska berdiri.

“Udah ya. Mama balik ke kamar”, katanya.

Dgn berat hati kubiarkan Mama Friska berlalu dari kamarku. Ingin rasanya kucegah ia lalu mengajaknya bercinta lagi saat kupandangi tubuh mungilnya yg terbalut daster tipis dan sexy berjalan menuju pintu, tp tak kulakukan. Tak etis rasanya menidurinya di saat Papa ada di rumah. Toh masih banyak waktu dan kesempatan di kemudian hari. Aku pun kembali tenggelam dlm kesunyian.

Obsesiku pd Mama Friska berpengaruh pd hubunganku dgn Nina. Aku jadi mengabaikannya. Malam minggu pun aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah Papa daripd mengapelinya. Tak heran jika kemudian kami putus. Sebaliknya, hubungan gelapku dgn Mama Friska makin menggelora. Setiap ada kesempatan dan Mama Friska tdk sedang menstruasi, kami memadu kasih dlm balutan peluh birahi kenikmatan. Karena aku ingin “dikeluarkan di dlm”, kubeli kondom. Rasanya memang berbeda, tp aku tak perlu terburu-buru mencabutnya saat akan”keluar”.

Dlm sebuah kesempatan, Mama Friska menceritakan pdku ihwal hubungannya dgn Papa yg notabene usianya dua kali usia Mama Friska. Mama Friska adalah anak sulung dari sahabat Papa waktu kuliah, sebut saja namanya Pak Wira. Pak Wira yg tahu kalau usaha Papa sukses minta tolong pd Papa utk mencarikan kerja buat Mama Friska yg baru lulus SMA. Sayangnya waktu itu tdk ada lowongan di perusahaan Papa. Tp Papa membantu Pak Wira, Papa tetap menerima Mama Friska dan menjadikannya sebagai asisten pribadi.

Kisah klasik antara Papa dan Mama Friska pun terjadi. Papa jatuh cinta pd Mama Friska dan bilang kalau ingin menikahinya. Karena merasa berhutang budi, Mama Friska menerima pinangan Papa yg akhirnya menimbulkan kehebohan di keluarga besarku. Mama Friska tahu kalau istri Papa yg tak lain adalah Mama kandungku tak setuju. Sebetulnya Mama Friska sempat merasa ragu, antara melanjutkan pernikahan atau membatalkan, karena selalu diliputi rasa bersalah pd Mama. Tp Papa bersikeras ingin menikahinya dan berjanji akan berlaku adil pd kedua istrinya.

Terkait dgn hubungan gelap kami, Mama Friska bilang kalau ia kerap dihantui rasa bersalah pd Papa. Tp, sambil terisak ia mengatakan kalau ia juga jatuh cinta pdku ketika pertama kali bertemu di rumah sakit. Postur tubuhku yg tinggi besar membuatnya mengira kalau aku adalah anak sulung Papa. Tp meski kemudian ia tahu aku anak bungsu dan usiaku lebih muda darinya, ia tak bisa mengusir perasaan cinta itu, walaupun ia menyadari kalau itu salah.

Setelah hubungan intim malam itu sebenarnya Mama Friska bertekad tak ingin mengulanginya lagi. Tp, seperti pengakuan Mama Friska, ia tak mampu menghalau hasratnya setiap kali berdekatan dgnku. Cintanya pdku lah yg membuatnya pasrah pdku.

Aku termenung lama memikirkan curhat Mama Friska. Tp seperti halnya dia, aku pun sudah terlanjur jatuh cinta pdnya dan tak ingin hubungan kami berakhir begitu saja.

Suatu sore, setahun sejak hubunganku dgn Mama Friska, Papa meneleponku saat aku dlm perjalanan pulang kuliah. Katanya, Mama Friska hamil. Ada nada gembira dari ucapannya. Aku sempat kaget. Tp aku yakin itu bukan benihku karena aku pakai kondom. Kalaupun tdk, selalu kukeluarkan di luar. Hanya saja, yg membuatku was-was, jangan-jangan Mama Friska tak bisa lagi kuajak bercinta karena sedang hamil.

Kekhawatiranku memang tak terbukti. Mama Friska masih mau memberiku “jatah”, tp aku diminta utk tdk terlalu “heboh” menggoyangnya, karena takut akan berdampak buruk pd janinnya. Aku bisa memaklumi itu. Kami masih aktif melakukannya di malam minggu, saat Papa tak di rumah tentunya, sampai kandungan Mama Friska berusia 6 bulan.

Bulan ketujuh kehamilan Mama Friska, Papa memintanya utk tinggal di rumah orang tua Mama Friska di kota B. Penyebabnya karena Papa makin sering melakukan perjalanan ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Ia khawatir pd kondisi Mama Friska.

Aku merasa sangat kehilangan ketika Mama Friska akhirnya kembali ke rumah orang tuanya. Walaupun hanya sementara sampai bayinya lahir, rasa kehilanganku tak dapat kupendam. Memang Mama Friska masih sering meneleponku, menanyakan kabarku, tp aku tak sanggup jauh darinya. Di sisi lain, aku tak keberanian utk sendirian mendatanginya di kota B, karena takut akan menimbulkan kecurigaan orang tua Mama Friska.

Ketika anak Mama Friska lahir, Papa yg sudah ada di kota B seminggu sebelumnya, menyuruhku datang ke kota B utk menengok adik baruku. Setiba di rumah sakit, Mama Friska terlihat lebih gemuk dari sebelumnya. Ia tampak ceria dgn bayi mungil dlm gendongannya. Papa pun terlihat sangat bahagia.

Aku makin tak berharap bisa mengulang kebersamaan bersama Mama Friska ketika Papa memutuskan utk pindah ke kota B. Rumah yg biasa ditempatinya dikontrakkan. Papa berpesan pdku utk cepat-cepat menyelesaikan kuliahku, karena ia ingin aku meneruskan kepemimpinan di perusahaannya. Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Yg kupikirkan hanya Mama Friska. Sudah jelas bahwa hubungan kami harus berakhir karena tak ada lagi kesempatan.

Tak dapat kupungkiri, kalau aku masih menyimpan hasrat pd Mama Friska, karena setiap kali mengunjunginya di kota B, gairahku muncul. Begitu kuatnya hasrat itu hingga ketika ada kesempatan berdua saja dgn Mama Friska, terucap kata kalau aku ingin melakukannya lagi. Ada sepercik harapan saat Mama Friska menjawab”, Gimana caranya? Keadaan ‘kan nggak memungkinkan?” Berarti Mama Friska pun masih membuka pintu kesempatan utkku. Hanya saja memang tak mungkin melakukannya, karena ada orang tua dan adik Mama Friska. Saat itu Papa sedang mengunjungi Mama di kota S. Aku cuma bisa menunduk lesu. Tp aku tak putus asa. Kucoba sebuah cara, walaupun aku tak yakin ia bersedia.

“Mama mau nggak ke tempatku?”, pintaku. Maksudku adalah hotel tempat aku menginap. Mama Friska tak segera menjawab. Ia cuma tersenyum sambil menimang-nimang bayi perempuannya yg tak lain adalah adik tiriku.

Di hotel, sepulang dari rumah Mama Friska, kuhabiskan waktu dgn melamun dan berharap Mama Friska datang. Tp hingga aku ketiduran siang itu, harapan tinggal harapan. Yg kutunggu hadirnya tak kunjung datang sampai aku bangun lagi sore harinya.

Wajahku berubah ceria campur berdebar-debar ketika suara pintu kamarku diketok. Waktu itu aku habis mandi dan bersiap turun ke restoran hotel utk makan malam. Aku nyaris meloncat kegirangan saat kulihat Mama Friska di depan pintu. Spontan kuminta ia masuk ke kamar. Mama Friska bilang ia mau belanja susu utk bayinya dan minta aku menemaninya. Tentu saja aku bersedia, tp tak serta merta kami berangkat. Kami bercumbu lebih dulu, menyalurkan birahi yg lama terpendam. Tampaknya Mama Friska pun menyimpan hasrat yg sama. Permainannya lebih hot dari sebelumnya, seolah tak ingin setiap detik terlewati sia-sia.

Dari pengalaman itu, hidupku kembali bergairah. Aku yakin telah menemukan cara lain utk tetap berhubungan dgn Mama Friska. Tp ternyata dugaanku salah. Tak ada kesempatan yg sama terjadi dua kali. Beberapa kali setelah itu aku rajin mengunjungi Mama Friska di kota B, tp harapanku utk bisa menikmati kebersamaan di kamar hotel tak pernah kesampaian. Bukannya Mama Friska menolak, tp keadaan yg tak memungkinkan. Aku harus menelan kekecewaan demi kekecewaan. Aku kembali terpuruk dlm kesendirian. Celakanya, hal itu mengganggu prestasi belajarku. Beberapa nilai mata kuliahku jeblok. Mama dan kakak-kakakku menegurku atas kemerosotan kuliahku.

Dlm kegamangan, aku belajar utk menerima kenyataan. Sulit memang, tp dgn niat yg kuat, akhirnya aku bisa menemukan sebuah jawaban. Ya, aku menyadari hikmah dari semua ini. Sejak awal memang sudah kusadari kalau aku tak akan punya peluang utk memiliki Mama Friska seutuhnya. Mata hatiku dibutakan oleh bayang-bayang kehangatan tubuh Mama Friska. Cinta dan birahi yg berbaur jadi satu bagaikan anggur kenikmatan yg begitu sulit kutepis, hingga pd akhirnya aku tahu kalau itu semua hanya fatamorgana.

Dgn susah payah, aku pun berhasil menyelesaikan studiku, meskipun lebih lambat 1 tahun. Dan sesuai janjiku pd Papa, aku bekerja di perusahaannya mulai dari bawah, dgn perlakuan yg sama seperti pegawai lain. Ini Papa maksudkan agar aku memahami hal-hal mendasar sebelum tiba saatnya bagiku memegang kendali perusahaan.

Akan halnya Mama Friska, hubungan kami tetap berjalan baik-baik saja, sebagaimana layaknya ibu dan anak. Tak lebih dari itu. Seakan ada semacam kesepakatan tak tertulis di antara kami berdua utk mengakhiri cinta yg ada di hati kami.

“Masa lalu kita biarlah berlalu”, kata Mama Friska waktu itu.
“Tak boleh lagi ada cinta di antara kita berdua. Sulit, tp memang itulah seharusnya, oke?”, Mama Friska menyunggingkan senyum manisnya pdku.

Aku mengangguk setuju, walaupun dlm hati merasa berat juga. Kenangan kebersamaan kami menggapai puncak kenikmatan, desahnya, gelinjang tubuh mungilnya masih saja terbayang di benakku. Aku tak tahu apakah Mama Friska masih ingat itu atau sudah melupakannya, seiring dgn kesibukannya merawat anak yg saat ini sudah 2 orang. Yg jelas, aku tdk. Sampai saat ini pun terus terang aku masih merindukan Mama Friska dlm pelukanku, apalagi saat bertemu denganya. Tatapan matanya yg teduh sulit membuatku melupakannya.

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu