Cerita Porno Hot Aku Hamil

Posted on

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Hot Aku Hamil. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Hot Aku Hamil

Cerita Porno Hot Aku Hamil

“Uugghhhh…” aku mengejapkan mata sambil memegangi kepalaku yg terasa pusing. Tubuhku terasa berat. Kulirik seseorang yg masih tidur pulas di sampingku. Seperti biasa, aku menatap wajahnya untuk memulai hariku. Tanganku terulur meraih laci meja lampu dan membukanya.

Kuambil sebuah camera lalu memotretnya. Ah, dia terlihat sangat, well sexy. Kukembalikan kameraku sebelum dia merebutnya lalu berbisik di telinganya

“Jon, bangun!!”

Dia tdk bergeming sama sekali. Kuelus-elus kepalanya lembut. Ia mulai bergerak pelan.

“Jon, kamu harus ke kantor. Bangunlah,”
“Bisakah kau mengatakan pada Papa kalau aku sakit?” tanyanya dgn suara serak, masih memejamkan mata.

Kucubit hidungnya,

“Kamu mengajariku untuk berbohong, eh?”

Ia tersenyum lalu membuka mata.

“Hari ini aku benar-benar malas dan ingin melanjutkan kegiatan kita semalam,”

Astaga Tuhan. Apa dia tdk tau kalau kata-katanya itu bikin wajahku ini memerah?!

“Jangan kekanakan. Ayo, cepat bangun Jonr!!”

“Morning kiss,” katanya sambil memejamkan mata. Aah… chuup… “Mmmpppphhh…” -cerit hot-

Sial, tangannya menahan tengkukku, membuat niatku yg hanya mengecupnya kini tertahan. Bibirnya melumat nikmat bibirku. Kamu tau? Ciumannya selalu memabukkan. Tp dia tdk memberiku kesempatan sama sekali untuk bernafas. Aku memukul-mukul dadanya. Astaga, apa dia ingin membunuhku?

“Haaaah…” kulepas paksa ciuman itu.
“Jon! Kamu ingin membunuhku, hah?” teriakku pada laki-laki yg masih memejamkan mata sambil mengambil nafas itu.

Dia tersenyum tanpa dosa kepadaku. Dan tdk… sudah jam berapa sekarang ini? Kucari handpone ku dgn panik dan seketika melotot saat melihat jam di layar handpone.

“Jon, cepat bangun! Ini sudah jam setengah tujuh lewat!” teriakku panik sambil menyambar baju handuk.

Secepat kilat aku berlari keluar kamar.

“Kalau 10 menit lagi kamu belum siap, aku akan menggantungmu! Pakai jasmu yg sudah kugantung di depan lemari!!”

Aku menghela nafas pelan. Kulihat file-file di depanku dgn malas. Sepertinya aku tdk enak badan hari ini. Rasanya badanku lesu. Saat sarapan tadi pun perutku tak merasa enak. Apa aku sakit? oh ayolah… Apa yg bisa dilakukan suamiku itu jika aku sakit?! Well, tentu aku tdk ingin memakan bubur hancurnya itu saat sakit.

Aku sudah lulus kuliah tiga bulan yg lalu. Dan sekarang aku membantu Mama bekerja di butik gaun pengantin miliknya. Sebenarnya aku juga menjadi editor di perusahaan Papa, tp itu bisa kulakukan sebagai sampingan saja.

“Citra, ada seseorang yg ingin melihat desain terbaru kita, bisa kau tunjukkan?” tanya Mama.

Terlihat ia sedang membawa kotak berisi aksesoris gaun.

“Tentu, Mah,” jawabku sambil beranjak dari duduk.

Aku berjalan menemui sepasang pria dan wanita yg tampaknya akan menikah itu. Keringat dingin mulai mengalir di tengkukku. Nafasku terasa berat. Sepertinya aku memang sakit.

“Selamat siang,” sapaku sambil membungkuk pada pasangan itu.
“Apa anda ingin melihat desain terbaru kami? Mari sy tunjukkan,” ucapku ramah.

Kuantar mereka ke sebuah ruangan. Di sana ada beberapa manequein yg menggunakan gaun pengantin dan beberapa rak yg berisi gaun-gaun.

“Silahkan anda melihat-lihat desainya,” ucapku lagi
“Bagaimana model yg anda inginkan?”
“Kami ingin yg sederhana saja, tp manis dan terlihat mewah,” ucap wanita itu.
“Ah, tunggu sebentar,” aku berjalan menuju sebuah rak.
“Fit, bisa kamu bantu aku mendorong rak ini?” pintaku pada seorang gadis yg menjahit manik di sebuah gaun.
“Iya, sebentar,” jawab gadis itu kemudian menghampiriku.

Tiba-tiba saja aku merasa dunia berputar. Keseimbanganku hilang.

“Mbak Citra!!!” teriakan itu sempat kudengar sebelum semuanya gelap.
“mmmhhh…” aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut.
“Ciki sayang…”

Suara itu. Suara Joni. Aku mengerjapkan mata pelan dan melihat wajah itu ada di sana. Menatapku dgn cemas.

“Aku kenapa?” tanyaku pelan sambil berusaha bangun. -sex hot-
“Kamu pingsan tadi,” jawabnya sambil membantuku duduk.
“Apa kmu sakit, Citra?” tanya Mama.
“Aku sepertinya tdk enak badan…”
“Kenapa tdk bilang padaku?”
“Tunggu… apa yg kau lakukan di sini?” tanyaku pada Joni.
“Tentu saja melihatmu, bodoh!! Kau pikir siapa yg tdk panik saat mendapatkan telepon kalau kau tiba-tiba saja pingsan?” semburnya.
“Ah… kenapa Mama menelepon Joni?! Aku hanya pingsan!!”
“Hanya pingsan??” Joni melotot kepadaku.Oke, itu berlebihan. Aku hanya pingsan, bukan mengalami kecelakaan atau semacamnya.
“Ayolah, Jon… aku haus,”

Yuli, salah satu pekerja dgn cepat mengambil segelas air lalu memberikannya kepadaku. Aku menggeleng pelan, “Aku ingin air es,” bisikku serak.

Dgn cepat Yuli mengambilkanku air es.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Joni setelah aku minum. “Aku tdk apa-apa, Jon, kau kembalilah ke kantor,” “Tdk, kuantar dulu kau ke rumah sakit!!”

“Tdk perlu, aku tdk apa-apa, sungguh,”
“Pergi saja, Cit, wajahmu terlihat pucat,” kata Mama.
“Atau aku akan di sini terus dan tdk akan kembali ke kantor!” ancam Joni.

Aku mendesah pelan, “Baiklaaah…” jawabku tdk rela.

“Bagaimana, Dokter?” tanya Joni.

Dokter itu hanya tersenyum sambil duduk di kursinya, “Non Citra hanya kelelahan,”

“Kau dengar itu?! Aku tdk apa-apa, Jon!”
“Dan sebaiknya mulai sekarang anda harus menjaga kondisi anda, Nona, kalau tdk ada kemungkinan buruk yg terjadi,” tambah Dokter itu.

Husna dan Lily, Teman Belajarku yg Nikmat

“Apa maksud Dokter?” tanya Joni sementara aku hanya menatap bingung.

Dokter itu mengulurkan sebuah amplop,

“Jangan terlalu keras bekerja dan perbanyaklah istirahat. Anda juga tdk boleh stres. Selamat atas kehamilannya,”

“…”

Aku masih terdiam mencerna kalimat Dokter barusan. selamat atas kehamilannya? Maksudnya, aku hamil?

“Cik, kamu hamil!!” pekik Joni menyadarkanku.
“3 minggu!” sahut dokter itu sambil tersenyum.
“A-apa itu benar?” tanyaku tdk percaya.

Joni menggenggam erat-erat tanganku, mengguncangnya pelan. “Kau hamil, kau hamil, kau hamil, kau hamil,” bisiknya berkali-kali.

“Dalam amplop itu sudah ada nama dokter yg akan menangani istri anda nanti Tuan Joni, periksalah rutin dan jagalah istri anda baik-baik,”
“Tentu saja, Dokter. Terima kasih banyak,” Joni menggenggam erat-erat tangan dokter itu saat kami diantar keluar ruangan olehnya.
“Sama-sama, Tuan.”
“Terima kasih, dokter,” ulang Joni lagi.
“Iya, Tuan,”
“Terima kasih banyak,”
“Iya, iya, sebaiknya anda segera pulang dan beritahu keluarga juga,”
“Anda benar,” sahut Joni kemudian berjalan pergi.

Aku hanya menatap datar padanya. Sesenang itukah dia hingga lupa bahwa aku masih ada di sini, di sebelah Dokter? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa mengajakku?

“Hei, istriku hamil,” katanya penuh bahagia pada seorang wanita yg berpapasan dgnnya.
“Tau nggak, istriku hamil,” katanya pada seorang nenek yg tengah duduk di kursi roda, dituntun oleh seorang gadis.

Nenek itu terkekeh sambil mengucapkan selamat.

Begitu seterusnya. Ia mengucapkan hal itu kepada semua orang yg berpapasan dgnnya di koridor rumah sakit.

“Suami anda terlihat sangat senang, Nona,” komentar Dokter sambil menatap aneh pada Joni.
“Menurutku dia terlihat tdk waras,” sahutku “Apa gejala-gejalanya sudah mulai tampak, Dokter?”
“Anda ingin aku jujur?” balas Dokter itu sarkastik. ***

Sudah tdk terasa empat bulan berlalu. Perutku mulai membesar. Kami rutin cek kandungan dan coba tebak bagaimana tingkah Joni?! Dia seperti nenek-nenek saja. Tdk memperbolehkanku begini, begitu. Sangat menyebalkan.

Dia melarangku bekerja di butik. Oh ayolah, aku baru hamil empat bulan tp dia bersikeras melarangku bekerja dan hanya mengijinkanku menjadi editor. Itupun harus kulakukan di rumah. Tdk tahukah dia bahwa aku sangat bosaaan?

Selain itu dia akan meneleponku tiap jam dan aku harus melapor kemana aku akan pergi. Tdk memperbolehkanku pergi kemana pun sendirian. Pernah sekali waktu aku pergi ke supermarket karena kehabisan tissue, dan kalian tahu apa yg dia

lakukan? Sedetik setelah meneleponku, dia langsung menyusulku ke supermarket tempatku berada. Dia juga meminta Bik Sum, salah satu pembantu di rumah Mama untuk menemaniku selama Joni bekerja di kantor. Bik Sum baru boleh pulang jika Joni sudah berada di rumah. Kekanakan sekali bukan?

Bukan itu saja, sekarang dia juga sering memaksaku minum susu untuk ibu hamil. Meskipun itu rasa coklat karena aku memang membenci susu, apalagi yg berwarna putih. Pagi hari, dia akan memaksaku melakukan olah raga ringan dan memaksaku pergi berenang setiap minggu. Sedikit menyebalkan, Tp aku menyukai dirinya yg seperti itu. Dia selalu mendengarkan nasihat Dokter sungguh-sungguh. Dan bayangkan berapa banyak buku tentang kehamilan yg dia beli. Untukku? Tentu saja bukan, itu untuknya sendiri. Karena aku memang hanya membaca sesekali. Tp dia selalu membaca setiap detailnya dan melaksanakan dgn sungguh-sungguh. Kalau dipikir-pikir yg hamil ini aku atau dia sih?

Itu tingkah-tingkah normalnya. Bagaimana dgn tingkah tdk normalnya? Kalian tahu, kamar kami sekarang sudah penuh dgn foto close up wajahnya. Jika ditanya kenapa, dia akan menjawab supaya anak kami nanti setampan dirinya. Dia juga selalu bernyanyi setiap malam sebelum aku tidur. Agar bayi kami mengenali suara Papanya. Oke, yg ini aku menyukainya. Dia memang memiliki suara yg terindah menurutku.Tp tdkkah kalian merasa rasa percaya dirinya terlalu tinggi?

“Uuuggh…” aku membekap mulutku. Rasanya perutku bergejolak.

Kusingkirkan lengan Joni yg memelukku dan langsung beranjak dari tempat tidur. Berlari menuju kamar mandi dan muntah di sana.

“Cik, kau baik-baik saja?” tanya Joni dgn tampang kusut baru bangun tidur. Ia berjalan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya menghampiriku.

Aku tdk menjawab, lalu kurasakan pijatan di tengkukku. Tp mengapa perutku terasa semakin mual?!

“Kuambilkan air sebentar,” katanya lalu pergi.

Aku membasuh mulutku dgn air kran. Rasanya lebih baik sekarang. Tdk lama kemudian, Joni datang membawa segelas air hangat. Baru saja aku mengambil gelas itu dari tangannya, perutku sudah mual lagi. Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Menghempaskan diriku di sofa. Rasanya lebih baik sekarang. Kusesap air hangat yg diambilkan Joni tadi.

“Sudah lebih baik?” tanya Joni sambil berjalan menghampiriku. Ia menjatuhkan dirinya di sebelahku.

Aku menutup mulutku. Kuberikan gelas itu pada Joni lalu beranjak dari dudukku.

Kubuka jendela kamar, merasakan sejuknya angin yg berhembus. Mengapa setiap Joni berada di dekatku, aku merasa mual?

“Aku pulang!!”

Kudengar teriakan Joni dari arah pintu. Aku yg sedang memasak di dapur bersama Bik Sum menoleh ke arah pintu. Laki-laki itu sedang berjalan menghampiriku.

“Berhenti di situ, Jon!! Jangan mendekatiku, aku mual jika berada di dekatmu!!”

Joni menghela nafas dgn tatapan yg begitu memelas “Ini sudah seminggu lebih, Cik,” desahnya.

Aku menggaruk tengkukku. “Mau bagaimana lagi, aku selalu muntah-muntah kalau kau di dekatku,”

“Ah, terserah deh!” dengus Joni kesal sambil keluar dari dapur. Bik Sum terkikik pelan,
“Dia pasti sangat kesal,”

Aku hanya tersenyum canggung. Biasanya Joni memang langsung memelukku saat pulang dari kantor, tp entah kenapa seminggu ini perutku terus-terusan mual jika di dekatnya. Apa anakku tdk menyukai Papanya?

Setelah makan malam, Bik Sum pulang dan Joni langsung masuk ke dalam kamar. Aku mengerjakan beberapa pekerjaan dgn laptopku di ruang tengah. Beberapa kali pesan masuk ke dalam ponselku dan itu semua dari Joni. Aku sedikit geli juga kasihan melihatnya. Ia menyuruhku minum susu lewat pesan, menyuruhku minum vitamin lewat pesan juga. Dan kalian tau? Sudah seminggu ini dia tidur di kamar bekas kamarku dulu. Aku terpaksa menyuruhnya pindah karena aku tdk bisa tidur bersamanya dan tdk tega membiarkannya tidur di sofa. Tp dia tetap menggunakan kamar mandi di kamar kami.

Kurenggangkan badanku. Sudah malam rupanya. Apa yg dilakukan bocah itu di kamar? Pasti sedang main game. Well, saatnya untuk mengusir babi bodoh itu.

Kubuka kamar dan… kosong? Kemana dia? Aku hanya melihat laptopnya yg berada di atas tempat tidur. Apa dia di kamar mandi? Kuhampiri pintu kamar mandi tanpa suara. Tanganku sudah terangkat akan mengetuknya saat kudengar sesuatu dari dalam.

“Ciki… oooh… uuugh…”

Blusssh… Wajahku langsung terasa panas mendengarnya. Memang sejak aku mual di dekatnya, dia tdk bisa menyentuhku sedikitpun. Jangankan menyentuh, mendekat saja aku sudah mual. Kutempelkan telingaku di pintu. Menguping sebentar tdk masalah bukan?!
Pemilik K0ntol Terpanjang Di Dunia

“Aaah… terus sayang… uuugh… lebih kencang…”

Aku menggigit bibirku. Pasti Joni sedang memuaskan dirinya sendiri. Ada perasaan bersalah yg menyelip di hatiku.

“Aahh… Cikii… oooh… ngghh…”
Apa yg dibayangkannya saat ini? Diriku yg sedang mengulum k0ntolnya? “Nghh… ooohh… aaahh… aaah…”

Aku terus mendengarkan. Entah sejak kapan nafasku menjadi berat. Rasanya bagian bawahku basah. Tanpa sadar, aku memejamkan mata dan ikut berfantasi bersama suaranya.

“Aaahh… nghhh… Cikii… oooh… ssshhhh… aaaaaaaarrrghhh…” Joni memekik. Kurasa ia baru saja orgasme.

Untuk beberapa saat, hening. Kemudian terdengar suara shower dinyalakan. Aku berjalan menuju tempat tidur dan membuka laptop Joni. Dahiku mengernyit saat melihat folder itu. Pantas saja, dia baru saja melihat film dewasa. Kumatikan benda itu lalu kutaruh di atas meja.

Aku sudah tidur di atas ranjang saat Joni keluar dari kamar mandi. Entah melihatnya yg toples dgn rambut basah membuat wajahku terasa panas. Ia mengambil kaos di lemari lalu memakainya.

“Kau sudah minum susu?” tanyanya. Aku mengangguk pelan, “S-sudah,” “Sudah minum vitamin?”
“Sudah,”
“Sekarang tidurlah,” ucapnya lembut sambil melempar handuknya ke sofa. Kebiasaan buruknya.

“Mmmppphhh, kamu juga,”
“Nanti saja, belum ngantuk,” kata Joni sebelum keluar kamar.

Sudah sejam aku memejamkan mata. Tp entah mengapa aku tdk bisa tidur. Bayangan Joni yg ehh… memuaskan dirinya sendiri membuatku merasa bersalah. Aku menggigit bibir bawahku sambil menatap ponselku. Apa dia sudah tidur? Aku sangat ingin mendengar suaranya. Kuusap perutku sambil mendesah pelan. Ada apa dgnmu, baby?

Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya.

“Halo?” jawabnya pada nada sambung pertama. Dia belum tidur!
“Ada apa, Cik? Kau perlu sesuatu?”

Aku menggeleng pelan,

“T-tdk…“ jawabku saat sadar dia tdk bisa melihat gelengan kepalaku.
“Lalu?”
“Jon,”
“Hmm?”
“Kau sudah tidur?”
“Belum, kau?”
“Aku tdk bisa tidur…”
“Kau ingin aku ke sana?”
“Perutku akan mual,” Kudengar ia mendesah pelan.
“Maaf…” bisikku.
“Tdk apa-apa, Cik. Sekarang tidurlah, sudah malam,”
“Aku masih ingin mendengar suaramu,” bisikku pelan.
“Aku juga,” balasnya ikut berbisik.

Entah mengapa percakapan kami dgn bisikan terasa lebih intim. Seolah dia ada di sebelahku. Kutarik selimut lebih rapat sambil memejamkan mata.

“Jon…” panggilku.
“Hmm?”
“Peluk aku,” bisikku perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal. Hening sejenak.
“Aku sudah memelukmu,”
“Benarkah? Kenapa aku tdk merasakannya?” aku mendesah lagi.
“Mmhh… kau merasakan lenganku di pinggangmu? Aku sedang membelai setiap inci kulit indahmu. Bibirku sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu.”
“I-iya,” aku berucap pelan sambil mulai memejamkan mata. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil beberapa waktu yg lalu nampak jelas di pelupuk mataku.
“Sekarang bibirku turun ke arah lehermu. Lalu lidahku menyapu-nyapu lembut di sana. Kamu bisa merasakannya, Cik?”

Joni melanjutkan.

“Mmh… iya, Jon. Sekarang terasa hangat,” aku semakin tdk sabar menunggu kelanjutannya sambil jemari tanganku mulai membelai-belai leherku sendiri, mengikuti fantasinya.
“Aromamu enak, Cik… aku jadi ingin menggigit lehermu,” bisik Joni.
“Kalau begitu, gigitlah…” pelan jemariku mengalir pelan di sepanjang leherku yg jenjang, sesekali berhenti di belakang telinga sebelum akhirnya turun ke arah buah dadaku.
“Ngh… kau menggodaku huh?” tanyanya nakal.
“Kau yg menggodaku, Jon… hhh…” nafasku mulai sedikit berat.

Aku mendengar nafasnya juga mulai tersengal, sama dgn nafasku. ”Mmmh… kuhisap pelan lehermu… “ Joni berkata.

“Aah… lidahmu terasa basah, Jon… uugh…” aku menggelinjang. “Lehermu lembut…. biar kukecupi, angkat wajahmu,” perintahnya.
“Ooouggghhh… Jon… ngghhh…” melenguh pelan, terus kuremas-remas bulatan payudaraku. Semakin nikmat saja rasanya.
“Bisa kau bantu aku melepas bajuku?” bisiknya lembut.
“Iya… sudah.” aku berkata nakal.

Kubayangkan Joni yg telanjang, dgn k0ntolnya yg besar sudah mengacung tegak. Ughh… membuatku jadi sangat bergairah sekali.

“Sekarang giliranku melepas bajumu…” ia berbisik. ”Kau pakai daster merah muda yg ada renda-rendanya itu kan?”
”He-eh,” aku mengangguk.
”Dgn cd warna krem?” tanyanya lagi, penuh rasa penasaran.
”He-em,” aku mengangguk lagi.
“Sekarang lepas semuanya!” perintahnya, dan aku pun melakukannya. ”sekalian bersama bra-mu,” tambahnya.

Dalam waktu singkat, tubuhku sudah polos telanjang di atas ranjang. Aku tergolek lemas, tak sabar menunggu perintah Joni selanjutnya.

“Sekarang bibirku semakin turun ke bawah, turun… dan terus turun secara perlahan-lahan sampai tiba di atas gundukan payudaramu. Sambil meremas, aku mulai menjilatinya. Kuhisap putingmu yg berwarna merah itu secara bergantian, dari yg kiri… lalu ke yg kanan. Begitu terus sampai aku puas!” bisiknya.

“Sshh… Jon… hhh…” aku tdk kuasa membayangkan betapa dadaku yg kenyal dihisap-hisap oleh Joni, serta tangannya yg kokoh meremas-remas bulatannya yg kenyal.

Tanpa sadar, aku mulai mengerang kecil, meremas seprai dgn satu tangan, lalu memiringkan badan untuk meraih guling.

“Mmpphh… putingmu manis, Cik… keduanya mulai mengeras dan meruncing. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan semakin menjulang… terus kuemut sambil tak lupa juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya… mmmh…” Joni kembali melanjutkan fantasinya
“Oohh… Jon… sssh… aaaahh…” aku mulai menggelinjang. Terus kuremas-remas buah dadaku sambil membayangkan seolah-olah memang Joni yg melakukan aktifitas itu.
“Mmhh… mnnhh… aah… K0ntolku bangun, Cik,” ia berkata.
“Hhh… sepertinya harus ditidurkan lagi bukan?” jawabku dgn tersengal. “Kuusap pelan-pelan ya?!” kataku sambil mulai membayangkan meremas-remas lembut kejantanan Joni di bawah sana.
“Uuughh…. aahh… kocok yg kuat, Cik…” Joni merintih.

Tanganku turun ke bawah. Di pikiran, memang kejantanan Joni yg kubayangkan, namun nyatanya aku malah mengusap-usap bibir memekku sendiri, hingga membuatnya jadi begitu basah dan lengket. “Hmm… enak, Jon?” aku bertanya.

“Ssshh… kulum, Cik… jangan cuma dikocok!” ia meminta.

Aku mengangguk. ”Iya, sini biar kukecup, mmhh…” aku benar-benar tak tahan lagi. Dgn satu tangan tetap meremas-remas dada, aku terus mengusap-usap kewanitaanku dgn tangan yg lain. Kurang puas, kutambah dgn menelusupkan satu jari ke lembah sempit yg ada disana. Terasa sangat basah dan lembab sekali oleh cairan cinta, namun membuatnya jadi begitu nikmat. Apalagi saat aku menemukan tonjolan kecil di bagian atas yg telah menyeruak keluar dari tempat persembunyiannya, segera aku menggesek-geseknya hingga membuatku mengerang pelan tak lama kemudian.

”Jilat, Cik!” Joni meminta lagi. Kutebak ia juga sedang mengocok-ngocok k0ntolnya sendiri sekarang, sama seperti yg sedang aku lakukan.
“Sini kujilati… mmmh…” desisku sambil membayangkan kenikmatan saat Joni menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanku, yg sebenarnya malah jari telunjukku yg terus kuputar-putar di atas daging kecil merah milikku.
“Aaahh…” Joni mengerang.
“Masukkan, Jon… enghh… aku pengin… oohh… sekarang!” aku tak kuasa meneruskan kata-kata.
“Iya, Sayang. Aku juga.” balas Joni, ”Lebarkan kakimu, kumasukkan sekarang… aaah…” ia menjerit.
“Ooohh…” aku mengerang pelan sambil menggigit bibir, tubuhku sedikit tersentak bagai tersengat listrik saat ujung jari telunjuknya tak sengaja menyentuh daerah g-spotku.

Aku terus mengusap-usap lembut disana, membuat desahanku menghambur keluar cukup keras.

“Kugerakkan ya?” Joni berkata cepat.
”Oooh… lakukan, Jon!” aku berbisik sambil mengangkat kedua pahaku untuk mempermudah usapan jemariku di bibir kewanitaan.
“Uughh… nikmat Cik… aahh… aaahh…” Joni mulai mengerang, kubayangkan ia mengocok k0ntolnya semakin cepat di ujung sana.
“Lebih cepat, Jon… aaah… nghhh… disitu… uughh…” aku mengerang semakin keras.

Kubayangkan jari tengahku yg masuk ke dalam celah liang memek adalah k0ntol Joni yg tengah menusuk-nusuk liar disana. Namun sepertinya masih terlalu kecil, jadi kutambahkan satu jari lagi. Kini kedua pahaku terpentang semakin lebar dgn dua jari melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaan dan meluncur teratur maju-mundur mengocok liang senggamaku yg sudah begitu basah dan lengket oleh cairan memek.

“Oohh… aaahh… aaah…” Joni ikut merintih, entah apa yg ia lakukan disana hingga tampak begitu nikmat.
“Uuugghh… lebih dalam, Jon… aaahh…” aku meminta.

Eranganku menjadi semakin jelas. Kalau saja ada orang yg berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

“Hampir, Cik… ohhh… nikmatnya punyamu… sshh… aah… aah…” suara Joni menjadi kian parau.
“Aahh… aku tdk tahan, Jon… aaah… sshh…“ begitu juga dgnku. Aku merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mata.
“Sebentar… oohh… ughh… ahh… ahh…” Joni terdengar sangat tersiksa.
“Jonr… uuughh…” kugumamkan namanya dgn tangan bergerak semakin cepat, terus kugesek liang senggamaku sementara tanganku yg lain tetap meremas-remas tonjolan payudaraku dgn begitu gemas.
“Aaahh…sekarang Cik… sshh… aaaaaaaarrrggghhh…” Joni menjerit.
“Aaaaaaarrghh…” aku ikut mengerang saat mendengar lenguhan panjangnya.

Sama dgnku, ia pasti juga sudah keluar di ujung sana. Nafasnya terdengar memburu. Untuk sesaat, hanya suara nafas kami berdua yg terdengar. Aku masih memejamkan mata. Selimutku terasa sangat basah di bawah sana.

“Cik…” panggilnya berbisik.
“Hmm?” aku berusaha untuk membuka mata.
“Terima kasih,” katanya.
“Sama-sama, Jon. Sekarang tidurlah,” aku tersenyum.
“Peluk aku,” ia berkata manja.
“Dari tadi aku sudah memelukmu,” sahutku.
“Aku mencintaimu,” bisiknya pelan.

Aku mulai tertidur tanpa mematikan handpone. Suara nafasnya kini terdengar teratur. Suaranya selalu membuatku nyaman. Aku juga mencintaimu, Jon… bisikku dalam hati.

Google Trends: