Cerita Porno Aku Mau Jadi Budaknya

Posted on

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno Aku Mau Jadi Budaknya. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno Aku Mau Jadi Budaknya

Cerita Porno Aku Mau Jadi Budaknya

Kak Edo mencabut penisnya dari vaginaku. Aku merasakan penisnya melemas, meluncur keluar. Ia terus bangkit berdiri. Aku masih megap-megap, kehabisan nafas. Kenikmatan yg bertubi-tubi, bahkan rasa sakitnya pun nikmat.

Penis yg terkulai itu masih nampak besar, jauh lebih besar daripada punya Bapak. Lebih besar daripada… penis laknat yg dahulu memperkosaku. Aku merasa vaginaku sakit, ngilu, dan bahagia.

Mungkin, begini rasanya pengantin baru. Vagina ngilu, karena baru dimasuki batang penis suami yg besar. Aku memandang Kak Edo, merasakan getaran. Apakah ini cinta? Di saat seluruh tubuhku terasa basah berkeringat, di saat pantatku terasa basah — ini spreinya harus diganti karena basah semua — dan aku masih bisa mencium wangi persetubuhan kami berdua, adakah ini adalah cinta?

Aku memandang Kak Edo. Masih merasa seperti bermimpi, yg kalau diceritakan maka akan jadi cerita cabul esek esek saru. Tapi aku merasa indah, dan mendengar kata-kata cintanya, walau aku tahu ini tdk mungkin, aku sangat bahagia. Kak Edo menaruh tubuhnya yg telanjang dan basah di sisiku. Sprei basah sudah tdk terpikirkan, tdk masalah. Yg penting adalah saat itu, ketika Kak Edo merangkulku, memelukku.

Ketelanjangan kami berdua membuat tdk ada lagi pemisah, pelukan erat oleh tangan dan kaki dan lidah yg bertautan. Aku menangis, bahagia. Aku mencucurkan air mata. Ia menatapku dengan bingung. Panik? Tapi aku tersenyum lebar, dengan mata basah, aku berbisik di telinganya,

“Kak Edo… saya kini milikmu.”
“Sayaannnggg….” desahan berat itu menggetarkan jiwaku.
“Saya mau melayani… Mungkin…. Mungkin saya tdk pantas jadi istri. Tapi, kalau boleh, sekali ini, Biar saya melayani. Jadi budak sexmu pun… saya bahagia…”
“Huusssss…. Jangan ngomong gitu… ” Aku lantas bangkit duduk di atas ranjang.

Kak Edo masih berbaring di situ. Gagah sekali. Baru saja menggagahiku… aku mau digagahi. Ditiduri. Lagi, lagi. Aku menundukkan wajahku. Mataku memandang penisnya yg melemas, masih basah berlendir.

“Kak Edo… saya terima kenyataan. Saya tdk pantas Kak… Kakak mau meniduri saya saja, sudah lebih dari yg saya bayangkan. Saya mengerti kalau nanti Kakak harus pergi. Tapi sekarang, kalau boleh saya ingin melayani Kakak…” Aku mengangkat wajah.

Menatap wajah tampan itu, menjadi Arjunaku dalam hidup. Kak Edo wajahnya nampak sangat serius.

“Aku cinta padamu…”

“Kak Edo… kita baru berkenalan. Kak Edo belum kenal saya sedalamnya. Bagaimana bisa berkata cinta? Tapi, saya bahagia kalau bisa melayani Kak Edo bercinta…”Aku meraih penisnya yg lemas itu. Basah. Lengket.

Aku melepaskan ikatan rambutku, tergerai sampai ke ujung putingku. Aku menunduk. Memakai rambut untuk mengelap penis merah tua, yg kepalanya licin merah muda. Masih belum bersih. Jadi, aku menunduk lebih dalam, menggunakan bibirku, lidahku, mulutku. Rasanya asin gurih, penis itu terasa lembut kenyal di mulutku. Aku menjilatinya, membersihkannya.

Aku senang mendengar rintihan nikmat Kak Edo. Penis itu berdenyut-denyut di mulutku, mengeras, membesar. Aku merasa bergairah. Aku bisa membangkitkan kembali keperkasaannya. Kekuatannya. Aku menghisap kepala yg merah muda itu, seperti mengulum lolipop. Karena penisnya sudah kembali menjadi panjang dan besar, aku melingkarkan jari- jariku yg lentik. Ketika ujung ibu jari dan jari tengah bertemu, pas melingkari penis yg kokoh ini.

Aku mulai menyukai urat- uratnya, guratan-guratannya. Terasa enak ketika lidahku menyapu di sepanjang batang yg indah ini. Membuat vaginaku berdenyut. Aku ingin memasukkannya kembali. Kegiatan menjilat dan menghisap itu membuatku seperti merangkak di atas ranjang. Kedua lutut di pinggir ranjang, kedua siku menopang, dan kepala dan bahuku merunduk ke bawah, bagaikan rusa betina yg sedang minum air yg segar dengan rakusnya. Aku masih asyik menjilat dan mengulum dan menghisap ketika Kak Rai memberiku perintah pertamanya.

“Diam ya… tunggu…” Aku terdiam.

Menunggu, dengan posisi masih menungging. Cairan dari vaginaku meleleh di sepanjang pahaku. Terasa dingin di sore yg panas itu. Kak Edo bangkit, berdiri ke samping ranjang. Ia melangkah, mengitari ranjang. Menempatkan diri persis di belakangku. Aku merasakan tangannya mengelus kedua pantatku. Merenggangkannya. Ujung penisnya menyentuh vaginaku. Aku menahan nafas, menanti. Kepala bulat licin itu mencari jalan menguak bibir vaginaku. Melesak. Aku merasa seperti kena setrum, tdk bisa menahan erangan nikmat.

Aku membenamkan wajahku di permukaan ranjang yg basah. Aku mencium wangi lendir membasahi hidungku. Rangsangannya luar biasa. Kak Edo mendorong maju. Aku merasa penis itu menerobos masuk kembali ke vaginaku yg sempit. Keluar lagi. Aku merintih, memohon agar penisnya dimasukkan kembali. Kak Edo mendorong kembali dengan kekuatan besar. Menerobos. Menancap. Menarik. Menancap. Menarik. Menancap.

“Tuan… ayo… puaskan dirimu…” aku ingin Kak Edo menikmatiku.

Aku mengeraskan otot di sekitar vaginaku, berusaha mencengkram penis itu.Tuanku menjadi semakin cepat, lendir basah membuat vaginaku licin dan batang lelaki itu bagaikan belut yg masuk dan keluar liangnya. Kak Edo seperti kesetanan, ia memegang pangkal pahaku dan membuat tubuhku terguncang keras setiap kali penisnya menghujam dalam-dalam. Nyeri, tapi sungguh nikmat. Inilah yg pantas untukku: ditusuk kuat-kuat. Dalam-dalam. Apapun juga, asalkan Tuanku suka. Aku sungguh mau menjadi budaknya.

“Haaahhhhh…. Ggrraaahhhhh….. ” sang jantan menggeram.

Gerakannya semakin cepat. Aku turut menjerit di bawah tekanan. Aku ingin mencengkram dan tdk melepaskan penis yg masuk dan keluar dengan cepat. Tusukan semakin kuat, berirama, masuk semua sampai ke pangkalnya. Setiap kali paha kami beradu, terdengar suara plak, plak, plak. Pandangan mataku gelap, nanar dalam hantaman orgasme yg hebat. Vaginaku mencengkram penis itu sejadi-jadinya, sementara tuanku membenamkan lagi sekuat-kuatnya, sampai aku tertekan ke ranjang.

Ia mengejang-ngejang, aku merasakan denyutan- denyutan kuat. Menyembur. Masuk. Memenuhi liang. Tenggelam dalam birahi yg memuncak. Terpancar. Lega, rasanya lega sekali. Memuaskan laki-laki. Memuaskan Kak Edo, tuanku. Lelaki gagah ini sekali lagi mencabut penisnya, lendir meleleh dari lubang vaginaku yg membesar, mengalir di sepanjang pantat dan paha, menetes ke atas ranjang. Aku ambruk saking lelah dan nikmatnya, seluruh syarafku seperti kelebihan beban rasa.

“Ke kamar mandi yuk.” kata Kak Edo.

Aku mengangguk, tanpa mampu banyak bersuara. Konon, budak tdk boleh banyak bersuara, bukan? Kami mandi. Aku keramas, membersihkan lengket di rambutku. Di tubuhku. Membersihkan selangkanganku.

“Di cukur?” Kak Edo bertanya sambil meremas jembutku. Aku mengangguk. Mengambil pisau cukur dan krim punya Bapak, aku menyemprotkan busa putih di rambut kemaluan, lalu mulai mencukur.

10 menit kemudian aku selesai dan bersiram di bawah pancuran air hangat. Selangkanganku bersih seperti anak-anak. Tapi bibirnya sudah tebal dan kini agak membesar, setelah melayani penis besar itu dua kali berturut-turut. Kak Edo dengan senang mengusap-usap vaginaku yg kini jadi licin.

“Hehehe…. Kalau dikasih madu di sini, enak ya… tapi… saya kok lemes sekarang…”
“Kak Edo… saya masakin apa buat makan?”
“Mie?”
“Bentar ya…” Selesai mandi, dan mengeringkan badan, aku bergegas ke dapur.

Telanjang berbalut handuk saja, toh hanya ada kami berdua. Udara terasa semakin dingin malam ini. Mie kuah hangat pasti terasa istimewa. Selesai menyediakan mie di atas meja makan, aku terus ke kamar Kak Edo. Menarik sprei dan melepas sarung bantal. Bawa ke tempat cucian, masukkan ke ember untuk direndam semalam. Selesai semua pekerjaan, aku melihat Kak Edo baru saja menyelesaikan makannya.

“Minum kopi?” tanyaku.

Bapak biasa minum kopi di sore hari begini, kalau ada di rumah. Kak Edo tersenyum, mengangguk.

“Tambah telor setengah matang?” Sempurna.

Aku bergegas mempersiapkan semuanya. Menghidangkannya.

“Sini….” Kak Edo memanggil. Dengan patuh aku menurut.
“Duduk di atas meja.” Meja itu dari kayu mahoni, besar dan kuat.

Jadi tanpa ragu aku membereskan apa yg ada, kecuali secangkir kopi dan semangkuk telur setengah matang itu. Aku duduk di hadapan Kak Edo.

“Naikin kakinya. Buka…” Aku menaikkan kakiku, kedua telapak kaki persis di pinggir meja. Tubuhku terbaring. Pahaku terlipat menempel betis. Mengangkang. Handukku tersibak terbuka. Vaginaku yg licin terpampang di hadapannya. Aku menanti. Kak Edo menyendok telur setengah matang yg hangat itu lalu mengucurkannya, persis di atas kelentitku. Satu sendok teh saja. Terasa hangat mengalir di bibir vaginaku.

Ia kemudian menunduk dan menjilat cairan kuning itu. Seketika aku seperti disetrum, tubuhku mengejang, tapi aku menahan diri dari bergerak atau bersuara. Hanya nafasku saja yg tersengal- sengal. Enaknya bukan main.

“Enak bukan main….” desah Kak Edo.

Ia menjilati vaginaku plus telur itu sampai bersih, lalu menuangkan lagi. Menjilatinya lagi. Vaginaku segera banjir oleh cairan cintaku, semuanya dijilat bersih. Kak Edo menuang lagi. Menjilat lagi. Menghisap kelentitku. Mengigit gemas bibir vaginaku. Aku tak tahan lagi. Ketika semangkuk telor setengah matang itu hampir habis, orgasme hebat melandaku.

“Aaaauuhhhh…. Tuaannnn….” aku tak tahan.

Terlalu enak. Terlalu gila, tdk pernah dibayangkan akan begini, tapi nyatanya luar biasa. Mungkin waktunya hanya semenit, tapi terasanya lama sekali, bergelombang, sesuatu yg tdk pernah kualami dalam hidup. Sesuatu terbuka dalam diriku. Tdk ada lagi batasan. Bagi lelaki ini, semuanya kuberikan. Aku duduk di atas meja. Kulihat tuanku sudah mengeluarkan penisnya, tegak mengacung.

Tanpa perintah kata-kata, aku tahu itu adalah tanda. Aku segera turun dari meja, mengangkanginya. Menurunkan tubuh, sekali lagi batang itu menghujam vaginaku yg licin basah setelah orgasme tadi. Rasanya kembali mengikat, mendorong, memelintir, merobek penahan, menghilangkan pembatas… Aku menari-nari dengan penis menancap di vaginaku. Aku menggoyang pinggul bak pedangdut, membuat putaran dan pelintiran serta erangan. Tuanku sungguh perkasa.

Setelah 2 kali hari ini, kekuatannya seperti makin bertambah, mengeras, memanjang. Memenuhi liangku. Memenuhi diriku. Mengambil hatiku. Walau aku hanya budak. Aku…. sekali lagi tangan yg kekar itu memegang pinggangku yg ramping erat-erat, menekan tubuhku ke bawah. Tertanam dalam, karena sedetik kemudian sekali lagi kunikmati denyut-denyut dan semburan di deoan mulut rahimku.

Aku terbenam dalam pelukannya, jatuh kelelahan dalam dekapannya. Malamnya, hujan lebat mengguyur Jakarta. Kami hanya berdua saja di sana, di ruang keluarga. Televisi menyala, berita diisi tentang genangan air dan banjir Ibukota. Kak Edo duduk di sofa. Seperti biasa, aku duduk bersimpuh di bawah. Mata ke televisi tapi pikiran dan badan masih terasa melayg, belum mendarat setelah tadi terbang berkali- kali.

“Sayang…”
“Ya tuan?”
“Lho, kok tuan?”
“Yaaa… kan saya pembantu…”
“Tapi aku cinta padamu!” Aku menunduk.

Aku juga cinta pada tuanku… Tapi aku duduk di tempat berbeda.

“Saya masih tetap hanya pembantu.”
“Aku tdk peduli! Aku cinta sama kamu!” Aku menunduk dalam- dalam. Air mata membasahi pipiku, mengalir, menetes.
“Saya tetap saja begini, tuan. Walau, saya juga… cinta. Tapi saya tdk berharap bisa lebih. Saya sudah bahagia kalau saya… kalau saya diterima. Kalau tuan mau meniduri saya… rasanya bahagia.”
“Jangan… jangan bilang begitu…” Aku tersenyum sedih.

Aku mengangkat wajah, memandangnya. Menatap matanya, lelaki yg telah mendapatkan seluruh hati dan tubuhku.

“Tuan kan hanya liburan. Nanti akan kembali lagi ke luar negeri. Saya tetap jadi pembantu di sini. Tuan nanti akan bertemu gadis lain, yg pasti cantik, dan pantas untuk tuan. Nanti tuan akan melupakan saya. Saya sudah bahagia bisa begini. Saya juga enak dan nikmat. Tapi kalau nanti tuan pergi dan lupa pada saya…. saya tdk akan melupakan tuan.” Kening tuanku berkerut.

Ia nampak marah. Astaga, apakah aku sudah berkata salah? Aku menjadi takut.

“Ma… maafkan saya, tuan. Saya sudah berkata lancang…” Tuanku terdiam.

Aku merasa tdk karuan.

“Permisi, tuan…” dengan gugup aku bangkit lalu kembali ke kamarku. Ambil baju dan handuk, aku terus kembali mandi. Mengenakan pakaian lengkap seperti biasa.

Tubuhku terasa lelah sekali… hari belum larut saat aku membenamkan wajahku di kasur. Di sanalah aku menangis sejadi-jadinya, hingga lelah dan ketiduran. Keesokan paginya, jam empat pagi aku bangun dengan pikiran kusut tak karuan. Merasa pantatku lembab. Pegang selangkangan… oh sial. Darah. Aku mens semalam, dan sekarang semuanya jadi kotor. Jadi pagi-pagi dihabiskan dengan mencuci celana dalam, daster, dan seprai. Darah mensku nampak tdk sekental biasanya… aku menemukan ada sisa lendir Kak Edo, yg sebelumnya dibenamkan dalam. Benihnya, keluar lagi semua. Hatiku makin muram…

Setelah membereskan kamar, aku mulai membersihkan rumah. Membersihkan bekas-bekas lendirku di meja makan, di kursi, di lantai. Membersihkan air mani Kak Edo di sana sini. Bersih tak berbekas, aku menyemprot dengan pembersih yg wangi lavender, kesukaan ibu, kesukaanku juga. Setelah itu mulai mempersiapkan dapur, memasak nasi, air panas… Aku mempersiapkan sarapan pagi. Untuk Kak Edo. Untuk… tuan. Matahari sudah terbit di balik awan mendung ketika aku memasuki kamarnya. Kak Edo masih tertidur pulas. Aku membawa senampan sarapan dan kopi panas itu, kuletakkan di meja sebelah ranjang.

Ah, memandang ranjang itu… kemarin aku membenamkan wajahku di sana, sementara penisnya terbenam di vaginaku… Aku tersenyum. Kenangan itu akan selalu kuingat, setiap aku memasuki ruang tidur untuk tamu ini. Aku terus duduk di lantai, di sisi ranjang. Memandang wajah yg tampan itu, berkhayal bahwa lelaki ini menjadi milikku. Ah, khayalan yg tdk akan pernah terwujud… tapi kukira aku masih boleh berkhayal, bukan? Walaupun mungkin nanti aku akan menjadi sedih. Mungkin Kak Edo tdk akan ingat lagi, kalau ia sudah kembali ke amerika. Ia berasal dari keluarga kaya raya. Sedang aku? Aku hanya punya tubuh ini, itupun sudah dinodai. Kak Edo membuka matanya. Aku tersenyum, menyambutnya di hari yg baru.

“Met pagi, tuan…”
“Met pagi…”
“Sarapan?”
“Ehm… ada kamu kan?”
“Kok ada saya?”
“Iya, saya mau sarapan kamu”
“Hihihi…. Saya bukan makanan, tuan. Itu, sarapan di atas meja.” Kak Edo mengkerutkan keningnya.
“Kok sekarang jadi terus menerus manggil tuan…?” Aku tertunduk.

Terdiam. Bagaimana aku bisa mengatakannya? Jika aku tdk menjadikannya tuan, maka… maka hatiku akan sakit. Bagaimana aku dapat memanggilnya sebagai kekasih, walaupun kini aku mencintainya dengan seluruh tubuh dan jiwaku?

“Aku cinta padamu,” Kak Edo duduk di tepi ranjangnya. Aku masih bersimpuh di lantai.
“Ini… maafkan aku. Mungkin seharusnya… aku tdk berbuat itu terhadapmu.”
“Berbuat apa?”
“Kemarin, kita… seks. Kamu tahu, di amerika, semua mudah berhubungan badan. Beberapa perempuan mengajakku juga. Kamu… mengerti?” Aku mengangguk.

Denyut jantungku makin cepat. Aku mengerti. Aku merasa… sakit. Membayangkan ia sedang menghujamkan penisnya ke vagina lain, terasa menyakitkan.

“Tapi, aku tdk pernah melakukannya.”
“Tdk pernah?” Aku mengejapkan mata.

Kak Edo mengatakan bahwa ia pertama kalinya meniduri perempuan… tapi aku kira ia bercanda. Atau bermaksud lain. Bagaimana bisa baru pertama, kalau kemarin sudah sehebat itu?

“Tdk pernah. Aku tahu, teman-temanku sudah melakukannya. Kami sudah, well, sering nonton pasangan yg begituan di sana sini. Teman sekamarku melakukannya di ranjang sebelah ranjangku. Perempuan lain pernah mengajakku, bahkan mereka sudah… yah, menggunakan mulutnya. Tapi, aku belum pernah meniduri perempuan. Karena aku belum pernah mencintai perempuan, seperti aku mencintaimu. Karena itu… jadilah kekasihku. Aku bukan… aku bukan tuan. Aku tdk ingin menjadi tuan. Aku mencintai kamu.”
“Tapi… nanti akan kembali ke amerika dan… dan saya masih di sini….”
“Kuliah itu paling lama hanya dua tahun lagi. Tunggulah, ya? Aku akan kembali untukmu. Sungguh.” Aku menggelengkan kepala. “Jangan… saya tdk pantas. Saya hanya pembantu. Apa kata keluarga, apa kata Bapak dan Ibu? Mereka juga… pasti punya harapan untuk tuan, untuk… Kak Edo. Bagaimana kalau mereka melihat kita… jalan berdua? Tdk mungkin… saya hanya… pembantu.” Aku memejamkan mata. Kurasakan nafas hangat di pipiku.

Bibir hangat mencium pipiku, mencium air mataku. Aku masuk dalam pelukannya.

“Kita sudah jadi… setubuh. Masih aku rasakan. Kamu masih ingin?” Aku menggeleng.

Kak Edo mendadak nampak khawatir.

“Kenapa?”
“Saya… semalam saya datang bulan.”
“Oh… mens ya?” Aku mengangguk.

Kak Edo tersenyum,

“Kalau begitu, kita berpelukan saja seharian ini.” Aku tdk tahu harus berkata apa.

Untuk sementara, hari- hari ini adalah hari bahagiaku. Biarlah… jika waktu berlalu, entah kemana nasibku melaju. Aku mau jadi budaknya… menjadi yg lain pun, aku bersedia.