Cerita Porno Hot Angel In Cage

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Hot Angel In CageSelalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Hot Angel In Cage

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno Hot Angel In Cage

Perkenalkan aku Tight (nama ini mungkin melambangkan suatu yg “ketat” yg berhubungan dgn fantasi aku tentang BDSM), di dunia ini aku seorang pendatang baru. Aku seorang laki-laki normal dari keluarga sederhana yg sedang menuntut ilmu di sebuah universitas swasta ternama di kota kembang. Di umur 21 tahun ini mungkin aku tergolong sangat hijau soal BDSM akan tetapi diriku ini sangat berminat dlm salah satu kategori sex yg mungkin orang bilang “menyimpang”.

Cerita sex hot ini Bermula dari sebuah chating dan email disitus khusus penggemar sex Bondage, aku berkenalan dgn seorang nona muda karena diliat dari usianya baru 25-an, cantik seksi, lekuk badannya terlihat kencang dibalik pakaian ketatnya. Namnya Jane karena parasnya putih bagai bidadari dgn rambut lurus tak kalah dgn bintang iklan shampoo. Setelah mengobrol dan saling mengenal lebih jauh ternyata kami dlm satu universitas yg sama hanya berbeda angkatan dan jurusan saja.

Pertemuan demi pertemuan, pada akhirnya kami setuju melakukan hubungan pada tahap lebih lanjut. Hari sdh mulai gelap, aku yg lagi nyantai di kamar, mendengar dering hp ternyata dari Jane yg ngajak ketemuan dicafe tak jauh dari kampus, kami pun bertemu dan setelah berbincang-bincang setelah sepakat, Jane mengajak aku ikut mobilnya, ternyata dia orang kaya, tuturku melihat mobil BMW tipe terbaru.

Didalam mobil ternyata Jane sdh mempersiapkan segalanya. Dia meminta aku membuka semua pakaian, termasuk celana dlm, spontan aku sangat terkejut karena ini pertama kalinya aku bugil didepan wanita, tp apa daya permainan sdh dimulai, untung kaca mobilnya tdk tembus dlm kegelapan malam, hanya saja AC mobil terasa menusuk badan yg tak terbungkus lagi, “Ini merupakan ujian kepercayaan,” pikir aku dlm hati.

Jane meminta aku menurut dan menjadi budaknya, meskipun dlm perjanjian permainan kami sepakat bergantian antara menjadi “budak” dan “majikan”. Ternyata Jane sdh mengambil keputusan aku sebagai budaknya terlebih dahulu. Jane mengeluarkan barang-barang yg mungkin baru aku lihat aslinya, biasa aku melihat di VCD atau internet. Badanku tambah merinding memikirkan apa yg akan Jane lakukan,

“Woiiii.. kenapa bengong?, takut?” hardik Jane memecah keheningan.
“Ahhh.. ngga.. nggakok,” jawab aku terbata-bata.

Terasa tangannya yg lembut membelai wajahku, kucium aroma yg menyegarkan yg dapat membuai pria.

“Kamu harus nurut sy, kalo ngga sy hukum lebih berat,” kata-katanya sambil mulai memasangkan hood (topeng yg menutupi seluruh kepala ketat dgn satu-satunya lubang yg tersedia hanyalah tepat pada lubang hidung saja).

Kepalaku terasa digencet helm fullface baru, lebih sesak, jantungku berdetak kencang dlm kebutaan aku dikagetkan Jane yg cekatan memborgol tanganku kebelakang badan. Aku hanya bisa duduk tak berdaya menunggu perlakuan dari mistress-ku.

“Gimana? Sabar ya sy bawa kamu ketempat sy, tp utk sekarang kamu tau nyampe aja oke, nikmati aja,” kata Jane membuat aku tambah bingung.

Dlm perjalanan yg tdk tau arah, aku dipermainkan mulai dari menjepit kedua putingku dgn jepitan jemuran,

“Aaawwwhh,” rintihku ketika Jane sesekali menyentil jepitan tersebut, kadang Jane jg mengocok batang k0ntolku yg sdh mengeras dari pertama naik mobil.

Aku hanya bisa merintih dan tak lama kurasa mobil berhenti, terdengar suara pintu terbuka yg ternyata Jane membuka gerbang.

“Sampai jg akhirnya,..tp dimana ini ya,” tanya diriku dlm hati. Setelah masuk garasi, Jane membuka pintuku dan menuntunku.

Dlm keadaan bugil aku ditarik

“Aagghh..,” rintihku ternyata Jane menarik batang k0ntolku sebagai “tongkat penuntun” sampai pada suatu ruangan dia membuka hood dikepalaku.

Kukejap-kejapkan mata beberapa saat menyesuaikan pandanganku dgn cahaya di ruangan itu. Kemudian kulihat Jane sdh berganti pakaian dgn pakaian ketat serba hitam, seksi dilengkapi High-heel (sepatu bertumit tinggi). Kulihat jg ruangan yg belum pernah kubayangkan, berbagai alat tergantung di ruangan ini.

Dlm kebingungan aku disadarkan dgn penjepit yg dilepas yg menimbulkan nyeri karena darah yg mulai mengalir pada puting yg telah lama yg dijepit, borgolku pun dilepas, sekarang aku terbebas.

“Tight, sekarang kamu bebas pakai ruangan ini (ruang penyiksaan) dan ruangan sebelah (kamar tidur)disana semua tersedia, tp jangan sekali-kali kamu keluar dari 2 ruangan ini, karena diluar sana berkeliaran anjing penjaga yg hanya mengenal sy,” kata Jane sambil membelai sekujur tubuhku.

Memang terdengar suara anjing lebih dari satu kurasa.

“Terus.. sy ngapain” tanya aku dlm kebingunan dlm ruangan yg cukup besar dan luas yg penuh dgn wewangian yg membuat gairah meningkat.
“Hebat.. ternyata dia professional” sambil melihat ruangan yg membuat diriku lebih bergairah.
“Tight, mulailah, sekarang kamu master di ruangan ini, sy budak kamu, ayo” pintanya memelas dgn nakal.
“Ok sy mulai sesuai perjanjian kamu milik sy malem ini” tegas aku sambil langsung mengambil sebuah topeng yg terdapat lubang di mata, hidung dan mulut.

Kupasangkan ketat di wajahnya, Jane tampak menikmati hal ini. Lalu kuikat rambut panjangnya dgn tali agar tdk menggangu aktivitas aku. Dgn cekatan aku melepas semua pakaian yg dikenakannya hanya tersisa celana dlm putih membalut tubuh yg putih, mulus dan harum tersebut. Tak tahan aku langsung meraba-raba sekujur tubuh tersebut, desahan nafas Jane makin memburu ketika aku memainkan putingnya.

“Aku akan menggunakan gaya barat dlm permainan kali ini, ok Jane,” tanyaku yg dijawab dgn anggukan yg pasrah.

Kuambil dan kupasangkan sarung tangan panjang (Arm-binder-Body Restraints) pada setiap lengannya, lalu disatukan melipat ke belakang punggung dan kemudian dibalut dgn arm-binder dan sabuk pengaitnya dikancingkan di depan tubuh. Kini sepasang lengan halus itu bukan miliknya lagi, tak bergeming sekalipun Jane berusaha menggerakkan tubuh, mungkin pegal pikirku.

Dlm ketdkberdayaan tersebut Jane kubimbing ke sebuah spread-bar papan utk kaki dan kuperintahkan Jane melebarkan kakinya tersebut dan kukunci setelah pas, sekarang Jane tdk dapat merapatkan kakinya lagi, kulihat CD-nya mulai basah karena rangsangan. Lalu kuambil sebuah ball-gagged sebesar bola ping-pong tanpa basa-basi kubenamkan dlm mulutnya dan kuikat penjepit dibelakangnya. Selanjutnya wide-collar utk menygga lehernya agar selalu mendongak.

Mulailah aku memainkan memeknya yg sdh basah tersebut dgn mengklitik-klitik membuat desahan nafas Jane makin memburu diselingi rintihan yg tertahan ball-gag dimulutnya. Tak puas dgn itu aku mengambil sepasang penjepit lengkap dgn rantai dan serangkaian pemberatnya. Jane terlihat terperanjat menatap benda itu.

Sambil tersenyum aku memasang jepitan itu di puting kirinya. Senyumamku makin lebar melihat wajah Jane yg meringis kesakitan menahankan rasa perih yg serasa membakar. Kemudian aku melanjutkan dgn puting kanannya. Tubuhnya menggelinjang menahan sakit, kemudian aku tertawa-tawa kecil, puas rasanya pikirku sambil memasang beberapa pemberat sehingga putingnya tertarik kebawah dan sebagai akibatnya jepitannya semakin kuat.

Aksi selanjutnya kugunting celana dlm, terlihat rambut-rambut di memeknya menebar bau khas wanita, tak tahan aku lansung meraba, membelai tubuhnya dari atas sampai bawah, lalu berjongkok dan mulai merangsang memeknya dgn mulutku. Nafas Jane makin tersengal-sengal menikmati jilatan pada memek sampai lama kelamaan membuat Jane tdk tahan dan hampir orgasme. Tetapi pada saat itu aku sadar Jane hampir mencapai puncak, spontan aku menghentikan permainan.

“Tdk sekarang Pleasee.. terusin,” pikirku melihat gelengan kepala dan mata Jane yg mengharapkan aku melanjutkan tp sayang aku tdk mau melakukan, Jane tetap memelas dgn kata-kata tak jelas karena terhalang ball-gag.

Kulihat alat elektronik berupa sabuk berbentuk CD dgn 2 tonjolan (dildo) panjang – satu besar dan lainnya agak sedang dgn pengatur waktu. “Wah barang bagus nih perlu dicoba,” pikirku sambil langsung menyetel waktu jalan-berhentinya alat tersebut setiap 5 menit sekali, lalu lansung diikatkan pada pinggang Jane yg sdh mulai lemas dan putus asa karena tdk dapat orgasme.

Dgn melintasi selangkangannya kumasukan setiap dildo tersebut memasuki masing-masing lubangnya; anus dan memek, sebelumnya kulumurkan minyak agar tdk lecet dan kemudian tak lupa aku kancingkan agar kencang pada sabuk pinggangnya, lalu rantai yg mengait kedua puting toketnya tadi sekarang ditambatkan jg ke sabuk penahan di pinggangnya itu.

Lengkap sdh penderitaan Jane, tubuhnya makin lunglai terasa saat kulepas dari spread-bar kakinya sdh tdk sekuat tadi, tp permainan belum berakhir, kukaitkan sebuah rantai panjang pada collar dilehernya dan mulai menarik dia utk “berjalan-jalan” dgn 2 dildo dan high-heel Jane susah utk berjalan, napasnya terengah-engah setelah mengantar aku melihat kamar sebelah yg memang sdh tersedia semua dari ranjang, kamar mandi, kulkas berisi makanan dan minuman.

Kubuka ball-gagg dan penutup kepalanya, tp masih dlm keadaan berdiri dgn collar dari bahan keras yg mengharuskan Jane tetap mendongak.

“Masih bisa lanjut, sayang” bisikku dekat telinganya.
“Iya, terusin donk sy belum puas nih,” jawabnya.
“Boleh sayang, sy ngga akan sungkan lagi”.

Sekarang aku biarkan bagian mukanya bebas karena aku sedang memasangkan sabuk kulit pada bagian hig-heelnya. Lalu kaitan dipasangkan pada ring yg terdapat di setiap sabuk tersebut, sehingga mendekatkan kedua kakinya dan menghalangi langkahnya kelak. Utk lebih membatasi langkahnya aku memakaikan semacam cocoon (rok panjang) dari bahan latex. Bereslah bagian bawah yg sdh terpasang high-heel, cacoon, sabuk 2 dildo otomatis tinggal wajah yg cantik mulai lesu.

Aku memasangkan blindfold pada kedua matanya, kepalanya dibungkus dgn hood (topeng yg menutupi seluruh kepala) yg tadi kupakai dimobil. Lalu dinding pemisah kedua lubang hidung tersebut dikaitkan dgn ring jepit. Yg menjadikan Jane bagaikan kerbau yg harus mengikut jika ditarik.

Kubimbing Jane menuju “kandang” sebuah jeruji besi yg bisa disetting ketinggiannya dan hanya berdiameter 50cm. Jane harus melangkah mengikuti dgn penuh kehati-hatian, agar tak terjatuh. Ternyata Jane menyadari denyitan suara pintu kandang yg dibuka, dlm kegelapan Jane berusaha menolak, namun mana mungkin Jane melawan karena dia tdk punya pilihan.

Akhirnya dgn terpaksa Jane harus menghuni kandang agar Jane selalu berdiri, maka ujung rantai penuntun tadi kulepaskan dan kusetting tinggi kandang tersebut sampai kepalanya keluar dan karena ada bulatan yg cukup utk leher kumasukkan leher tersebut hingga hanya badan Jane didalam kandang dan bagian kepala diluar. Belum puas melihat penderitaan Jane kubelitkan kejeruji pada collar leher dgn rantai penghubung kedua puting toketnya. “Selesai,” spontan kataku dgn bangga sambil keluar dan menggembok pintu kandang.

Tinggallah kini Jane berperan sebagai tahanan itu sendirian dlm penderitaannya. Berulang kali kakinya bergerak lelah dan ingin turun, namun gantungan leher dan puting toketnya memaksanya utk terus bertahan, entah sampai kapan siksaan ini berlangsung yg pasti aku mulai memencet tombol pada sabuk 2 dildo tersebut dan dildo yg sdh tertanam tersebut akan bergetar-getar dan meliuk-liuk setiap 5 menit sekali jalan-berhenti-jalan-berhenti, satu yg dapat aku pastikan Jane akan putus asa dlm mencapai orgasme yg tertunda-tunda tersebut.

Seakan kurang puas aku memperhatikan bagian bawah kandang tersebut ternyata siksaan utk Jane belum berakhir, landasan pijaknya berupa lempengan yg dapat ditarik keluar, dibaliknya adalah timbunan butir-butiran lunak yg kemudian merosot saat terinjak oleh high-heel. Perlahan tp pasti Jane mulai merasakan siksaan yg sesungguhnya.

“Tampaknya sy harus meninggalkan utk beberapa waktu agar kamu dapat menikmati siksaan yg dihadiahkan ini ya sayang,” bisikku penuh dgn kemenangan.
“mmpphh.. mmpphh.. mmmhhhh,” jawab Jane sambil geleng-geleng.

Tp apa daya aku sdh berjalan keruang sebelah utk bersantai beberapa saat sambil membayangkan benda-benda yg belum kupakai diruangan tersebut bila diriku dlm posisi seperti Jane sebagai seorang “Slave”.

Mungkin masih banyak kekurangan dlm cerita ini karena cerita diatas merupakan fantasiku yg bersumber dari VCD, aku akan berusaha lebih baik lagi dlm berfantasi agar lebih baik di kemudian hari. Aku mengharapkan bila ada komentar atau ‘mungkin’ se’aliran’ dgn cerita diatas dan memiliki ketertarikan dlm hal diatas lalu ingin merealisasikannya dlm dunia nyata, aku sangat mengharapkannya, dlm hal ini aku mengharapkan seorang wanita (utk sementara karena beberapa factor) sebagai patner dlm permainan Master & Slave.

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu