Cerita Porno Mbak Ana Gadis

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Mbak Ana Gadis. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Mbak Ana Gadis

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno Mbak Ana Gadis

Jika kalian para wanita merasa tdk percaya diri dgn berat badanmu, tirulah Ana. Dia tdk pernah minder atau rendah diri. Senyumnya selalu mengembang. Orangnya ceria sekali, bertolak belakang dgn Nining. Di samping itu, Ana sangat tangguh dlm mengejar berat badan ideal. Karena itu, aku sempat sangat terkejut menemukan Ana yg langsing.. hanya 49 kg! Sebuah usaha yg patut mendapatkan penghormatan dariku.

Cerita sex terbaru, Karena sifatnya yg mudah bergaul plus wajahnya yg cantik, sejak SMP Ana sdh mengenal pacaran. Sampai kemudian di SMU, kami satu sekolah jg. Jumlah cowok yg mengisi hari-hari Ana semakin banyak. Naik kelas 2 SMU, kami satu kelas. Karena aku dianugerahi IQ yg tinggi (151), pelajaran yg oleh sebagian besar teman-temanku sulit dicerna terasa mudah bagiku. Karena itu tak heran jika PR-ku sering dicontek teman-temanku. Aku memang dgn bebas mempersilakan siapa pun belajar dariku, kecuali waktu test. Teman-temanku sering mengganti istilah ‘menyontek’ dgn ‘belajar waktu test’. Ada-ada saja. Tetapi aku agak ‘pelit’ untuk yg satu ini.

Ana adalah salah satu teman wanita yg minat dan kemampuannya kurang di pelajaran eksak. Karena rumahnya tdk jauh dari rumahku, maka Ana adalah salah satu teman yg paling rajin ke rumahku. Keluarga kami saling mengenal dgn baik. Jadi kehadiran Ana di rumahku sdh seperti keluarga sendiri. Ana bebas keluar masuk rumahku, kecuali keluar masuk kamar tidur tentunya.

Bahkan sampai kuliah, walaupun berbeda jurusan, kami tetap satu universitas. Ana semakin modis dan cantik. Rambutnya disemir kecoklatan plus ion dgn busana yg mengikuti trend. Benar-benar tipikal gadis yg mengikuti perkembangan jaman. Waktu itu aku ingat Ana baru putus dari pacarnya sebulan yg lalu. Aku tahu karena aku beberapa kali menjadi teman curhatnya. Suatu sore, Ana meneleponku.

“Bram.., gue ditembak Davis kemaren.. Wuih.. Gak nygka anak kuper begitu seleranya tinggi amat..” cerocos Ana cerewet.
“Hah? Maksud lo.. Anak yg suka ama lo berarti seleranya tinggi. Gitu?” tanyaku keheranan dgn kepercayaan dirinya. Over confident nggak ya, kira-kira?
“Lha iya, lah! Gue kan cantik, baek, seksi, lembut dan bersahaja..”
“Hehehehe..” aku tertawa.
“Lho.. Kok diketawain? Bener kan, Bram?” Ana nggak terima ditertawakan.
“Hm.. Iya deh, Ana memang cantik dan sexy. Baik jg ama Bram. Tp kalo lembut.. Hmm.. Gimana ya.. Agak kurang pas deh..”
“Waah, ngeledek lo! Aku kan lembut..!!”
“Apanya yg lembut, Ana?” tanyaku pelan sambil agak berbisik.
“Ada deh.. Bram mau tahu aja..!” jawab Ana membuatku bertanya-tanya.

Aku yg tadinya tdk berpikir macam-macam ?alias murni bercanda-, sekarang jadi curiga.

“Ya boleh dong Bram dikasih tahu kelembutannya Ana..” jawabku makin berbisik.
“Hii.. Merinding aku dengar suaramu!” kata Ana agak keras. Kami tertawa bersama.
“Tp aku nggak naksir Davis, Bram..” kata Ana kemudian.
“Oh.. Pasti naksir Bram, kan?” godaku. Kalau betul, wah, lumayan.
“Yee, GR! Pengen laku yah?” ledek Ana.

Waduh.. Kok sepertinya aku jelek sekali sampai Ana bicara seperti itu. Tp emang sih aku masih jomblo..

“Trus naksir siapa, Ana? Kamu boleh cerita ama aku kalau kamu mau..”
“Hm.. Itu, si Ricky. Anak angkatan atas.. Dia cakep, bodynya keren.. Sexy! Dan bibirnya.. Ugh.. Pengen kucium sepuasnya!” Ana mulai ceriwis.

Dia tdk sadar aku mendengarkannya dgn terkejut. Wah.. Anak ini.. Tp memang sasaran Ana si Ricky anaknya cakep.

“Lho, Ana.. Aku kan tingginya nggak beda jauh ama Ricky? Body-ku jg pas kan? Bibirku jg sexy. Kenapa lebih memilih Ricky?” godaku lebih jauh. Aku tiba-tiba ingin tahu posisiku di matanya. Padahal.. Aku sama sekali tdk menyukai si Ana.
“Tau ah! Pokoknya Ricky! Gimana Bram.. Aku mau kirim surat ke Ricky nih!”
“Ya.. Terserah lo aja, Ana. Mau kirim surat ya kirim aja. Lo kan pede orangnya. Masa ginian aja nanya ke aku?” jawabku sekenanya.

Besok siangnya, sepulang kuliah aku santai di ruang keluarga. Papa mamaku belum pulang kerja. Adik-adikku sedang tidur siang. Pembantuku jg tidur mungkin. Aku sedang mengotak-atik komputer saat itu. Seingatku waktu itu aku sedang membuat mini games dgn Turbo Pascal. Kudengar pintu pagar terbuka disusul suara anjingku yg menggonggong menyambut tamu yg rupanya sdh dikenalnya. Ana.

“Hai Bram.. Lagi ngapain?” Ana segera duduk di sofa sambil melihat ke komputerku.
“Lagi nyoba bikin semacam game petualangan. Tokohnya seekor anjing yg berusaha mengumpulkan benda-benda untuk menyelamatkan anak-anaknya yg diculik penjahat.”
“Hm.. Ngeganggu ya? Aku mau curhat boleh?” Tanya Ana.

Tentu saja boleh. Game computer bisa kubuat kapan pun. Segera aku simpan pekerjaanku dan kumatikan komputerku.

“Tentang si Davis atau si Ricky ?” tanyaku menebak.
“Ricky. Aku nggak nygka dia seperti itu.”
“Emangnya ada yg salah dgn Ricky ? Kamu jadi mengiriminya surat?”
“Aku memutuskan untuk bicara langsung denganya. Kalau ditolak, tdk masalah. Yg penting tdk ada bukti tertulis aku pernah menyukainya. Kalau dia sok banget lalu cerita ke teman-temannya, aku bisa menygkalnya.”
“Wah.. Kamu cerdas jg..” komentarku. Emang bener sih.
“Ricky menerimaku, Bram. Tp langsung aku putus lagi dia. Brengsek tuh anak.”
“Lho, ada apa? Kamu menyukainya. Ricky menerimamu, kenapa batal?”
“Ya emang bener kita saling menyukai. Tp si Ricky ternyata nafsu sekali. Masa begitu kami jadian, dia langsung kiss aku, Bram!”
“Hm.. Gak masalah kan jadian lalu kissing? Bagimu terlalu cepat ya?” tanyaku mencoba memahami Ana.

Aku banyak mendengar cerita dari teman-temanku yg langsung kissing pada hari jadian mereka. Jadi, aku menganggap hal itu biasa terjadi.

“Ya bener nggak masalah. Tp masa kissing belum apa-apa, tangannya sdh mau menjelajahi tubuhku. Meremas buah dadaku. Wah.. Cowok apaan tuh? Emang pacaran buat apaan? Nge-sex?” protes Ana.

Kali ini kuakui Ricky memang terburu nafsu. Tp aku ingin memancing Ana lebih jauh lagi.

“Lho.. Kan nggak harus diputus? Beri kesempatan dong. Lagian, seingatku, kemarin kamu memuji keseksiannya. Bibirnya yg menarik.. Kok sekarang begini? Wajar kan cowok begitu? Salah sendiri kamu cantik dan sexy, Ana?” tanyaku lagi.
“Bener aku cantik dan sexy menurutmu, Bram?” Tanya Ana.

Suaranya terdengar agak berat. Menuruntuku dia mulai ingin menangis.

“Ya, kamu cantik dan sexy.. Wajar kalau Ricky ingin menyentuhmu..” aku agak nekat berkata seperti ini.

Perkataanku kali ini keluar dari jalur empatiku terhadap Ana. Resikonya Ana akan berpikiran aku seperti Ricky. Tp ternyata Ana agak memerah mukanya. Aku belum berani mengartikan perubahan warna mukanya.

“Kalau Bram.. Apa ingin menyentuhku?” bisik Ana.

Kali ini aku seperti disambar petir. Sungguh di luar dugaanku. Sekian detik aku berusaha mencerna maksud kalimatnya. Merekonstruksi kejadian telepon kemarin, kisah Davis, dan Ricky. Aku punya dugaan, tetapi aku belum yakin. Tiba-tiba darahku berdesir. Aku tegang memikirkan kata-kataku selanjutnya untuk memancing apa maksud Ana.

“Hmmmm.. Ana terlalu berharga untuk sekedar di sentuh..” bisikku.

Kali ini aku menyelidiki matanya. Eyes never lies. Pupil matanya mengecil. Ana menyimpan sesuatu.

“Lalu apa yg ingin cukup berharga untuk Bram lakukan terhadap Ana?” tanyanya kemudian.

Dugaanku semakin kuat. Aku hampir melonjak kegirangan ketika menemukan kesimpulanku. Tp aku bukan pria yg gegabah. Aku masih membutuhkan tambahan informasi untuk dugaanku. Kurasakan k0ntolku ereksi. Entahlah, kalau otakku lagi menaikkan kinerjanya, seringkali k0ntolku ereksi.

“Kalau aku.. Aku akan membuat Ana melayg. Menembus awan, terbang ke langit merasakan kebebasan. Ya.. Bram mungkin akan jauh lebih berani dari Ricky..”

Aku berdebar menantikan reaksi Ana. Aku berharap pembaca mengerti. Dlm dugaan di pikiranku saat itu, cerita tentang si Ricky adalah rekayasa Ana. Aku sdh pada satu kesimpulan bahwa Ana menyukai dan menginginkanku. Dan Ana memancingku untuk mengetahui seberapa berani aku terhadapnya. Tetapi memang dugaanku ini menyisakan kemungkinan untuk salah. Jika ternyata Ana jujur, maka aku sdh telanjur mengungkapkan hasratku. Aku setali tiga uang dgn Ricky. Menginginkan tubuh Ana.

“Bagaimana cara Bram membawaku terbang melayg..?” bisik Ana sambil mendekatkan wajahnya.

Aku mulai bisa merasakan hangat nafasnya. Aku jadi takut melangkah. Seharusnya aku sdh menciumnya saat itu. Merengkuh tubuhnya dan menunjukkan caraku membawanya terbang melayg. Daripada dgn kata-kata, jauh lebih baik dgn perbuatan. Tp justru sikap Ana membuatku hati-hati. K0ntolku semakin tegang. Gila.. Apa maksudmu, Ana?

Sedetik.. 2 detik.. 3 detik.. Dan aku memutuskan untuk tdk menciumnya.

Aku berdiri dan duduk di sofa di sampingnya. Ini rumahku. Tentu aku tdk mau dipermalukan di rumahku sendiri. Tampaknya aku kehilangan momen menentukan tadi.

“Bram?” bisik Ana. Dia memalingkan tubuhnya menghadapku.
“Aku bisa mencumbumu, membuat tubuhmu merasakan kenikmatan dan akhirnya bercinta dgnmu, membawamu terbang melayg. Tetapi aku menghargaimu, Ana. Aku bukan Ricky. Aku tdk akan menyentuh tubuhmu tanpa ijinmu. Tanpa kau sendiri yg menginginkannya untuk aku lakukan terhadapmu..” aku akhirnya memilih berhati-hati.

Sesaat aku ingin kesempatan yg tadi terulang. Mungkin aku betul-betul akan menciumnya kalau kesempatan itu ada lagi.

Plak!, sebuah tamparan dari Ana ke wajahku. Aku terkejut. Tdk ada alasan bagi Ana untuk berhak menamparku. Aku tdk bersalah. Sedetik kemudian aku sadar. Ini mungkin momen kedua. Tamparan tadi pasti ijin dari Ana agar aku menciumnya. Dan aku merengkuh tubuhnya. Menciumnya tepat di bibirnya.

Ana menyambut ciumanku dgn dahsyat. Bibirnya bergerak lincah berpadu dgn lidahnya yg menari-nari mencumbuku. Aku merasakan sensasi baru dlm bercumbu karena kehebatan Ana memainkan lidahnya. Lidahnya seperti punya nyawa sendiri. Bisa hidup dan bergerak sendiri. Aku tentu saja tdk mau kalah. Kugunakan bibir dan lidahku pula untuk melayani permainannya. Benar-benar percumbuan yg panas. Tangannya mengacak-acak rambuntuku. Sedangkan aku terkonsentrasi pada bibirnya. Tanganku menahan lehernya agar tetap dekat dgnku.

“Uhm..” ciumanku beralih ke pipi, leher dan telinganya.

Ana menggelinjang hebat ketika aku mencium telinganya.

“Ughh..” desah Ana.

Bahasa tubuh Ana ini khas sekali. Sangat penuh dgn sentakan. Seakan-akan seluruh tubuhnya berisi titik-titik peka yg mudah dirangsang. Bagian apa pun yg kusentuh dgn tanganku, membuatnya menggelinjang. Gadis ini liar dan menggairahkanku!

“Si Ricky itu rekayasamu, ya?” bisikku di telinganya untuk memastikan dugaanku.
“I.. Iyah..” jawab Ana sambil menahan nikmat.

Aku tertawa penuh kemenangan dlm hati. Dugaanku ternyata benar. Untung aku tdk kehilangan momen keduaku ini. Tanganku menyelusup ke balik kaosnya. Meraba kait bra-nya yg 34C dan melepas bra-nya turun. Dgn lembut aku menempatkan telapak tanganku ke buah dadanya. Aku meletakkan putingnya tepat di tengah telapak tanganku dan mulai kuputar tanganku. Sesekali aku menekan buah dadanya yg lembut.

“Kau.. Memang lembut Ana..” bisikku.

Lidahku kini memasuki telinganya. Ana kegelian. Sontak kepalanya menunduk ke arah bahunya, menjepit wajahku. Refleks menahan geli. Tangan kiriku dgn leluasa menjelajahi punggungnya yg ditumbuhi bulu-bulu sangat halus. Ana beberapa kali tersentak menahan rangsangan di punggungnya. Wah.. Gadis ini mudah sekali dirangsang, pikirku.

Bibir kami kembali beradu. Bercumbu dgn sebebas-bebasnya. Sepuas-puasnya. Aku terkejut ketika tiba-tiba Ana melenguh cukup keras. Kuatir kalau adik atau pembantuku terbangun dari tidurnya. Dgn bersemangat aku menggendong tubuh Ana. Sambil tetap bercumbu aku membawanya masuk ke kamarku. Membaringkan tubuh Ana ke spring bed, mengunci pintu, menyalakan AC dan memutar radio. Setdknya suara Ana tdk akan terdengar sampai keluar.

Begitu aku selesai memutar radio, kulihat Ana sdh melepas kaosnya dan celana dalamnya. Dia telanjang bulat di depanku. Sungguh tubuhnya sangat indah. Buah dadanya yg 34C terlihat begitu memukau. Bentuknya sangat seksi. Pas di tubuhnya yg langsing. Beberapa saat kami berhadap-hadapan. Aku menikmati memperhatikan tubuhnya yg utuh.

Ana kemudian melompat ke arahku. Memelukku sambil tangannya bergerak cepat melepas kaos dan celanaku. Sangat terampil dan cekatan. Dlm waktu singkat kami sama-sama telanjang bulat. Ana sungguh liar. Sambil sama-sama berdiri kami bercumbu lagi. Beberapa kali aku harus menahan keseimbangan agar tdk terjatuh.

Ternyata sulit bercumbu dgn penuh semangat sambil berdiri tanpa sandaran. Perlahan aku menyandarkan tubuh Ana ke dinding kamarku. Eh, Ana tdk mau. Aku yg disandarkannya ke dinding kamarku. Dia menyerangku. Mencumbuku dgn semangat. Lidahnya mulai menyapu leherku, dan menggigitku kecil. Kemudian turun ke dada, perut dan akhirnya menemukan k0ntolku yg sdh berdiri tegak.

“Ogghhhh..” aku melenguh menahan nikmat saat Ana mulai mengoralku.

Tdk hanya mengoral. Tangannya jg aktif memijat k0ntolku dari batang k0ntol, menuju pangkal k0ntol. Memainkan testisku, kadang tangannya dgn nakal membuat guratan maya dari k0ntol ke anusku. Sangat menggairahkan. Oralnya dahsyat jg. Ana tanpa segan mengulum k0ntolku dan sepertinya dia berusaha menelan semua k0ntolku!

“Ohh.. Ohh..” aku hanya bisa mendesah.

Kepala k0ntolku semakin membesar dgn warna kemerahan. Aku tahu, ini ereksi maksimalku. K0ntolku mencapai diameter terbesarnya. Sekitar 4.2 ? 4.7 cm. Ana makin bersemangat mengoralku. Sekarang dia berusaha menghisap kepala k0ntolku. Oh.. Dia menemukan sisi lemah k0ntolku. Aku paling tdk tahan kalau serangan oral ditujukan hanya ke kepala k0ntolku.

“Lepas dulu Ana, aku tdk tahan..” bisikku.

Daripada aku orgasme saat itu, rugi berat. Aku harus pandai mengatur tempo. Ana mematuhiku. Dia hanya memijat k0ntolku dgn tangannya. Perlahan aku ikut menunduk. Mataku menatap selangkangannya. Ana tampaknya mengerti maksudku. Dia duduk di atas spring bed dan membuka kakinya lebar-lebar. Kepalaku masuk dan aku mulai mengoralnya. Baunya mirip dgn Nining, sama-sama khas. Tetapi bau milik Ana lebih harum. Belakangan aku tahu Ana menggunakan pengharum khusus. Aku merasa lebih enjoy mengoral Ana kali ini. Memek Ana bulunya dicukur sampai hanya tersisa sedikit. Aku menyibak labia mayoranya dan mulai menyedot memeknya.

“Ughh..” Ana melenguh.

Lidahku menari-nari dgn bebas. Menghisap dan menjilat dgn leluasa. Aku seperti menemukan sirup kental asin di memeknya yg basah. Aku mulai terbiasa dgn rasa asin itu. Kunikmati saja. Srrt.. H.. Slurrpp.., aku benar-benar mengoral Ana sepuasku. Tubuh Ana tersentak-sentak. Rambuntuku dijambaknya dgn keras. Bahkan kadang tangannya mengepal memukuli tubuhku.

“Bram, Ohh.. Kau.. Ohh..” suara Ana tak kudengar jelas.

Dia meraung dan menggelinjang. Setelah beberapa menit, muluntuku terasa capek. Aku kemudian menggunakan dua buah jariku untuk mencari G-spotnya. Di dinding dlm memeknya, aku menemukan daerah yg ada bintik-bintik kecilnya. Aku berhenti disitu dan mulai merangsangnya disitu. Tubuh Ana bergetar makin hebat. Aku belum yakin apakah itu G-Spotnya, tetapi yg jelas reaksi tubuh Ana sungguh dahsyat. Dia sampai menjerit dan berteriak..

“Ohh.. Nikmat!! Terus Bram..!”

Aku tak peduli apakah teriakan Ana terdengar sampai keluar. Yg jelas aku makin bersemangat menyiksanya dgn kenikmatan. Tak lama kemudian aku mengambil kondom dan memakainya. Aku sampai saat itu masih tetap ingin bercinta dgn kondom. Ana tampaknya tdk keberatan aku memakai kondom.

“Sdh pengalaman pakai kondom ya?” goda Ana. Aku tersenyum. Jadi ingat Nining, nih.

Aku meminta Ana membalikkan tubuhnya. Ingin kucoba posisi doggy. Perlahan kumasukkan k0ntolku. Ternyata lebih mudah memasukkan k0ntol dgn posisi seperti ini. Mulai kudorong lebih dlm dan.. ‘bless..’ k0ntolku sukses memasuki sarang kenikmatan.

Kami bercinta dgn dahsyat. Pertama aku memompa k0ntolku dgn tempo pelan. Menikmati setiap gesekannya. Kemudian temp bertambah cepat. Bertambah cepat lagi dan akhirnya sampai terdengar bunyi yg khas setiap aku memompakan k0ntolku ke memeknya.

Ana kali ini lebih diam. Dia hanya melenguh sesekali. Kulihat bibirnya merapat. Mungkin ini caranya menikmati persetubuhan. Aku terus memompa k0ntolku. Keluar masuk memeknya. Sesekali aku berhenti untuk mengambil nafas, memutar-mutar k0ntolku dan kalau aku sdh di ambang orgasme, aku berhenti lagi. Aku tdk mau tergesa-gesa orgasme.

“Ganti posisi, Bram..” kata Ana.

Aku kemudian telentang di springbedku. Ana menaikiku dari atas. Kubantu k0ntolku memasuki memeknya. Wah, ini pertama kalinya aku bercinta dgn tubuh di bawah. Aku sedikit kesakitan waktu Ana hendak menurunkan tubuhnya. Agak kurang pas mungkin. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kami sukses melakukannya.

Ternyata enak jg. Aku tdk banyak bergerak. Hanya tanganku sesekali meremas lembut buah dadanya. Selebihnya Ana yg aktif. Tampaknya ini posisi favorit Ana. Dia memutar-mutar pantatnya, naik turun mempermainkan k0ntolku. Kurasakan denyut memeknya yg menjepit k0ntolku. Luar biasa. Aku akhirnya bisa bercinta lebih lama dibanding dgn Nining.

“Ohh.. Ohh..” Suara Ana menikmati percintaan kami.

Tak lama kemudian kurasakan tubuh Ana bergetar makin hebat, makin hebat dan gerakannya makin cepat. Ana sedang berlari mengejar orgasmenya. Beberapa saat kemudian Ana menghentikan gerakannya. Tubuhnya menegang dan ia melenguh panjang.. Rupanya Ana mencapai orgasmenya. Yg aku ingat, ada ciri menarik dari orgasme Ana. Orgasmenya berbunyi! Ada bunyi yg keluar dari memeknya. Aku sampai terheran-heran kemudian tertawa.

“Kamu orgasme ya? Kok bunyi?” kataku heran.
“Iyaa.. Jangan diledek ya!” kata Ana manja.

Posisi berganti lagi. Aku memilih posisi konvensional dgn tubuhku diatas. Aku ingin menikmati melihat wajah dan tubuh Ana dgn bebas. Dgn posisi ini, energi yg kukeluarkan makin banyak. Tak lama kemudian akupun orgasme. Aku dgn lega menyemburkan spermaku. Kemudian kutarik k0ntolku dan kulepas kondomnya.

“Kamu luar biasa..” bisikku sambil mencium hidungnya.
“Makasih ya Bram.. Aku sdh lama menyaygimu. Tp kupikir kamu anaknya kuper. Cuma mengurus komputer dan buku kuliah. Ternyata kamu menikmati sex jg..”
“Kamu kapan mulai kenal Sex, Ana?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya dan mengelusnya lembut.
“Dari SMU kelas 1, Bram. Tuh si Erdy yg dapat.” Kata Ana terus terang.

Wah, aku tdk suka mengetahui siapa cowok yg pernah bercinta dgn wanita yg berbagi kenikmatan dgnku. Tetapi aku menghargai Ana yg berterus terang.

“Kamu hipersex ya, Ana?” tanyaku lagi.
“Engga tuh, Bram. Aku angin-anginan. Kalau aku lagi penasaran dgn seseorang, aku bisa tiba-tiba bergairah dengannya. Tp pernah jg aku pacaran 5x tanpa making love. Malas aja gitu. Tak tentu deh.”

Aku mendapatkan jawaban yg berbeda lagi. Jangan-jangan tiap wanita berbeda jawabannya?

“Kalau lagi kepingin.. Kamu memilih masturbasi atau making love?”
“Ya making love lah! Jauh lebih enak. Ngapain masturbasi? Tp aku tdk bisa making love dgn sembarang pria, Bram. Kamu orang ke tiga yg ML dgnku.”

Aduh.. Aku orang ketiga! Aku benar-benar tdk suka kejujuran seperti ini. Tdk ada perlunya aku tahu bahwa aku orang ke tiga yg bercinta dengannya.

“Lalu.. apakah sex itu sangat penting bagimu? Apakah sex itu salah satu yg terutama?” aku kemudian menceritakan rasa penasaranku terhadap wanita .

Aku jg bercerita tentang pendapat Lucy dan Nining.

“Dulu aku berpikiran tdk. Tetapi setelah merasakan ML pertamaku yg luar biasa, aku jadi merasa sangat membutuhkan sex. Rasanya, memang sex menjadi salah satu yg utama.”
“Oh ya? Kalau ada cowok dgn daya seks yg hebat, tetapi dia tdk setia, tdk menghargaimu dan banyak sisi negatifnya.. Dibanding dgn cowok yg setia, menghargaimu.. Dan banyak sisi positifnya, tetapi daya seksnya sangat lemah atau impoten, kamu pilih yg mana?” tanyaku kemudian.
“Wah.. Susah nih jawabnya.

Lagian tdk mungkin kan seseorang dgn potensi sex hebat tp semua pribadinya jelek? Dan jg aku rasa hanya sedikit orang yg impoten permanen. Selebihnya pasti ada solusi untuk impotensinya.”

“Jawab aja. Aku cuma ingin tahu.” desakku pelan.
“Hmmm.. Kamu jangan cerita ke orang lain ya. Papaku sekarang impotent. Tp dia jauh lebih baik dibanding dulu. Dari curhatnya Mama ke aku, rasanya Mama lebih suka Papa yg sekarang deh.”
“Itu kan Mamamu. Kalau kamu?”
“Susah, Bram, aku jawab lain kali ya?”

Nah, aku tdk bisa memaksanya bukan? Jawaban kira-kira jg tdk akan enak disimpulkan. Yah, aku berharap dgn berjalannya waktu, Ana akan terus berpikir dan lalu menyimpulkannya.

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu