Cerita Porno Hot Rosa Gairah Yang Abadi

Posted on

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Hot Rosa Gairah Yang Abadi. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Hot Rosa Gairah Yang Abadi

Cerita Porno Hot Rosa Gairah Yang Abadi

Siang itu aku menghadiri meeting dgn vendor peralatan pengeboran minyak di kantor mereka di sebuah gedung perkantoran yg juga terdapat pusat perbelanjaan di gedung itu di kawasan Sudirman, Jakarta selatan.

Aku ditemani 2 orang staff, satu dari engineering dan satunya lagi dari bagian logistik. Perusahaan rekanan yg biasa memasok peralatan pemboran itu diwakili sales managernya, seorang perempuan didampingi 2 orang stafnya, seorang perempuan dan seorang lelaki.

Dlm meeting yg membahas keterlambatan pengiriman barang yg kami pesan itu, sales manager yg masih muda itu begitu memukau, baik penguasaannya dlm pekerjaan maupun penampilannya yg memang mengagumkan. Namanya Rosa, usianya tak lebih dari 28-29 tahun kukira. Wajahnya benar-benar cantik, rambut tergerai lurus sebahu, kulit putih bersih, hidung mancung dgn mata sedikit sipit. Ya, Rosa ini seorang wanita Chinese. Dgn bibir tipis dipoles pewarna natural, sungguh amat memikat. Tubuhnya lumayan tinggi semampai, sekitar 164 cm dgn berat proporsional. Mengenakan setelan jas kerja warna merah dgn rok mini sewarna sungguh merupakan pemandangan yg mempesonakan.

Aku sendiri lebih banyak memperhatikan penampilanya daripada memperhatikan uraian yg dikemukakannya. Kulirik dua orang rekanku, penuh konsentrasi mereka menyimak kata-kata dari bibir tipis mempesona itu. Tiba-tiba HP-ku bergetar karena ada SMS masuk. Kubuka, ternyata SMS dari Miranda isteriku, dia minta dijemput pulang kantor nanti karena mobilnya dimasukkan bengkel tadi pagi. Kubalas SMS-nya dgn mengatakan bahwa nanti akan kujemput di kantornya selepas jam 18.30.

Selesai meeting kami semua diajak makan siang bersama di restoran yg ada di gedung tersebut. Kami bertujuh naik ke lantai 9 restoran itu yg kutahu sejak lama cukup bergengsi. Rupanya mereka sudah mempersiapkan sebelumnya dgn reservasi joint table yg cukup utk menampung kami bertujuh. Kami duduk mengelilingi meja dan entah kebetulan atau disengaja, karena sama-sama leader aku dan Rosa duduk saling berhadapan. Hanya terhalang jarak selebar meja hingga aku bisa melihat kecantikannya lebih dekat.

Kami makan sambil berbincang-bincang dan tentu saja tak lupa aku bertukar nomor handpone denganya. Orangnya cukup supel terbuka dan mengasyikan utk diajak ngobrol. Seminggu setelah meeting itu aku tergelitik utk meneleponnya. Kucari nomornya di memori handpone-ku, tertulis dgn nama Martin. Tentu saja kusamarkan namanya agar tdk menimbulkan kecurigaan isteriku. Biasalah wanita, paling hobi geledah-geledah. Segera kutelepon Rosa dan kamipun terlibat obrolan ringan agak lama.

“Eh.. Rosa, gimana kalau nanti makan siang bareng?!”, ajakku setelah beberapa saat.
“Bisa Pak!”, jawabnya.
“Kita ketemu dimana?”, lanjutnya.
“Aku jemput kamu jam 12 di kantor, toh nggak jauh dari tempatku”, tukasku.
“Baik Pak!”, jawabnya.

Rosa ini selalu memanggilku ‘Pak’ walaupun sebenarnya sudah kularang. Siang itu kujemput Rosa lebih awal dari yg kujanjikan. Rosa segera turun ke tempat parkir setelah kutelepon sesampainya disana. Kami berdua makan di kawasan Semanggi, sengaja kucari suasana yg tdk hiruk pikuk. Memang suasananya tdk ramai dan cukup santai, sehingga memungkinkan suasana akrab terjalin di antara kami.

Setelah beberapa kali kesempatan makan siang baru kuketahui bahwa Rosa belum lama putus dgn pacarnya, seorang asisten manajer di sebuah bank swasta. Tdk cocok, katanya. Suatu ketika sehabis mengikuti sebuah meeting di kantor sebuah BUMN di Gatot Subroto aku tdk kembali ke kantor. Kebetulan aku ada beberapa kebutuhan yg ingin kubeli di pertokoan SEIBU di kawasan Blok M. Hari belum terlalu sore, baru sekitar pukul 15.30 ketika aku selesai membeli beberapa keperluan dan akan pulang. Tdk disangka-sangka aku ketemu Rosa di lobby. Dia menenteng beberapa tas belanjaan.

“Haii.. apa khabar. Habis belanja nih..,?”, sapaku.
“Iya!” jawabnya.
“Bapak sendirian?”, tanyanya.
“Ah, kamu berapa kali kubilang jangan panggil Bapak!”, cetusku tanpa menjawab pertanyannya.
“Oh iya, habis suka lupa sih”, jawabnya sambil senyum-senyum.
“Kamu sendirian Rosa?”, tanyaku kembali.
“Iya, tadi di antar sama sopir terus ditinggal”, jawabnya.
“Wah kebetulan banget nih, bareng aku saja yah?!”, ajakku.
“Apa nggak merepotkan?!”, katanya ragu.
“Biasa saja”, jawabku.

Akhirnya aku mengantar Rosa pulang ke rumahnya. Rosa tinggal di sebuah apartemen di daerah Jakarta Selatan dekat sebuah stadion bola. Apartemennya cukup representative utk ukuran lajang seperti dia.

“Mau minum apa?”, tanyanya sesampainya di dlm.
“Air putih saja, dingin!”, jawabku sambil menjatuhkan pantatku di sofa.

Rosa masuk ke pantry setelah meletakan tas belanjaanya di kamar tidur. Tak lama dia muncul kembali dgn dua gelas coca cola dingin dan makanan kecil.

“Enak juga ya suasananya”, kataku sambil melihat sekeliling.
“Lumayan”, jawabnya sambil duduk di sebelahku setelah meletakan makanan dan minuman di meja.
“Kamu sendirian Ros?”, tanyaku lagi.
“Iya, orang tuaku tinggal di Jakarta Pusat”, jawabnya kembali.

Sambil ngobrol aku memegang tangannya. Rosa diam saja. Mungkin karena sudah merasa dekat atau lebih karena suasana sepi, Rosa juga diam saja ketika jemarinya kuremas. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, perlahan kusapu bibirnya. Rosa sedikit membalas. Kuulangi lagi dgn kecupan yg lebih hangat. Kali ini Rosa membalas dgn gairah.

Tak lama kamipun sudah saling berpagut bibir. Lidah kami saling membelit sementara tanganku masih meremas-remas jemarinya.Rosa melepaskan diri dari pagutanku, kemudian melepaskan blazernya dan meletakkannya di sandaran sofa satunya yg tdk kami duduki.

Kini tubuhnya terbalut blouse putih tipis tanpa lengan. Terlihat gundukan dadanya yg tdk seberapa besar. Dia kembali duduk di sebelahku yg segera kusambut kembali dgn pagutan panas. Mulut kami saling menghisap dan lidah saling membelit. Tanganku mulai mengusap-usap pangkal lengannya naik turun, makin lama makin ke atas. Tanganku menyeberang menuju dada sebelah kanan dan merayapi bukitnya, terasa kenyal dan besarnya pas segenggaman tangan.

Sambil meremas-remas lembut bukit dadanya dari luar blouse tipis itu, mulutku terus melancarkan serangan-serangan ganas. Lidahku menjulur ke dlm rongga mulutnya. Hisapan Rosa semakin kuat menandakan bahwa dia sudah terangsang. Aku mulai membuka kancing blousenya. Rosa membiarkan saja satu persatu kancing blousenya terbuka sampai kancing terakhir.

Setelah terbuka, tanganku pun menyusup ke balik BH dan langsung menggenggam payudaranya. Terasa kulitnya yg lembut dan puting mungilnya menegang. Tanganku terus meremas-remas lembut bukit dada itu dan memilin putingnya dgn jemariku. Mulutku terus menghisap mulutnya. Rosa membalas hisapanku dgn bernafsu. Tanganya mencengkeram erat lenganku. Tanganku memutari tubuhnya menuju punggung, mulai mengelus punggungnya yg mulus. Dgn cepat kaitan BH di punggungnya kubuka.

Kulepaskan blousenya kemudian menyusul BH putih berukuran 34B itupun terjatuh di karpet. Kini tubuh Rosa bagian atas sudah terbuka bebas memamerkan dada yg putih mulus dgn dua bukit indah seputih salju berhiaskan puting berwarna merah muda. Mulutku segera menghisap payudara kenyal itu. Putingnya kukulum sambil sesekali kugigit kecil. Rosa terpejam dgn mulut setengah terbuka.

“Ohh..hh..”. rintih Rosa perlahan.

Tanganku mulai mengusap-usap pantatnya yg kencang. Tangan Rosa mulai melepaskan kancing kemejaku dan segera menyusup ke balik kemeja. Tangan halusnya menyusuri dadaku dgn elusan lembut. Kucari kancing rok mininya utk membuka dan menarik turun zipper-nya. Setelah terbuka, kucoba menarik turun rok mininya sambil mulutku terus menyedot dan menghisap payudaranya kiri dan kanan bergantian. Agak sulit utk menarik lepas rok mini itu. Rosa bereaksi dgn mengangkat pinggulnya sedikit sampai akhirnya rok tersebut bisa meluncur ke bawah melewati pahanya terus sampai lepas. Terlihat dua batang paha yg putih mulus dan kencang. Kini Rosa tinggal mengenakan CD putih tipis berenda.

Tanganku mulai mengelus-elus paha ke arah atas, makin keatas sampai ke pangkal paha. Jariku menyusuri garis lipatan pangkal pahanya dan bergerak ke arah depan menuju pusat di antara dua batang paha. Jariku mengelus mulut kemaluannya dari luar CD, kugesek-gesek ke atas bawah mengikuti alur parit kecil itu. Makin lama makin terasa lembab dan basah CD-nya. Tangan Rosa mencoba menyusup ke dlm celanaku, agak sulit karena masih terkancing.Sementara tangan kananku mengelus mulut kemaluannya, tangan kiriku menyusup ke balik CD-nya mengelus gumpalan pantatnya. Hisapan mulut
Rosa pada mulutku semakin kuat dan lidahnya menari-nari dlm mulutku. Sementara itu tangannya sudah sampai di batang k0ntolku yg sudah tegang. Rosa tertegun sejenak merasakan besarnya k0ntolku. Digenggamnya k0ntolku dan diremas-remas kuat.

Akhirnya tangannya keluar dari balik celanaku utk kemudian membuka gesper dan celanaku. Ditariknya turun sampai lutut kemudian menyusul CD-ku.

K0ntolku langsung meloncat keluar begitu terbebas dari kungkungan CD. Mata Rosa terbelalak begitu melihat besarnya k0ntolku. Memang k0ntolku berukuran ‘king size’, dulu sewaktu masih kuliah pernah aku berlomba dgn teman-temanku satu kost utk mengangkat dan memindahkan kursi rotan dgn k0ntol. Juga pernah sewaktu ketika menginap di puncak, temanku membagi kondomnya dan ketika kupakai ternyata hanya muat tdk sampai 1/3 batangku.

Setelah lenyap keterkejutannya, tangannya segera menggenggam dan meremas batang k0ntolku. CD Rosa sudah sangat basah, kemudian perlahan kulepaskan. Terlihat parit kecil kemerahan ditutupi bulu-bulu halus agak lebat dan rapi. Aku kemudian melepaskan celana berikut CD-ku dari kaki disusul kemejaku. Keadaan kami berdua sudah sama–sama telanjang.

Sosok Rosa benar-benar menggairahkan. Dgn tubuh sekal dan payudara tdk terlalu besar tp kencang dihiasi puncak kecil kemerahan. Kulitnya putih sekali dan halus seperti pualam, di sebelah bawah di antara kedua pahanya, mulut kemaluannya menyerupai parit kecil yg ditutupi rimbunan rambut halus. Sungguh tubuh yg sempurna. Tak sabar aku segera menyelusupkan kepalaku di antara kedua pahanya. Lidahku menjilati parit kecil di situ dgn jilatan naik turun searah parit. Sementara tanganku mengelus pantatnya yg kencang.

Kuselusupkan lidahku masuk ke celah basah itu. Aku menemukan benjolan kecil daging yg ketika kugelitik dgn lidahku, Rosa tiba-tiba menjerit kecil. Ya, itulah clitorisnya yg terus kumainkan dgn lidahku.

“Oouuhh..”, Rosa merintih–rintih sambil tangannya meremas rambutku.

Mulutnya terpejam sambil tubuhnya menggeliat menahan gejolak yg menderu.

“Ahh.., hegghh.., hhegh..”, rintihan Rosa semakin intens.

Kemaluannya semakin basah, dan tiba–tiba..

” Oouugghh..”, Rosa menjerit kuat.

Tubuhnya mengejang beberapa saat, kemaluannya semakin banjir mendatangkan aroma khas. Tangannya mencengkeram kuat rambutku dgn mata terkatup rapat dan mulut ternganga. Rosa sudah orgasme. Aku segera bangkit dan menempatkan diri di atas tubuhnya. Kutindih tubuhnya dgn k0ntolku mengganjal tepat di mulut kemaluannya.

Payudaranya mengganjal lembut di dadaku hingga terasa begitu nikmat. Tanganku mencari tangannya, kutangkap dan kutelentangkan kedua tangannya. Aku ingin menikmati sentuhan kulit telanjang kami sementara mulutku segera memagutnya dgn hisapan-hisapan kuat di mulutnya. Kugeser-geserkan k0ntolku di mulut kemaluannya. Rosa kembali merintih halus. Mulutnya mengimbangi hisapanku dgn gairah. Pinggulnya mulai digoyang-goyangkan. Sungguh benar-benar mendatangkan sensasi luar biasa. Gejolak gairah yg menggelora dan membakar tubuh kami terus datang bergelombang.

“Ohh.., Fer.., massukin sekarangg..!”, serunya tiba-tiba.
“Dimana..?”, godaku.
“Di.., ss.., situu..!”, bisiknya cepat.

Aku sendiri juga sudah tak tahan, k0ntolku sudah mengembang besar dan sangat keras. Dgn tangan, kuarahkan ujung k0ntolku yg sudah sangat basah oleh cairan Rosa menuju ke mulut kemaluannya. Kugeser-geserkan topi bajanya di permukaan dlm kemaluannya.

“Massukkaan.., cepaat..!”, serunya tak sabar.

Perlahan k0ntolku kudorong masuk dan mulai menyelusup semakin dlm. Terasa seret tp karena rongga itu sudah sangat basah, perlahan tp pasti k0ntolku terus menyusup masuk.

“Bless..”, terasa sesak batangku memenuhi rongga kemaluannya.
“Ouukkhh..”, Rosa merintih-rintih.

Memang Rosa sudah tdk perawan lagi, jadi tdk terlalu sulit utk menembus kemaluannya. Hanya saja, karena ukuran k0ntolku kelewat besar, maka penetrasinya amat sulit. K0ntolku sudah masuk 3/4 ketika kurasakan ujungnya sudah mentok. Pelan-pelan kugoyang-goyang k0ntolku. Rupanya dgn begitu k0ntolku mendapatkan tambahan ruang sehingga bisa penetrasi lebih dlm. Aku mulai menggerakkan keluar masuk k0ntolku. Mula-mula pelan dgn gerakan pendek, makin lama makin cepat dgn menarik keluar batangku sampai hampir terlepas keluar dari mulut kemaluan Rosa kemudian menghunjamkannya dlm-dlm sampai mentok.

Gerakan demikian kulakukan berulang-ulang makin lama makin cepat.

“Aakkhh..”, Rosa merintih keras atau lebih tepatnya menjerit.

Pinggulnya mulai mengimbangi gerakanku dgn diputar-putar sambil sesekali diangkatnya menyambut hunjamanku. Sungguh jepitan kemaluannya terasa sangat kuat karena ukuran k0ntolku yg memaksa masuk. Cengkeraman otot kemaluannya terasa mengelus dan menjepit kuat. Sesekali kukedutkan otot k0ntolku. Kedutan k0ntolku di dlm rongga kemaluan yg penuh sesak itu mendatangkan reaksi yg luar biasa.

“Hhegghh.., hheggh..”, Rosa terlonjak-lonjak setiap kali k0ntolku kukedutkan.

Kedutan-kedutan itu rupanya mempercepat pendakianya menuju puncak.

“Oouugghh.., hh.., Ferr.., ohh..”, Rosa menjerit dgn tubuh menegang.

Pinggulnya diangkat tinggi sementara tanganya mendekapku dgn sangat kuat.

“Serr..”, terasa aliran hangat membasahi batangku di dlm kemaluannya. Rosa kembali orgasme, matanya membeliak hingga hanya terlihat putihnya sementara mulutnya setengah terbuka.

Beberapa saat Rosa masih mendekapku erat. Aku diam tdk bergerak utk memberikannya kesempatan menikmati sisa-sisa kenikmatannya sampai tuntas. Kemudian perlahan mulai kugoyang-goyang kembali pinggulku. Makin lama gerakan k0ntolku keluar masuk makin cepat sampai mencapai kecepatan penuh.

Mulutku menciumi lehernya yg putih dgn lidah menyusuri leher menuju belakang telinganya. Kugigit kecil cuping telinganya, lidahku masuk menggelitik lubangya. Sambil tangan kananku meremas-remas payudara kirinya. Gairah Rosa kembali memuncak. Pinggulnya kembali bergoyang–goyang mengimbangi gerakan pinggulku.

Gesekan k0ntolku dgn rongga kemaluannya sangat terasa sampai di ujung saraf dan mendatangkan kenikmatan hebat.
Akhirnya kurasakan tubuhku mulai menegang tanpa dapat kucegah. Terasa aliran hangat mengaliri batang k0ntolku menuju ujungnya. Kupercepat goyanganku dan kutekan k0ntolku dlm-dlm. Goyangan pinggul Rosapun semakin liar tak terkendali.

“Ooooohhhh.., aaaaahhhhh..”, Rosa merintih-rintih menuju puncak pendakian.
“Aku mau keluarr.., lagi, Ferr..!”, serunya.Sambil kugigit kecil daun telinganya, payudaranya terus kuremasi.

K0ntolku kuhunjamkan makin dlm. “Arrgghh..!”, aku menggeram.
“Creeeett.., Creeeett.., Creeeett.., Creeeett..”, akhirnya semburan lahar panas berulang kali menyirami rongga kemaluan Rosa.

Bersamaan dgn itu tubuh Rosa mengejang,

“AAAhhhhhh.., AAhhhh.., oooooooohh..”, Rosa merintih. Kurasakan cairan hangat kembali mengguyur batangku.

Rosa mendekap erat tubuhku sambil mengangkat tinggi pinggulnya utk mendesak pinggulku. Gerakan itu menyebabkan k0ntolku terbenam semakin dlm. Aku menikmatinya sampai semburan terakhir selesai. Tangan Rosa menahan tubuhku agar tetap di tempatnya menindih tubuhnya sampai beberapa saat. Sensasi pasca orgasme tersebut mendatangkan kenikmatan yg tak kalah hebatnya.

Tubuhnya terasa hangat dlm pelukanku sampai beberapa saat kemudian aku bergulir turun dari tubuhnya. Kami rebahan sambil beristirahat. Kupandangi keindahan tubuhnya, kulitnya yg putih mulus. Para wanita chinese itu sungguh dianugerahi keindahan fisik yg luar biasa mengagumkan. Maha karya yg tiada bandinganya. Dgn hanya memandanginya saja tak lama kemudian gairahku kembali berkobar.

Sore itu kami kembali mengulangi pergulatan panas sekali lagi sebelum aku pamit pulang ketika waktu sudah menunjukan pukul 20.15. Kulihat ada beberapa miss call di HP-ku yg sengaja kumatikan ketika akan bercinta dgn Rosa. Sejak kejadian sore itu kami selalu mengulanginya setiap ada kesempatan, baik itu di apartemennya maupun di hotel.

Menurutnya, bercinta dgnku ternyata mendatangkan sensasi hebat baginya, sungguh berbeda ketika ML dgn pacarnya dahulu. Buatku sendiri, hal itu adalah sungguh pengalaman yg mendebarkan dan mengasyikan bercinta denganya karena memang akan selalu mendatangkan obsesiku jika melihat wanita-wanita keturunan.