Cerita Porno 1 Lawan 3

Diposting pada

Selamat datang di Cerita Porno Persembahan sukaporno. Saat ini Team Cerita Porno ingin membagikan cerita yang berjudul Cerita Porno 1 Lawan 3. Selalu dapatkan Cerita Terbaru dari kami dengan membookmark halaman website kami dengan menekan tombol CTRL + D.

Cerita Porno 1 Lawan 3

bandar sakong   bandar kiu kiu

Cerita Porno 1 Lawan 3

Sesal yang datang selalu, tak kan membuatmu kembali, maafkan aku yang tak pernah tau hingga semuanyapun kini tlah berlalu, maafkan aku.

Namaku Patrick dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku.

Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Jho’oon shira. Jho’oon yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain komputer, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),

“Bisa saya bantu?” kataku kepada mereka.

“Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Jho’oon dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.”

Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.

“Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya,” jawabku.

“Memangnya kalian tidak tahu kalau si Jho’oon sedang pulang kampung dua hari yang lalu?” lanjutku lagi.

Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab,

“Kurang ajar si Jho’oon, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!”

“Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih,” yang berwajah oriental protes.

“Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Jho’oon,” sekarang bule bermata biru nyeletus.

Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga.

“Iya deh, sekalian numpang minum,” kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.

“Nama saya Patrick,” kataku.

“Kei’rien,” kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).

Yang berambut panjang menyusul,

“Meywan,” (Campuran Italia dengan Inggris).

“Saya There,” gadis bermata biru ini asal Jerman.

“Patrick, kamu berasal dari mana?” lanjutnya.

“Jakarta, Indonesia,” jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.

Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Kei’rien dan There sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.

“Aduh, panas sekali nich?!” si Meywan ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Meywan sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si There,

“Patrick, boleh kami main internetnya?”

“Silakan,” jawabku.

Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.

“Mau nge-chat yah?” tanyaku sambil tersenyum pada si Meywan.

“Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan,” lanjut Meywan lagi.

“Eh, kaliankan masih di bawah umur?” kataku mencoba untuk protes.

“Paling umur kalian 17 tahun kan?” sambungku lagi.

Kei’rien menyambut, “Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja.” Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Meywan, si There datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar “dewasa” yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Kei’rien duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Kei’rien yang lebih putih dari punyanya si Meywan. Kemaluanku terasa berdenyut. Setengah kencang.

Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki kemaluan besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan kemaluan laki-laki putih yang tak kalah besar kemaluannya dengan kemaluan si negro itu. Terasa kemaluanku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Meywan menghampiri kami berada, karena si There dan Kei’rien tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Kei’rien tersentuh kemaluanku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya,

“Ada apa?” There menjawab, “Kei’rien bilang, sikutnya terbentur kemaluanmu,” katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab,

“Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal.” Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak kemaluanku. Si There bertanya padaku sambil tersipu,

“Patrick, boleh nggak kalau kami lihat kemaluanmu?”

Aku tersentak dengan pertanyaan itu.

“Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.”

(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).

“Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji,” si Meywan mewakili mereka.

“Please Patrick!” sambungnya.

“Oke, tapi jangan diketawain yah!” ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak kemaluanku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.

“Gila gede banget!” kata mereka hampir berbarengan lagi.

“Nah! Sekarang apa lagi?” tanyaku.

Tanpa menjawab Kei’rien dan Meywan menghampiriku, sedangkan There masih berdiri tertegun memandang kemaluanku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya.

“Boleh kupegang Patrick?” tanya Kei’rien sambil jari telunjuknya menyentuh kepala kemaluanku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab,

“Uuuh…” karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang There masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Meywan yang sedang mencoba menggenggam kemaluanku, dan aku merasa sedikit sakit karena Meywan memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Meywan, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku,

“Kamu punya film dewasa Patrick?” Sambil terbata-bata kusuruh There untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta There lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap kemaluannya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si There menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala kemaluanku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Kei’rien di bagian kepala dan lidah Meywan di bagian bijiku.

“Uuh… ssshh… uuuhh… ssshhh…” aku merasa nikmat.

Kupanggil There ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas There memburu.

“Patrick… ooohh… Patrick… terusss… ooohhh…” nikmat There terdengar.

Kemudian terasa setengah kemaluanku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Kei’rien sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.

“Slep… slep… chk… chk…”

Itulah yang terdengar paduan suara antara kemaluanku dan mulut Kei’rien. Meywan masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar There menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Meywan untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.

“Aaahhh… Patrick… aaahhh… enak Patrick… teruskan… aaahhh… terussss Patrick!” jerit Meywan.

Ternyata There sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah kemaluannya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah kemaluan There, terasa menggigil kemaluan There.

“Aaaahhh…” There sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan kemaluanku terasa semakin kencang di mulut Kei’rien, sedangkan mulutku belepotan di depan kemaluan Meywan, karena Meywan tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi,

“Aahhh…” Sambil meninggalkan kemaluan Meywan, kutarik kepala Kei’rien dan menekannya ke arah kemaluanku. Terdengar,

“Heeerrkk…” Rupanya Kei’rien ketelak oleh kemaluanku dan mencoba untuk melepaskan kemaluanku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah kemaluanku. Akhirnya gelengannya melemah Kei’rien malah memaju mundurkan kepalanya terhadap kemaluanku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali,

“Sudah… sudah… aku ngiluuu… sudah…” pintaku. Tapi Kei’rien masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Kei’rien, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Kei’rien menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya,

“I Love you, Patrick!” aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata,

“Thank you Kei’rien!”

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat There sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Meywan yang ternganga memandang ke arahku dan Kei’rien. Mungkin Meywan mendengar apa yang telah diucapkan oleh Kei’rien. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami.

Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Kei’rien. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Kei’rien lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar There dan Meywan sudah jarang bergaul dengan Kei’rien. TAMAT

Google Trends:

bandar sakong   bandar kiu kiu