Cerita Porno Hubungan Dengan Papah

Posted on

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Hubungan Dengan PapahSelalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D

Cerita Porno Hubungan Dengan Papah

Cerita Porno Hubungan Dengan Papah

Ini berawal saat ibunya sakit dan harus masuk rumah sakit dan Paul harus terbang ke luar kota untuk urusan bisnis yg amat penting. Paul tadinya tak setuju saat Dini meminta papahnya, Dedy, agar menginap di rumah mereka untuk sementara untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, mengatakan padanya bagaimana hal itu akan mengganggu pikirannya karena dia adalah titik penting dalam negosiasi kali ini.

Dan pikiran yg sangat mengganggunya itu adalah karena dia curiga sdh sejak dulu papahnya ada ‘perasaan lain’ pada Dini istrinya. Dini merasa sangat marah pada Paul, karena sangat egois dan dgn perasaan cemburunya itu. Bukan hanya kali ini Paul meragukan kesetiaannya terhadap perkawinan mereka dan kali ini dia merasa telah berada dalam puncaknya… dan dia tahu dia akan membuat Paul membayar sikapnya yg menjengkelkan itu.

Ketika itu terjadi, Dedy tiba pada hari sebelum Paul terbang ke luar kota untuk bertemu kliennya. Dia tidak membiarkan kedatangan Dedy mengganggu jadwalnya, meskipun dia akan membiarkan papahnya bersama Dini tanpa dia dapat mengawasinya selama beberapa hari kedepan. Ini adalah segala yg Dini harapkan dan lebih, ketika dia menyambut Dedy dgn secangkir teh yg menyenangkan…

Dia bisa katakan dari perhatian Dedy yg ditunjukkannya pada kunjungan itu. Mata Dedy berbinar saat dia tahu Paul akan pergi besok pagi-pagi benar, dan dia mendapatkan Dini sendirian dalam beberapa hari bersamanya. Dini sangat menarik, yg sungguhpun dia tahu sdh tidak punya kesempatan terhadap Dini, dia masih berpegang pada harapannya, dan berbuat yg terbaik untuk mengesankannya, dan menggodanya.

Dini tersanjung oleh perhatiannya, dan menjawab dgn mengundang bahwa mereka berdua dapat mulai untuk membiarkan harapan dan pemikiran yg telah dia kubur sebelumnya untuk mulai kembali ke garis depan itu.

Sdh terlambat untuk jam kunjungan rumah sakit sore itu, sehingga mereka akan kembali lagi esok paginya sekitar jam sebelas. Dini menuangkan beberapa gelas wine untuk mereka berdua sekembalinya dari rumah sakit petang itu.

“Aku harus pergi dan mandi… Aku kira aku tidak punya waktu pagi nanti”

“Oh bisakah papah membiarkan showernya tetap hidup? Aku juga mau mandi jika papah tidak keberatan” Dini mau tak mau nati akan menyentuh dirinya di dalam shower, baygan tangan Dedy pada tubuhnya terlalu menggoda dan rasa marah terhadap suaminya sangat sukar untuk dienyahkan dari pikirannya.

Dia belum terlalu sering mengenakan jubah mandi sutera itu sebelumnya, tetapi memutuskan untuk memakainya malam ini. Hasrat hatinya mendorongnya untuk melakukannya untuk papah mertuanya, Paul bisa protes padanya jika dia ingin. Terlihat pas di pinggangnya dan dgn tali terikat, membuat dadanya tertekan sempurna. Itu nampak terlalu ‘intim’ saat dia menunjukkan kamar mandi di lantai atas. Dini meninggalkannya, dan kemudian kembali semenit kemudian.

“Aku menemukan salah satu jubah mandi Paul untuk papah” dia berkata tanpa berpikir saat dia membukakan pintu untuknya. Di dalam cahaya yg remang-remang Dini dapat melihat pantatnya yg atletis.

Mereka duduk bersama di atas sofa, melihat T.V. Dan setelah dua gelas wine lagi, Dini tahu dia akan mendorong ‘keinginan’ manapun yg Dedy ingin lakukan. Dia sedikit lebih tinggi dari Paul, maka jubahnya hanya sampai setengah paha berototnya. Mau tak mau Dini meliriknya sekilas dan ingin melihat lebih jauh lagi. Dgn cara yg sama, Dedy sulit percaya akan keberuntungannya untuk duduk disamping Dini yg berpakaian sangat menggoda dan benaknya mulai membaygkan lebih jauh lagi. Dedy akan dikejutkan nantinya jika dia kemudian mengetahui hal sederhana apa yg akan membuat hasratnya semakin mengakar.

Besok adalah hari ulang tahun Dini, dan Paul lupa seperti biasanya, alasannya bahwa tidak ada waktu untuk lakukan apapun ketika dia sedang pergi, dan dia telah berjanji pada Dini kalau dia akan berusaha untuk mengajaknya untuk sebuah dinner yg manis ketika pulang. Kenyataannya bahwa Dedy tidak hanya tidak melupakan, tetapi membawakannya sebuah hadiah yg menyenangkan seperti itu, menjadikan hatinya lebih hangat lagi. Dia seperti seorang anak perempuan kecil yg sedang membuka kotak, dan menarik sebuah kalung emas.

“Oh papah…papah seharusnya tidak perlu…ini indah sekali”

“Tentu saja aku harus…namun aku takut itu tidak bisa membuat kamu lebih cantik cintaku… sini biarku ku pasangkan untukmu”

“Ohh papah!” Dini merasa ada semacam perasaan cinta untuknya saat dia berada di belakangnya. Dia harus lebih dulu mengendurkan jubah untuk membiarkan dia memasang kaitan di belakang, dan ketika dia berbalik ke arahnya, Dedy tidak bisa menghindari tetapi matanya mengarah pada belahan dada Dini yg menyenangkan.

“Oh… apa rantainya kepanjangan?” ia berharap, menatap kalung yg melingkar diatas dada lezatnya

“Tidak pa… ini menyenangkan” dia tersenyum, menangkap dia memandang ke sana lebih banyak dari yg seharusnya diperlukan

“Oh terima kasih banyak…” Dini menciumnya dgn agak antusias dibanding yg perlu dilakukannya dan putus tiba-tiba dgn sebuah gairah dipermalukan. Kemudian Dedy menangkap momen itu, menarik punggungnya seolah-olah meredakan kebingungannya dan menciumnya dgn perasaan jauh lebih dibandingkan perasaan seorang mertua.

“Selamat ulang tahun sayang” katanya, saat senyuman mereka berubah jadi lebih serius

“Oh terimakasih papah” Dini menciumnya kembali, menyadari ini adalah titik yg tak bisa kembali lagi, dan kali ini membiarkan lidahnya ‘bermalas-malasan’ terhadapnya. Dia baru saja mempunyai waktu untuk merapatkan jubahnya kembali saat Paul menelponnya untuk ucapkan selamat malam dan sedikit investigasi. Paul ingin bicara pada papahnya dan memintanya agar menyimpan cintanya untuk ibunya yg sdh meninggal. Mata Dini tertuju pada Dedy saat dia menenteramkan hati putranya di telpon, mengetahui dia akan membiarkan pria ini melakukan apapun.

“Aku sangat suka ini pa…” Dini tersenyum ketika telpon dari Paul berakhir. Dia menggunakan alasan memperhatikan kalungnya untuk membuka jubahnya lagi, kali ini sedikit lebih lebar.

“Apa kamu pikir ini cocok untukku?”

“Mmm oh ya…” dia tersenyum, matanya menelusuri bagian atas gundukan lezatnya, dan untuk pertama kalinya membiarkan gairahnya tumbuh. Dini secara terbuka mempresentasikan toketnya untuk kekasihnya, membiarkan dia menatapnya ketika dia membusungkan dadanya jauh lebih lama dibandingkan hanya sekedar untuk memandangi kalung itu. Dia mengangkat tangannya dan memegang mainan kalung itu, mengelus diantara dadanya, menatap tajam ke dalam matanya.

“Kamu terlihat luar biasa dgn memakainya” dia tersenyum.

Nafas Dini yg memburu adalah nyata ketika tangan kekasihnya telah menyentuhnya di sana, dan pandangannya yg memikat saat kekasihnya menyelami matanya memberi dia tiap-tiap dorongan. Mereka berdua tahu apa yg akan terjadi kemudian, sdh terlalu jauh untuk menghentikannya sekarang. Dia akan bercinta dgn papah mertuanya. Mereka berdua juga menyadari, bahwa tidak perlu terburu-buru kali ini, mereka harus lebih dulu membiarkan berjalan dgn sendirinya, dan walaupun kemudian itu akan menjadi resikonya nanti.

Dini bisa melihatnya sekarang kalau ‘pertunjukannya’ yg nakal telah memberi efek pada gairah kekasihnya. Gundukan yg terlihat nyata di dalam jubahnya menjadikan jantungnya berdebar kencang, dan kekasihnya menjadi bangga ketika melihatnya menatap itu, seperti halnya dia yg memandangi toketnya.

“Kamu sdh cukup merayuku…kamu nakal!” Dini tersenyum pada kata-kata terakhirnya, memberi dia pelukan yg lain. Pelukan itu berubah menjadi sebuah ciuman, dan kali ini mereka berdua membiarkan perasaan mereka menunjukkannya, lidah mereka saling melilit dan memukul-mukul satu sama lain. Dini merasa tali jubahnya mengendur, dan Dedy segera merasakan hal yg sama.

“Oh Dedy…kita tidak boleh” dia menjauh dari kekasihnya sebentar, tidak mampu untuk hentikan dirinya dari pemandangan jubahnya yg terbuka cukup lebar untuk melihat ujung k0ntolnya yg tak terukur membesar diantara pahanya yg kuat.

“Ohh Dini … aku tahu…. namun kita harus” dia menarik nafas panjang, memandang pada perutnya untuk melihat kewanitaannya yg sempurna, telah merekah dan mengeluarkan cairannya. Detak jantung Dini bahkan jadi lebih cepat saat dia lihat tonjolannya menghentak lebih tinggi ke udara saat kekasihnya memandang bagian paling intimnya.

“Oh Dedy sayang…” desahnya pelan saat kekasihnya memeluknya, jubahnya tersingkap dan dia terpana akan tonjolannya yg sangat besar di bagian bawahnya. Itu sepertinya memuat dua prem ranum yg membengkak dgn benihnya yg berlimpah. Dia tidak bisa hentikan dirinya sekarang… dia membaygkan dirinya berenang di dalamnya.

“Dini cintaku…betapa lamanya aku menginginkanmu…” katanya saat ia menggapai paha Dini

“Oh Dedy… seandainya aku tahu… setiap kali Paul bercinta dgnku aku membaygkan itu adalah kamu yg di dalamku… papah termanis… apakah aku terlalu jahat untuk katakan hal seperti itu?”

“Tidak kekasihku…” jawabnya, mencium lehernya dan turun pada dadanya, dan membuka jubahnya lebih lebar lagi untuk agar tangannya dapat memegang toketnya. Mereka berdua ingin memanfaatkan momen itu.

“Apakah kamu ingin aku di sana sekarang?”

“Oh Dedy… ya… papah” erangnya kemudian mengangkat jubahnya dan tangannya meraih k0ntolnya

“Aku sangat menginginkannya”

“Oh Dini…. kekasihku, apakah ini yg kamu ingin?” dia mengerang, memegang jarinya di sekitar batang berdenyutnya yg sangat besar

“Oh ya papah… k0ntolmu… aku ingin k0ntol papah di dalamku”

“Sayangku yg manis…apa kamu menginginkannya di sini?” kekasihnya melenguh, menjalankan jemarinya yg pintar sepanjang celah itu, menggodanya, membuat matanya memejam dgn nikmat. Dini hampir merintih ketika dia menatap mata kekasihnya.

“Mmmm k0ntol papah di dalam mem3kku”

“Ahhh anak manisku tercinta” Dini menjilat jarinya dan menggosoknya secara lembut di atas ujung kejantanannya yg terbakar, membuat kekasihnya merasa ngeri dgn kegembiraan.

“Kamu ingin jadi nakal kan pa…kamu ingin orgasme di dalamku” Dini menggoda, meninggalkan pembesaran tonjolan yg bagus, dan mengalihkan perhatiannya kepada buah zakarnya yg membengkak.

Sekarang adalah giliran kekasihnya untuk menutup matanya dgn gairah yg mengagumkan.

“Kamu ingin meletakkan spermamu di dalam istri putramu… kamu ingin melakukan itu di dalam mem3k gadis kecilmu” Dia hampir menembakkannya bahkan waktu Dini menggodanya, tetapi entah bagaimana menahan ombak klimaksnya, dan mengembalikannya pada Dini, keduanya sekarang saling memegang pinggang satu sama lainnya.

“Dan kamu ingin benih papah di dalam kandunganmu kan… dalam kandunganmu yg dahaga… membuat seorang bayi kecil di dalam kandungan suburmu” dia tidak bisa semakin dekat kepada tanda untuknya… Dini telah memimpikan kekasihnya memberinya seorang anak, Dini gemetar dan menggigit bibirnya saat jari tangan kekasihnya diselipkan di dalam saluran basahnya.

“Papah… oh ya… ya… tolong… aku sangat menginginkannya…” Paul belum pernah punya keinginan membicarakan tentang hal itu… Dini tidak benar-benar mengetahui apakah dia ingin seorang anak, sekalipun begitu pemikiran itu menjadi sebuah gairah yg luar biasa. Bibirnya menemukannya lagi, dan tenggelam dalam gairahnya, lidah mereka melilit lagi dgn bebas tanpa kendali yg sedemikian manis. Dini membiarkan jubahnya terbuka seluruhnya sekarang, menekankan toketnya secara lembut melawan dada berototnya, perasaan geli membuat cairannya lebih berlimpah. Jantungnya terisi dgn kenikmatan dan antisipasi, pada pikiran bahwa dia menginginkan dirinya…bahwa seluruh gairah Dini akan terpenuhi dgn segera.

“Oh gadis manisku yg jahat ” lenguhnya saat bibir Dini menggodanya

“Aku akan pergi sebentar” dia tersenyum dgn mengundang saat dia menoleh ke belakang dari pintu

“Jangan pergi” Dini melangkah ke lantai atas, jubahnya berkibar di sekitarnya lagi saat dia memandangnya. Dini tidak perlu merasa cemas, suaminya sedang berada jauh di sana dgn segala egoisme kesibukannya, dan Dini mengenal bagaimana kebiasaanya. Jantung Dini dilanda kegembiraan lebih ketika dia melepaskan jubahnya dan berjalan menuju dia… pada papah mertuanya… telanjang dan siap untuk menyerahkan dirinya seluruhnya kepada kekasihnya.

Ketika dia mendengar langkah kaki Dini pada tangga, dia lalu keluar dari jubahnya dan sekarang berlutut di atas permadani di depan perapian, menghadapinya ketika dia masuk, ereksinya semakin besar dalam posisi demikian. Dini berlutut di depannya, tangannya memegang obyek hasratnya, yg berdenyut sekilas, lembut dan demikian panas dalam sentuhannya. Matanya terpejam dalam kenikmatan murni saat Dini berlutut dan mencium ujung merah delima itu, matanya terbuka meresponnya, dan mengirim beberapa tetesan cairan lezat kepada lidah penggemarnya. Kekasihnya mengelus toketnya dan menggoda puting susunya yg gemuk itu.

“Aku sdh siap pah… malam ini seutuhnya milikmu”

“Dini sayang, kamu indah sekali…” kekasihnya memujinya dan dia tersenyum dgn bangga

“Oh Papah… kumohon. Aku sangat menginginkannya … aku ingin benihmu di dalamku”

“Sepanjang malam cintaku…” kekasihnya tersenyum, rebah bertumpu pada sikunya lalu menyelipkan tangannya diantara paha Dini

“Kita berbagi tiap momen” Dini rebahan pada punggungnya, melebarkan lututnya membiarkan jari kekasihnya berada di dalam rendaman vulvanya

“Ohh mmm papah sayang… ” Dini melenguh saat jari kekasihnya merangsang tunas kesenangannya tanpa ampun

“Mmm betapa aku sangat memuja perempuan kecilku… ” kekasihnya menggodanya ketika wajahnya menggeliat di puncak kesenangan

“Ohh papah… rasakan bagaimana basahnya aku untukmu”

“Apa anakku yg manis sdh basah untuk k0ntol papah? Mmmm k0ntol papah di dalam mem3k panas gadis kecilnya…. k0ntol besar papah di dalam mem3k gadisnya yg panas, mem3k basah…” kata-katanya diiringi dgn tindakan saat dia bergerak diantara pahanya, tongkatnya berdenyut dgn bernafsu saat dia mempersiapkan lututnya.

Setubuhi aku pah… masukkan k0ntolmu ke dalamku”

“Sayang… Dini yg nakal… buka mem3kmu untuk k0ntol papah” tangan mereka memandu, kejantanannya membelah masuk kewanitaannya

“Papah… sepenuhnya untukku kan?”

“Ya putriku manis… sperma yg penuh untuk kandunganmu… apa kamu akan membuat papah melakukan itu di dalam tubuhmu?”

“Ahh ya papah… aku akan membuatmu memberikan semuanya ke dalam tubuhku… ahh ahh ahh” Dini mulai menggerakkan pinggangnya…takkan menghentikan dirinya saat dia membaygkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam sebuah kesenangan yg sempurna, mereka bergerak dgn satu tujuan, yg ditetapkan oleh kata-katanya.

“Papah akan menebarkan semuanya ke dalam kandunganmu yg subur… sperma papah akan membuat bayi di dalam kandunganmu Dini sayang” tangan kekasihnya mengayun pantatnya sekarang saat dia mulai menusuk lebih dalam, matanya menatap kekasihnya ketika dia menarik pantatnya yg berotot, mendorong lebih lanjut ke dalam tubuhnya… memberinya hadiah yg sangat berharga.

K0ntol besarnya menekan dalam dan panjang, buah zakarnya yg berat menampar pantatnya saat dia mendorong ke dalam kandungannya. Dia tidak bisa menolong, hanya melihatnya, setiap gerakan mereka yg mendatangkan nikmat… membaygkan waktunya akan segera datang… memancar dari kekasihnya… berenang di dalam dirinya… membuatnya mengandung anaknya. Dia menggelinjang saat kekasihnya menyusu pada puting susunya yg diremas keras, tangan besarnya meremas toketnya bersama-sama saat dia mengocoknya berulang-ulang.

Dia berteriak, menaikkan lututnya setinggi yg dia bisa untuk memaksanya lebih dalam ke bagian terdalam mem3knya. Kekasihnya menghentak lebih cepat, meremas pantatnya untuk membuat sebuah lingkaran yg ketat pada mem3knya… momen yg sempurna mendekat dgn cepat saat dia menatap mata kekasihnya yg juga dipeluk selimut puncak surgawi. Dini memperlambat gerakan kekasihnya, menenangkannya ketika waktunya datang.

“Aku ingin menahanmu jauh di dalam tubuhku saat kamu keluar…saat kamu memompa benihmu ke dalam tubuhku”

“Oh sayang…ya manisku…tahan aku saat kukeluarkan spermaku ke dalam kandunganmu”

Dia merasa itu membesar di dalam cengkramannya, urat gemuk k0ntolnya siap untuk berejakulasi, dan kemudian menghentak dgn liar, dan dgn masing-masing semburan yg dia rasa pancarannya yg kuat menghantam dinding kewanitaannya, membasahi hamparan ladangnya yg haus kekeringan. Bibir mereka bertemu dalam lilitan sempurna, tangisan Dini membanjiri kekasihnya kala kekasihnya menyembur dgn deras ke dalamnya. Punggung Dini melengkung, mencengkeram k0ntolnya sangat erat saat ombak kesenangan menggulungnya. Dia ingin menahannya di sana untuk selamanya.

Jantung mereka berdegup sangat keras ketika mereka berbaring bersama, terengah-engah, sampai mereka bisa berbicara.

“Oh Tuhan Dini…aku sangat menginginkanmu…”

Dan untuk beberapa hari kedepan, tak ada sepatah katapun yg sanggup melukiskan momen itu.

Google Trends: