Cerita Porno Kekuatan Seks Baru Dalam Diriku

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Kekuatan Seks Baru Dalam Diriku. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Kekuatan Seks Baru Dalam Diriku

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno Kekuatan Seks Baru Dalam Diriku

Malam ini sungguh akan menjadi malam yg tdk terlupakan semumur hidupku, bagaimana tdk, gadis pujaan yg selama ini kucintai ternyata memutuskan utk pisah setelah 2 bulan berpacaran. Yah.. memang salahku jg, karena aku sering berusaha membuatnya melakukan hal yg aneh-aneh, misalnya menyuruhnya memakai pakaian sexy waktu jalan jalan, melakukan hubungan sex yg kasar, dan kadang memaksa melepaskan cd sewaktu diluar, dan dia sangat tdk terbiasa dgn semua itu. Dia bukan tipe wanita seperti itu, dan memutuskan utk berpisah utk selamanya.

Malam jam 10, aku dgn pikiran kesal, sedih dan galau menyetir mobilku dgn kecepatan sedang balik ke rumahku. Tp rasanya sedang tdk ingin pulang kerumah dulu, jadi aku memutuskan utk menyetir tanpa arah, kemana saja, dgn suara tape mobil yg berdentum keras, kecepatan mobil tanpa terasa bertambah kencang. 15 menit dlm lamunan bayangan wajah mantan pacar, tak terasa aku masuk ke jalan tol. Suara dentuman bas merubah moodku menjadi bersemangat kembali, toh masih banyak wanita lain yg bisa kudapat, utk apa bersedih.

Dan tak terasa, kecepatan mobil sdh di 120km/jam. Jalan lurus dan lampu tol yg tdk hidup semua, membuat sebagian jalan tol agak gelap. Sambil bernyanyi mengikuti irama musik, pedal gas semakin dlm kuinjak. Sekarang kecepatan mobil sdh masuk ke 140 km/jam, dan saat itulah, sebuah kilatan cahaya meyambar jalan didepan mobilku, cahaya berwarna biru muda, dgn kecepatan itu, aku mengerem tiba tiba, dan anehnya, mobilku tetap melaju, cahaya biru itu menyelimuti seluruh mobil dan tubuhku berubah bercahaya terang, terasa dingin yg menusuk tulang, kepalaku menjadi pusing dan semuanya berubah gelap… mungkin inilah akhir hidupku, walau pun aku tdk menyadari kalau ini adalah malam yg benar benar tdk akan kulupakan seumur hidup.

Mataku terbuka, pertama-tama yg kurasakan adalah rasa sakit diseluruh tubuhku, rasanya badanku remuk semua, dan memang, 5 bagian tubuhku patah tulang, kaki kanan, lengan atas kiri, 3 tulang rusuk. Beruntung aku masih hidup setelah ditolong masyarakat yg tinggal di sekitar tol, mereka mendengar suara mobilku menabrak besi pembatas jalan. Mataku terasa berat, bibirku terasa kering, dan pusing dikepala akibat terbentur membuatku pingsan kembali.

Mataku kembali terbuka, kali ini rasa sakit terasa agak berkurang, walau kepala masih terasa pusing, tp aku merasa aku akan hidup. Setelah beberapa saat, baru aku menyadari, seorang perawat sedang membersihkan badanku. Aku masih terlalu lemah utk menyapanya. Aku pasrah membiarkannya membersihkan badanku. Seminggu berlalu, aku mulai merasa bersemangat kembali, bahkan aku sdh mulai mengetahui sedikit cerita tentang kecelakaanku melalui suster yg tiap hari merawatku. Laras, itulah nama suster yg sdh sebulan merawatku, ya, sdh sebulan aku terbaring dikamar rumah sakit ini.

Lewat Laras aku mengetahui bagaimana mobilku hancur dan siapa yg membawaku ke rumah sakit ini, dlm hati aku berjanji akan mengunjungi bapak yg sdh membawaku kesini utk berterimakasih. Bahkan suster Laras sengaja menyimpan koran yg memberitakan tentang kecelakaanku, sebuah gambar mobil yg hancur remuk membuatku ngeri, bagaimana mungkin aku masih bisa hidup. Aku teringat cahaya biru itu, tp aku tdk membaca ada saksi yg menyatakan ada cahaya biru yg kulihat dan kurasakan, jadi aku memutuskan itu hanya khayalanku saja, orang yg akan mati bisa saja berpikiran yg aneh-aneh, itulah yg kupercayai dan itu yg paling masuk akal.

Siang hari, suster Laras datang membawa bekal makanan. Hari ini menurut dokter, aku sdh harus melepas infus dan mulai memakan makanan sendiri. Suster Laras mulai menyuapiku, aku makan dgn semangat, dan berharap bisa cepat berjalan kembali.

Namaku Hendri, umur 28, pekerjaanku sederhana, agen apa saja, dan aku mengenal sangat banyak relasi, dan aku mempunyai banyak teman. Aku menjual apa saja yg bisa dijual, dan membeli apa saja yg menguntungkan, mau yg halal maupun haram, semua yg bisa menjadi uang pasti kulayani. Perawakanku biasa saja, tdk terlalu tinggi, tdk terlalu tampan, badanku fit karena waktu kerjaku tdk terikat, aku kadang menemui teman atau relasi sambil fitness atau tenis atau futsal, tergantung ajakan teman. Dan ekonomi ku yg lumayan membuatku tdk banyak pikiran. Aku enjoy saja dgn kehidupanku. Dan tdk ada keluargaku yg tinggal dekat dgnku, dikota ini aku hidup sendiri. Itulah sedikit tentang diriku, tdk banyak yg bisa kuceritakan.

Sebulan kembali berlalu, aku sdh merasa sehat, hanya jalanku harus dibantu tongkat penygga. Aku diharuskan berjalan mengelilingi taman rumah sakit atas perintah dokter, supaya otot-ototku bisa terlatih. Seminggu kemudian, dokter menyatakan aku sdh boleh pulang kerumah, waktu yg kutunggu tunggu, Laras membantuku membeli satu setel baju, karena selama ini aku memakai baju rumah sakit, dan karena ponselku hilang entah kemana, tdk ada orang yg bisa menghubungiku, dan aku jg tdk mau merepotkan mereka. Jg ada Laras yg membantuku setiap hari.

Setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya aku menggunakan telepon, aku harus meminta tolong abangku yg tinggal dikota lain utk membereskan administrasi rumah sakit. Tentu abangku sangat terkejut karena tagihan RS nya lumayan besar, aku mengatakan akan menceritakan semua setelah sampai dirumah, tentu tdk lucu bercerita dgn telepon rumah sakit. Orang kedua yg kutelepon adalah teman baikku yg paling dekat, Dika. Tdk sampai 15 menit, Dika muncul di lobby rumah sakit. Setelah berpamitan dgn Laras, aku keluar dari rumah sakit dgn mobil Dika.

Sampai dirumah, aku bingung, kunciku tdk ada, terpaksa kami mencari tukang kunci, utk membuka pintu rumahku sendiri. Aku memang ditolong warga, tp barang berhargaku jg ikut “ditolong” masuk ke inventory mereka. Tp aku tetap bersyukur masih hidup. Hanya perlu 50 menit bagi tukang kunci utk membuka 2 kunci pintu rumahku dan mengganti dgn kunci baru. Setelah membayar jasanya, kamipun masuk ke rumah. Sungguh ada perasaan yg nyaman masuk kembali ke rumah sendiri. Hal pertama yg kulakukan adalah merasakan nyamannya kasur empukku. Sungguh nyaman rasanya. Dika sedari tadi memberondongiku dgn segala macam pertanyaan, kujawab satu persatu sebisaku. Dan bagian cahaya biru itu tetap kulewati, karena tdk mau dicap berhalusinasi.

Setelah merasa diriku sdh bisa ditinggal, Dika pun pamit pulang utk melanjutkan aktifitasnya. Setelah berbaring sejenak, aku masuk ke kamar mandi dan menghidupkan shower, air hangat membuat badanku terasa ringan. Beberapa menit kubiarkan pundakku disiram air hangat. Pikiranku kembali teringat pada Laras dan k0ntolku terlihat menegang. Sesuatu yg agak aneh karena tdk biasanya aku bisa terangsang hanya membayangkan wajah wanita. Mungkin karena sdh terlalu lama tdk bercinta, pikirku.

Waktu menunjukkan jam 1 siang. Masih sempat ke bank utk mengurus atm dan kartu kreditku, pikirku. Setelah menelepon taksi, aku berjalan ke halaman rumah menunggu taksi yg kupesan. Tdk sampai 5 menit, taksi datang membawaku pergi ke bank. Setelah menyelesaikan segala administrasi, dan beruntung aku adalah nasabah yg sdh dikenal, tanpa kartu pengenal aku dibuatkan ATM baru, hanya bermodal buku tabungan.

Setelah menarik uang cash seperlunya, aku kembali menyetop taksi dan mengunjungi toko teman yg menjual ponsel, dan tempat terakhir yg kukunjungi adalah showroom mobil yg jg masih relasi kerjaku. Karena hubungan kerja dan jg aku pernah menolongnya keluar dari masalah keuangan, sebuah sedan baru yg kebetulan ready langsung kuambil, setelah membayar sejumlah uang muka.

Aku merasa kembali ke kehidupan normalku. Hal pertama yg terpikir adalah kembali kerumah sakit utk mengunjungi Laras. Sebelumnya tdk lupa aku membeli satu setel baju yg kurasa sangat pas kalau di pakai Laras, sebuah baju terusan warna biru muda. Dan tdk lupa setangkai bunga, sebagai ucapan terima kasihku karena sdh sebulan lebih merawatku. Setelah sampai di rumah sakit, aku naik kelantai 4 tempat aku dirawat, dan berharap bisa menemui Laras. Aku duduk di kursi tunggu di koridor rumah sakit. Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya Laras melangkah keluar dari ruang pasien.

Dgn senyum yg selalu menghiasi wajahnya, terlihat Laras memang sangat mengabdi pada pekerjaannya. Laras tdk memperhatikanku, atau mungkin tdk terlintas pikiran bahwa pasien akan mencarinya, karena selama ini dia merasa hanya melaksanakan tugasnya sebagai perawat. Aku bangkit dari kursi dan buru-buru mengikutinya dan sambil menepuk pundaknya.

“Laras” panggilku. Laras menoleh kebelakang.
“Ada masalah apa?” Laras bertanya dgn wajah cemas, dikira ada yg tdk beres lagi dgn diriku.
“Tdk, aku cuma datang mengantar ini” jawabku, sambil menyodorkan setangkai bunga biru, aku tdk tau apa nama bunganya, tp ntah kenapa aku menjadi suka dgn biru.

“Wah.. terima kasih. Cantik sekali bunganya” jawab Laras.
“Dan jg ini.” aku menyerahkan sebuat tas yg berisi pakaian tadi.
“Apa ini?” tanyanya, agak ragu mau menerima.
“Aku kan berutang baju padamu, jadi sekarang lunas ya?” jawabku sambil sedikit memaksa Laras utk menerima.
“Yah, sdh deh kalau emang begitu, tp aku masih ada dijam kerja, jadi tdk bisa lama mengobrol” balas Laras.
“Aku mengerti, boleh kujemput nanti pulang kerja, sekedar makan malam utk membalas jasamu selama ini?”

“Tdk perlu, itu memang udah pekerjaanku” jawab Laras sambil tersenyum.
“Ayolah, aku memaksa nih.” rayuku lagi.
“Sdhlah, jam 7 aku selesai tugas.” jawab Laras, mungkin karena tdk mau dimarahi supervisor, supaya aku cepat melepaskannya, lagian dlm sebulan ini Laras sdh merasa dekat dgn ku, jadi tdk salah kalau makan malam berdua sebagai teman.

“Sip. terima kasih. Aku tunggu di lobby ya” jawabku dgn senyum lebar.

Laras berjalan menjauhiku sambil mengangguk kecil. Jam 7, berarti masih 2 jam.

“Laras!” aku teringat ada yg terlupa.
“Ya?” jawabnya sambil menoleh ke arahku.
“Boleh minta koran yg mengenai kecelakaanku? Maaf merepotkan terus.” tanyaku.

Aku mengikutinya sampai pintu ruang khusus perawat, beberapa saat kemudian, dia keluar dgn sebuah suratkabar, dan bunga dan tas sdh disimpan di ruang tersebut. Setelah berterima kasih aku meninggalkannya utk melanjutkan tugasnya. Tempat kecelakaanku tdk terlalu jauh dari rumah sakit, aku berpikir, sempatlah 2 jam utk melihat kesana dan kembali utk menjemput Laras. 20 menit kemudian, sampailah aku di lokasi, setelah bertanya sana sini, akhirnya aku mendapat alamat Pak Gunawan yg membawaku ke rumah sakit.

Sampai di alamat tersebut, terlihat sebuah rumah sederhana, dgn beberapa ekor ayam mencari cacing di tanah di halaman rumahnya. Sebuah rumah kecil, tp terlihat rapi, walau batu bata nya tdk diplester, tp terlihat nyaman.

Setelah mengetok pintu, seorang bapak, atau lebih cocok disebut kakek, kuperkirakan berumur 60an, membuka pintu.

“Pak Gunawan?” tanyaku.
“Iya, adek sapa?” tanyanya kembali.
“Saya Hendri,Pak.

Pak Gunawan ingat waktu itu ada kecelakaan di depan rumah bapak?” tanyaku. Pak Gunawan ingat saat kecelakaan itu, dan tdk menygka aku bakal mencarinya. Pak Gunawan mempersilahkanku masuk kedalam. Tdk banyak yg terdapat didalam rumah mungil itu, dan kita duduk di tikar, ada sebuah tv kecil di ruangan itu. Satu satunya hiburan yg kulihat di rumah itu. Ada 2 kamar yg pintunya hanya ditutupi kain. Sebuah kamar mandi di ujung ruangan. Kecil, sederhana tp tertata rapi. Sirkulasi udara yg baik membuat rumah itu terasa adem.

Setelah bercerita hampir satu jam, aku pamit pulang, dan berjanji akan datang mengunjungi pak Gunawan kembali. Setelah bersalaman, aku kembali ke rumah sakit. Jam sdh menunjukkan 18.30, sambil menyetir, aku berpikir mau makan malam dimana dlm perjalanan ke RS, aku kembali mengingat waktu Laras merawatku dgn telaten. Tanpa terasa k0ntolku mulai berdiri.

“Ah. tdk boleh berpikiran begitu.” batinku sambil memukul kepalaku utk menyadarkan diriku sendiri.

Ada yg lain dlm diriku. Dan dlm lamunan, tdk terasa aku sdh sampai ditujuan.

“Laras” aku memanggilnya dari dlm mobil. Rupanya Laras sdh selesai dan menungguku di depan pintu rumah sakit.
“Hai” Laras menjawab.

Aku mengisyaratkan supaya Laras masuk kemobil. Laras pun menurut saja. Yg membuatku senang adalah, pakaian yg kubeli tadi sdh melekat pas dibadan Laras, tdk salah aku memilih baju ini, Laras terlihat sangat feminim dgn baju dan warna biru. Laras berumur 23, sdh menjadi perawat 2 tahun sejak tamat dari akademi perawat. Wajahnya biasa saja, terlihat wajah yg agak polos, badan jg tdk terlalu tinggi, 160 mungkin, tp yg tdk kuperhatikan selama ini adalah ternyata buah dadanya lumayan besar, mungkin karena seragam suster yg dipakai menutupinya selama ini.

Baju biru yg kubeli ini tdk seksi, tp layaknya sebuah baju terusan, bagian dada lebih terlihat membusung, dan kaki yg selama ini terbungkus celana panjang terlihat indah, karena baju terusan itu hanya sebatas lutut. Kulit putihnya lebih terlihat, sungguh beda penampilan sebagai seorang suster dan yg sekarang. Tiba tiba k0ntolku terasa sesak. Aku merasa bersalah karena ulah k0ntolku.

“Cocok gak?” tanya Laras membuka pembicaraan.
“Cantik banget. Siapa dulu yg milih.” balasku sambil tertawa.

Sambil mengobrol, aku menuju ke sebuah restoran yg tdk terlalu jauh dari rumah sakit. Sebuah restoran yg nyaman, dgn lampu remang, membuat suasana makin romantis. Waiter langsung menghampiri, dan setelah mengatakan namaku, langsung diantar ke tempat duduk di sudut ruang. Memang aku sdh memesan tempat tadi sebelum menuju kesini. Waktu yg cocok utk mengetahui lebih dlm tentang diri Laras. Aku sangat menikmati malam ini, setelah menikmati makanan, aku mengantar Laras pulang.

Sewaktu Laras turun dari mobil, roknya terangkat agak keatas, sehingga pahanya terlihat lebih banyak dari sebelumnya, k0ntolku langung mengeras. Aku heran, kenapa aku mudah terangsang, memang sejak keluar dari rumah sakit aku belum pernah bercinta, tp, sepertinya ada yg aneh dlm diriku. Ingin rasanya aku memeluk dan mencium Laras saat ini jg, tp aku tdk mungkin melakukan hal seperti itu pada Laras. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih padaku,

Laras berjalan ke arah rumahnya. Aku menunggunya sampai dia sampai di pintu, setelah mengetuk pintu beberapa saat kemudian, ibuya membukakan pintu. Laras memang masih tinggal bersama keluarganya. Aku memutuskan utk kembali pulang kerumah, capek seharian mengunjungi berbagai tempat. Sampai dirumah, aku mandi dan berbaring di kasur. Rasanya moodku sangat bagus saat ini. Kembali bayangan Laras memenuhi otakku, k0ntolku pun segera naik, tak tahan tanganku turun utk meraba k0ntolku yg sdh mengeras, sambil mengocok pelan, aku membayangkan meremas dan mencium bibir Laras, pikiranku terus menerus terfokus pada wajah Laras, tiba tiba tanganku yg sedang mengocok k0ntol hanya menggenggam udara, K0NTOL KU HILANG!!!

Aku tekejut setengah mati, dan yg lebih menakutkan lagi, sepasang buah dada muncul di dadaku. tanganku menjadi tangan wanita. Astaga, apa yg terjadi padaku, aku meraba wajahku sendiri, rasanya lain, terasa halus. Aku buru buru mencari cermin, dan setelah bercermin, aku tdk melihat bayangan diriku, aku melihat Laras! Dgn buah dada yg menggantung indah, dan hanya memakai celana pendekku. Aku masih tdk percaya dgn apa yg kulihat.

Jantungku berdetak kencang, bukan karena bisa melihat tubuh Laras yg setengah telanjang, tp mengapa ini bisa terjadi? Aku menarik nafas dlm, pikiranku buntu, aku tdk tau apa yg harus kulakukan saat ini. Aku masih berusaha utk mencerna semua kejadian ini. Apakah Laras masih ada? atau dia berubah menjadi aku saat ini. Utk memastikan, aku berusaha utk menelepon Laras, sesaat kemudian, Laras mengangkat telepon.

“Halo?” jawab Laras.
“Laras, ini aku, kamu baik baik saja?” tanyaku. Lupa kalau aku sekarang jg bersuara seperti Laras.
“Ya aku baik baik saja, tp ini siapa?” tanyanya kembali.
“Oh sdhlah, tdk apa apa.” Aku memutuskan telepon. Sadar bahwa Laras tdk mengenalinya. Sedikit lega kalau Laras tdk apa apa.

Sekarang aku kembali ke masalahku, berarti aku yg berubah menjadi Laras. Terus, sampai kapan? Aku mulai panik, aku menyukai diriku yg dulu, lagian, bagaimana aku bisa keluar rumah menjadi Laras? Aku berjalan tanpa arah mengelilingi rumah, berharap bisa mendapat penjelasan yg masuk akal, tp aku yakin tdk ada yg masuk akal. Aku kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang. Tanganku memegang kepala, tp saat ini rambutku terasa lembut dan panjang, aku makin stress. Haruskah aku jadi wanita selamanya? apakah ini kutukan karena aku sering memperlakukan wanita seenaknya? Aku mulai berbaring, tp tdk mungkin bisa tidur. Aku berusaha menutup mata, berusaha memikirkan jalan keluar.

Semakin dipikir aku semakin putus asa, aku kembali membayangkan wajahku yg dulu, setelah beberapa saat, tiba tiba kurasakan ada yg berubah, aku meraba dadaku, buah dadaku hilang, aku langsung mencari k0ntol kesayanganku, sdh kembali. Rasa lega luar biasa kurasakan saat ini. Aku cepat cepat bercermin, ya, aku sdh kembali.

Dgn perasaan lega, aku kembali berbaring, mencerna semua yg telah terjadi. Aku memikirkan kembali awal kejadiannya, tadi aku sedang berbaring memainkan k0ntolku dan membayangkan wajah Laras, haruskah kucoba lagi? bisakah aku kembali menjadi diriku? Rasa penasaran tp ragu, akhirnya aku memutuskan utk mencoba lagi, lagian, sdh terbukti aku bisa kembali menjadi diriku lagi. Aku tdk tau caranya, tp aku mencoba melakukan seperti tadi, aku membayangkan wajah Laras, pikiranku menvisualisasikan aku menjadi Laras, utk memastikan prosesnya sama, aku jg meraba k0ntolku, bedanya k0ntolku sekarang mengkerut kecil, ikut stress bakal hilang lagi.

Dan setelah beberapa saat, benar saja, tanganku kehilangan k0ntolku, aku mencoba meraba bagian selangkanganku, ada celah disitu, aku mencoba dadaku, buah dada muncul kembali didadaku. aku cepat cepat mencari cermin, dan kembali melihat Laras di pantulan cermin. Aku kembali mencoba fokus pada wajahku, perlahan, bayangan cermin memperlihatkan transformasi diriku menjadi aku kembali. Sekali lagi aku membayangkan wajah Laras, dan benar saja, aku kembali menjadi Laras, lalu mencoba kembali menjadi diriku. Dlm setiap percobaan, proses perubahan menjadi semakin cepat, rasanya aku sdh bisa mengatur kekuatan baruku ini. Aku ingin mengetahui seberapa cepat aku bisa berubah, hanya 2 detik, aku sdh berubah sempurna menjadi orang lain.

Aku menjadi gembira mendapat kekuatan ini, tiba tiba aku kembali teringat pada cahaya biru sewaktu kecelakaan. Yah, itu satu satunya yg masuk akal. Kembali aku berpikir, apakah aku bisa berubah menjadi orang lain selain Laras? Aku berusaha menentukan pikiran, harus orang yg baik, aku tdk mau nanti tdk bisa kembali dan harus menjadi orang yg kubayangkan itu selamanya. Aku teringat Dika, aku mencoba membayangkan wajah Dika, dan benar saja, aku melihat Dika di cermin.

Lalu aku membayangkan wajah abangku, dan aku berubah menjadi dia, dan aku jg belajar kalau aku tdk perlu berubah menjadi diriku dulu sebelum berubah menjadi orang lain. Aku mencoba terus
beberapa orang yg kuingat, dan aku berubah terus, akhirnya aku berubah menjadi aku, dan saat itu jam sdh menunjukkan jam 3 pagi. Aku berbaring di ranjang, mataku kututup. Aku tdk mampu membayangkan apa saja yg bisa kulakukan dgn kekuatan ini. Akhirnya aku tertidur.

Pagi jam 10, aku terbangun oleh dering ponsel. Dgn malas kuangkat, ternyata Dika menanyakan kabarku. Setelah memastikan aku baik saja, Dika memutuskan panggilan. Aku bangun, dan langsung terpikir kejadian semalam, apakah hanya mimpi, halusinasi, ternyata kekuatan itu masih ada. Aku segera mandi, tdk sabar utk melihat keluar utk melihat apa yg bisa kulakukan dgn kekuatan ini.

Segera aku mandi, sambil mandi, aku iseng berubah menjadi Laras, sambil membersihkan buahdada, aku terangsang, segera kucari lubang diselangkanganku, sentuhan diklitoris seakan menyengat diriku, ternyata seperti itu kalau klitoris di sentuh, rabaan iseng sekarang menjadi tak terkendali, gairahku meningkat, aku tdk sanggup utk melepaskan jariku dari memekku yg baru. sambil disiram air shower yg hangat, jariku mulai mengocok lubang memek, tarasa agak sakit rupanya Laras masih perawan. Aku kembali menggosok klitorisku, dan orgasme panjang memuaskan nafsuku. Setelah selesai, aku segera bersiap siap utk keluar.

Sampai dikantor Dika, aku langsung masuk keruangannya, Dika adalah manager di sebuah perusahaan kontraktor. Dika seumuran dgnku, 29, tinggi badannya yg agak mencolok, 180, dan sedikit janggut, tp mukanya terkesan friendly. Memang Dika mudah beradaptasi dgn orang lain, itulah sebabnya dia bisa menjadi manager, disamping keahliannya memang lumayan. Aku duduk didepan mejanya, hari itu Dika lumayan sibuk, banyak telepon masuk mencarinya. Dewi, sekretarisnya jg terlihat sibuk keluar masuk.

Dgn pakaian kantor, Dewi terlihat sangat cantik dan elegan. Tubuhnya langsing, padat berisi, dan tentunya Dika memilihnya karena buah dadanya yg lumayan besar, sangat menggoda. Walau sdh mempunyai satu anak, badannya masih terawat, rambutnya yg panjang terikat rapi, hak tinggi semakin membuatnya terlihat seksi. Dan memang seperti itulah yg disukai Dika, Dika jg sering membelikan baju, sepatu dan segala yg bisa membuat Dewi terlihat lebih menarik.

Sewaktu Dewi mencari berkas di laci bawah, pantatnya tercetak di rok ketatnya, langsung saja k0ntolku menegang. Bulatan pantat yg indah membuat pikiranku berpikir utk berjalan ke Dewi dan meremas habis pantatnya. Untung saja Dewi segera mendapat berkas yg dicari dan berjalan keluar ruangan, sambil berjalan, aku memperhatikan bibir tipis Dewi, ingin rasanya kucium dan kuremas buah dadanya yg menantang. Terus terang aku merasa aneh dgn diriku, ada yg lain, mudah sekali terangsang. Aku mulai berpikir apakah ada hubungan dgn kekuatan baruku.

Pikiranku masih penuh dgn bayangan aku bercinta dgn Dewi. Apa yg di bicarakan Dika hanya kuiyakan saja. Aku mulai memikirkan ide jahat, berubah menjadi suami Dewi utk menidurinya malam ini. Tp pertama aku harus tau wajah suaminya dulu. Aku iseng membongkar berkas profile karyawan Dika, dia cuek saja, karena sdh biasa aku sesuka hatiku di ruang kerjanya. Aku mencari alamat Dewi. Setelah beberapa berkas, aku menemukan berkas Dewi. Kuingat alamatnya dan aku pun permisi dari tempat Dika, Dika jg acuh saja karena sibuk menerima telepon.

Setelah berputar putar sejenak, akhirnya aku sampai di depan rumah Dewi, aku memikirkan Dewi sedetail detailnya, dan dlm sekejab, aku berubah menjadi Dewi, lengkap dgn pakaian kerjanya. Hemm, terasa seksi sewaktu berjalan ke pintu. Aku mengetuk pintu, berharap ada yg buka, segala macam alasan sdh kusiapkan. Ternyata pembantunya yg membukakan pintu, dgn alasan kunci tertinggal dikantor dan ada berkas penting yg tertinggal di kamar, aku masuk kedalam rumah, pembantunya cuek saja, karena aku kan Dewi pemilik rumah.

Pembantu itu kembali sibuk di dapur memasak utk makan malam. Aku bingung kamar mana yg menjadi kamar tidur Dewi, setelah membuka 2 pintu kamar, akhirnya aku yakin ini ruang tidur Dewi. Aku berusaha mencari foto keluarga, dan tdk susah, foto pernikahan besar tergantung di atas tempat tidur. Aku mencoba menjadi suami Dewi, dan kembali menjadi diriku. Tugas pertama selesai. Iseng aku membongkar lemari pakaian Dewi, lalu rak tempat penyimpanan BH dan CD Dewi, melihatnya dan memegang.

G-String Dewi saja k0ntolku langsung berdiri. Aku tdk sabar menunggu malam ini, saat dimana aku bisa puas meniduri Dewi tanpa diketahui. Setelah puas menciumi CD dan BH Dewi, aku keluar dari kamar, setelah mempelajari sejenak rumahnya, aku pun pamit pada pembantu dan menuju rumah. Sampai dirumah, pikiranku menjadi tak menentu, tdk sabar ingin merasakan tubuh Dewi, bayangan Dewi terus muncul di kepalaku, tanganku kembali mengocok pelan k0ntolku, aku membayangkan Dewi yg sedang mengocok dan mengulum k0ntolku, akhirnya aku tdk tahan, dan muncratlah spermaku, aku tertidur.

Beberapa jam kemudian, aku terbangun, kulihat jam, sdh pukul 18, tak kusangka, bayangan Dewi yg menggoda masih jg ada dipikiranku, k0ntolku masih berdiri tegak, masih belum terpuaskan oleh tanganku tadi. Aku sdh yakin, gairahku ini ada pengaruhnya dgn kekuatan baruku ini. Tdk sabar rasanya menunggu sampai tengah malam, setengah jam sebelum jam 1 malam, aku tiba didepan rumah Dewi, keadaan sdh sepi, aku perlahan masuk kerumah dgn kunci serap yg kutemukan di kamar Dewi tadi siang.

Aku berubah menjadi pembantu Dewi, jadi dgn mudah aku bisa beralasan misalnya nanti terlihat. Perlahan aku masuk kekamar utama, Dewi dan suaminya tampak terlelap, perlahan aku menyemprotkan sejenis obat tidur dsekitar wajah suaminya, setelah penantian 5 menit, berubah dulu menjadi Dewi, mencoba menggoyang tubuh suaminya, kutarik pipinya, tdk ada reaksi, sepertinya obatnya sdh mulai bereaksi. Perlahan kuturunkan suami Dewi, dan kupindahkan kebawah ranjang, lalu aku berubah menjadi suaminya.

Semuanya sdh siap, saatnya aku menikmati tubuh Dewi yg sdh kubayangkan dari tadi. Kutarik selimut yg menutupi tubuhnya, terlihat Dewi memakai baju tidur tipis, tdk ada BH maupun CD. Aku menikmati pemandangan didepanku, Dewi masih terlelap dgn memeluk guling, badannya menghadap kekanan, sehingga memeknya terlihat sedikit. Aku berbaring disampingnya, dgn jari telunjuk, aku mulai menggosok sepanjang memeknya, dgn bantuan sedikit ludah, jariku menjadi licin, dan mulai menusukkan jariku kedalam lubang hangatnya. Masih kering, aku menambah ludahku lagi utk memudahkan gerakan satu jariku di lubangnya.

Rupanya Dewi tdk mudah terbangun, dan menambah gairahku, aku memang suka jahil pada wanita yg sedang tidur. Semakin lama, semakin cepat tusukkan jariku, Dewi sedikit menggeliat, tp posisi tidurnya tdk berubah, aku semakin bersemangat ketika mengetahui kalau memeknya mulai bereaksi dgn gesekan jariku, aroma memek tercium di jariku, aku tdk memerlukan ludah lagi, malahan kini memeknya sdh sangat basah, kini aku mulai bermain dgn klitorisnya, kugosok jariku, membuatnya makin sering menggeliat, sepertinya sebentar lagi Dewi bakal terbangun.

Dgn stabil aku menggosok klitorisnya yg kini sdh terasa membesar, cairan memeknya mulai melelah disekitar pangkal pahanya, mungkin saat ini Dewi sedang mimpi bercinta. Tiba-tiba Dewi bergerak, dan kini posisi tidurnya terlentang, gulingnya sdh tdk dipeluknya lagi, perlahan aku membuang gulingnya kelantai. Buah dadanya kini terlihat menantang dibalik gaun tidur tipisnya, aku mulai meraba dadanya, kuremas pelan susu kirinya, dgn jempol dan telunjuk, kupilin putingnya, perlahan putingnya mengeras.

Aku bangkit, bergeser makin dekat, aku mencoba mencium putingnya, kuhisap pelan, dan akhirnya Dewi tersentak kaget dan terbangun dgn perasaan bergairah, tangannya langsung merangkul aku, tanpa mengetahui kalau aku bukan suaminya. Aku yg sdh tdk tahan, langsung melumat habis bibirnya, lidahku menjilati seluruh rongga mulutnya, perlahan aku turun menciumi lehernya, gairah Dewi sdh memuncak karena sdh ku permainkan klitorisnya dari tadi.

Kedua buah dadanya kuremas dan mulai kujilati putingnya, Dewi mendesah kuat, memeknya sdh tak sabar ingin dimasuki k0ntol, Dewi berusaha menarik badanku utk menindihnya dan memasukkan k0ntolku. Aku tahu maksudnya, dan inilah saat yg kutunggu. berlutut didepan memek Dewi, kakinya kubuka, kini memek Dewi terbuka lebar menantang k0ntolku, dgn wajah memelas, nafasnya membuat buah dadanya naik turun, perlahan kuarahkan k0ntolku masuk kedalam memeknya, terasa hangat sekali, dgn perlahan aku memasukkan k0ntolku kedalam memeknya, senti demi senti, Dewi mengerang menikmati proses masuknya k0ntol ke memeknya yg sdh berdenyut denyut, satu hal yg agak mengecewakan, k0ntol suaminya sangat kecil, sehingga terasa kurang menjepit.

Tp supaya tdk curiga, aku tetap menggenjot memek Dewi, lagian Dewi memang sdh terbiasa dgn k0ntol suaminya. Perlahan aku mulai mempercepat gerakanku, buah dadanya terguncang indah, dgn gerakan stabil, kuremas dan kupilin putingnya, membuat Dewi makin mendesah tak karuan. Dan sampai satu titik, Dewi mengerang panjang, badannya bergetar, kepalanya mendongak kebelakang. Orgasme pertama Dewi membuatku makin bergairah.

Aku mengubah posisi, kini Dewi kubaringkan menyamping, k0ntolku kusodokan tiba tiba membuatnya tersentak dan menjerit, kini aku mulai sedikit kasar, k0ntolku kusodokkan dgn cepat dan kuat ke memeknya, Dewi mengerang kuat tak mampu menahan serangan nikmat di memeknya. Sambil menggesekkan k0ntolku, kuatur tangan Dewi utk meremas buah dadanya sendiri, sehingga menambah indah pemandangan didepanku.

Puas dgn posisi ini, aku mulai mengatur Dewi utk menungging, dan kini Dewi yg sdh kuimpikan sejak pagi akan kunikmati dgn doggy style, posisi yg paling kunikmati, karena wanita terlihat tdk berdaya, pantat terangkat memamerkan kedua lubang, seakan mengundang setiap k0ntol utk masuk kedalamnya. Utk menikmati saat terindah ini, aku tdk sanggup lagi memakai k0ntol kecil suaminya, dlm sedetik aku berubah menjadi diriku, Dewi tdk mungkin curiga akan diriku karena suasana kamar gelap, hanya sedikit cahaya dari lampu jalan yg masuk kekamar ini.

Aku nekad berubah menjadi aku yg asli, dgn k0ntol yg lebih besar dari suaminya, walaupun misalnya Dewi terkejut dan berbalik, aku siap berubah menjadi suaminya kembali dlm sedetik. Dewi menungging menunggu k0ntolku, kini k0ntol yg besar sedang bersiap di bibir memeknya, jantungku makin berdebar, kini aku yg benar benar akan menyetubuhi Dewi, dgn suaminya tepat dibawahnya. Gairahku makin memuncak, rasanya ingin mengoyak-ngoyak memek indah Dewi yg dihiasi bulu kemaluan yg terawat rapi.

Dgn perlahan, k0ntolku mulai menyentuh bibir memek Dewi, Dewi tdk sabar lagi, pantatnya dimundurkan utk bisa cepat merasakan k0ntol membelah memeknya. Kepala k0ntolku mulai masuk, Dewi sedikit kaget, pantatnya dimajukan menjauhi k0ntolku. Utk mengurangi rasa curiganya, aku kembali menjadi suami Dewi, dan aku berbaring dan menarik Dewi utk mengoral k0ntolku sebentar, Dewi mengira aku ingin beristirahat, melahap k0ntolku jilatan lidah dan kuluman mulut Dewi menandakan Dewi sdh biasa mengoral k0ntol, hangat mulutnya membuat diriku melayg.

Setelah merasa Dewi yakin tdk ada yg berubah dari k0ntolku, aku kembali menyuruhnya menungging, dan kembali aku berubah menjadi aku, dan kini k0ntolku ketekan lebih cepat supaya tdk ada penolakan lagi dari Dewi, sejenak kubenamkan k0ntolku supaya Dewi membiasakan diri dgn k0ntolku, Dewi tentu tau kalau k0ntol ini lain dari suaminya, tp dgn birahi yg sedang tinggi, dan rasanya tdk masuk akal, Dewi tdk terlalu ambil pusing. Lagian Dewi baru saja mengoral k0ntol sumainya, dan rasanya biasa saja.

Perlahan aku mulai menggenjot Dewi, kini aku puas, memeknya terasa ketat, seluruh dinding memeknya tergesek oleh k0ntolku, Dewi pun mendesah lain dari yg awal. Memeknya serasa terbelah, setiap centi dinding memeknya mendapat kenikmatan. Semakin lama semakin kupercepat, baru beberapa genjotan, orgasme kedua Dewi menggetarkan seluruh tubuhnya, jeritan panjang tertahan oleh bantal.

Aku membiarkan Dewi menikmati orgasmenya, setelah orgasmenya mereda, aku kembali menghujamkan k0ntolku dgn kecepatan penuh. Desahan panjang memenuhi ruangan, seandainya saja suaminya mengetahui istrinya sedang kusetubuhi, pasti aku akan dibunuhnya. Orgasme demi orgasme datang, Dewi merasa tubuhnya lemas tak berdaya.

Sdh 1 jam aku menyetubuhi Dewi, sebagai penutup, aku menarik kaki Dewi, sehingga kini posisi menelungkup. aku duduk dipahanya, sejenak aku bermainan dgn bongkahan pantatnya, puas menikmati kenyal pantat Dewi, aku menindih tubuh Dewi, sambil menyibak rambutnya kesamping, kuciumi lehernya, Dewi tdk lagi memperdulikan perbedaan, karena tdk menaruh curiga sedikitpun. Dewi menaikkan pantatnya utk merasakan k0ntolku, memeknya masih gatal ingin dimasuki k0ntol baru, walau badannya sdh lelah.

Aku menggapai k0ntolku, dan kuarahkan ke lubang memeknya, sekali hentak, masuklah seluruh k0ntolku, sambil kucium leher Dewi, aku mulai menggerakkan k0ntolku, kembali desahan Dewi terdengar pas di dekat telingaku. Aku mulai mempercepat gesekan k0ntolku, Dewi meraung raung menahan nikmat. Seandainya dia tahu aku yg menyetubuhinya, dia mungkin tdk akan mendesah menikmati ‘pemerkosaan’ ini.

Akhirnya orgasme kembali menyerang tubuh Dewi, orgasme terakhir ini sungguh membuatnya lemas, dan aku pun menyelesaikan persetubuhan ini dgn menyemprotkan spermaku kedalam memeknya. Selesailah sdh, imajinasiku dari tadi pagi. Aku puas. Dewi sdh terbaring lemas, tdk bergerak lagi. Aku mengangkat kembali suaminya ke tempat tidur, Dewi jg masih terlelap. Setelah kurasa semua sdh beres, aku segera keluar dari rumah Dewi dlm wujud suaminya utk menghindari kecurigaan warga sekitar, dan mobilku pun melaju dlm kegelapan malam.

Aku kembali ke rumah, membayangkan kejadian barusan. Dan yg membuatku kaget, aku masih ingin bercinta setelah menikmati tubuh Dewi sejam lebih, sungguh kekuatan baru ini mempunyai efek samping yg buruk. Karena badanku jg letih, aku pun mencoba tidur, walau di otakku masih terbayang pantat Dewi sewaktu menungging. Sambil membayangkan bisa meniduri wanita mana saja yg aku inginkan, terutama istri-istri orang lain, aku pun melamun dan akhirnya tertidur. Esok hari akan menjadi hari yg penuh kejutan.

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu